Universitas `Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta terus membuktikan komitmennya dalam menjaga kualitas tata kelola pendidikan berstandar internasional. Pada Jumat (20/02/2026), kampus terakreditasi unggul ini resmi membuka agenda Resertifikasi ISO 9001:2015 dan ISO 21001:2018 yang dipusatkan di Ruang Sidang Gedung Siti Moendjijah.
Kualitas Perguruan Tinggi
Langkah strategis ini diambil bukan sekadar untuk formalitas di atas kertas. Rektor UNISA Yogyakarta, Dr. Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat, menegaskan bahwa proses resertifikasi ini sangat krusial. Tujuannya adalah untuk mengintegrasikan manajemen risiko pada setiap denyut aktivitas dan proses pengambilan keputusan di kampus.
“Untuk dapat mengintegrasikan manajemen risiko dengan baik, perlu pemahaman yang sama dari seluruh pimpinan di level Universitas, Fakultas, Prodi, hingga unit supporting. Dengan ISO ini, kita bisa menentukan kesesuaian dengan kriteria audit, serta mengevaluasi sistem manajemen guna memastikan UNISA Yogyakarta memenuhi standar mutu utama,” tutur Warsiti dengan tegas.
Agenda yang dijadwalkan berlangsung selama dua hari, dari tanggal 20 hingga 21 Februari 2026 ini, terpantau berjalan lancar. Sebanyak 3 Auditor ISO Agung Kristanto, S.T., M.T., Ph.D Lentera Sukma Mahardika,S.I.P., M.A dan Muhammad Rudiyanto Alif, M.T. diterjunkan langsung untuk membedah dan mengevaluasi sistem manajemen di lingkungan kampus.
Para peserta yang hadir dan siap diaudit mencakup seluruh jajaran pimpinan tingkat Universitas, Fakultas, Program Studi, Unit Kerja, hingga tim Penjamin Sistem Mutu tingkat Fakultas dan Prodi.
Melalui proses audit komprehensif ini, UNISA Yogyakarta menargetkan tata kelola institusi yang semakin efektif, efisien, dan transparan. Keberhasilan mempertahankan sertifikasi bergengsi ini nantinya akan semakin memperkokoh posisi UNISA sebagai perguruan tinggi terkemuka yang siap mencetak lulusan berdaya saing global dengan basis mutu yang tak bisa dipandang sebelah mata.
Memasuki pertengahan tahun akademik, Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta langsung tancap gas bahas strategi. Seluruh jajaran pimpinan dari berbagai unit kerja di lingkungan kampus berkumpul di Ruang Sidang Gedung Siti Moendjijah untuk melangsungkan pembukaan Rapat Kerja Tengah Tahun (RKTT) pada hari ini, Senin (23/02/2026).
Bahas Strategi
Rapat strategis yang diagendakan berlangsung selama dua hari, yakni 23 hingga 24 Februari 2026 ini, difokuskan untuk membedah, mengevaluasi, dan menyinergikan program lintas unit. Rektor UNISA Yogyakarta, Dr. Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat, menegaskan bahwa ego sektoral harus ditekan demi mencapai target kampus secara keseluruhan.
“Berorientasi pada mutu dan keberlanjutan, RKTT ini menjadi penunjuk arah pada pelaksanaan program di semester akhir ini. Kita harus mencermati program antar-unit sehingga terjadi kolaborasi yang menghasilkan capaian jauh lebih baik,” tutur Warsiti dalam sambutannya.
Menariknya, tak hanya berfokus pada target akademik dan tata kelola anggaran, RKTT kali ini juga menyoroti pentingnya fondasi spiritual dalam budaya kerja. Wakil Rektor IV UNISA Yogyakarta, Dr. Ali Imron, M.Fis, mengingatkan pentingnya implementasi nilai tauhid dalam ritme pekerjaan sehari-hari.
“Mari kita bersama-sama mengimplementasikan Tauhid. Segala keputusan organisasi harus kita lakukan dengan baik. Seperti pengelolaan keuangan yang lebih efektif dan efisien, itu adalah bentuk nyata dari Tauhid fungsional dan organisatoris,” tegas Imron.
Melalui RKTT 2026 ini, jajaran pimpinan UNISA Yogyakarta diharapkan semakin solid dan siap mengeksekusi program kerja dengan prinsip tata kelola yang profesional, efisien, serta bernafaskan nilai-nilai keislaman.
Menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan 1447 H berarti tubuh tidak akan mendapatkan asupan makanan dan cairan selama lebih dari 12 jam, jika tidak disiasati dengan benar, ancaman dehidrasi, bibir pecah-pecah, sakit kepala, hingga badan lemas siap mengintai umat muslim yang sedang berpuasa.
Dehidrasi
Dehidrasi merupakan salah satu risiko kesehatan yang perlu diwaspadai saat berpuasa. Seringkali, banyak orang yang salah kaprah dengan langsung menenggak air berliter-liter saat sahur atau berbuka. Padahal, cara tersebut justru membuat perut kembung dan ginjal bekerja terlalu keras. Lalu, bagaimana cara memenuhi kebutuhan cairan 8 gelas sehari dengan waktu yang terbatas?
Solusi paling cerdas dan praktis untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi di mana pun kalian berada adalah dengan menerapkan Rumus 2-4-2.
Apa Itu Rumus 2-4-2 dan Bagaimana Cara Kerjanya?
Pakar kesehatan sangat menyarankan metode pembagian jadwal minum air putih ini. Tujuannya agar cairan diserap secara bertahap dan optimal oleh tubuh. Berikut panduan praktisnya:
2 Gelas Saat Berbuka: Minum 1 gelas air putih hangat sesaat setelah azan maghrib berkumandang untuk membatalkan puasa. Lalu, lanjutkan dengan 1 gelas lagi setelah makan takjil ringan atau selepas salat Maghrib untuk mengembalikan kelembapan tubuh.
4 Gelas Sepanjang Malam: Jangan lupakan hidrasi malam hari! Cicil 4 gelas air putih dengan jadwal: 1 gelas setelah makan malam, 1 gelas sebelum salat Tarawih, 1 gelas setelah Tarawih, dan 1 gelas lagi menjelang tidur malam.
2 Gelas Saat Sahur: Minum 1 gelas saat baru bangun tidur sebelum menyantap hidangan sahur, dan akhiri dengan 1 gelas air putih hangat menjelang waktu imsak tiba sebagai bekal cairan seharian.
Dengan disiplin menerapkan rumus asupan air putih 2-4-2 ini selama bulan puasa, ibadah Anda dijamin lebih lancar, fokus tetap terjaga, dan pastinya anti lemas!
https://www.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2026/02/dehidrasi.jpg7681408adminhttps://media.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2024/01/Logo-Unisa_Horisontal_bg_putih.pngadmin2026-02-20 21:09:482026-02-20 21:09:52Awas Dehidrasi! Ini Cara Mengatur Asupan Air Putih Saat Puasa dengan Rumus 2-4-2
Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta kembali menggelar kegiatan Ta’awun Sosial dengan tema “Equal Piety: Mewujudkan Kesalehan yang Menyatukan Kesetaraan dan Kemajuan” di halaman Convention Hall Unisa Yogyakarta, Jumat (20/2/2026). Agenda ini menjadi wujud nyata kehadiran Unisa Yogyakarta di tengah masyarakat.
Ta`awun Sosial
Kegiatan Ta’awun Sosial 2026 diisi dengan pembagian sembako, cek keseatan gratis, serta pembagian sayuran kepada warga sekitar kampus. Ratusan masyarakat dari berbagai dusun di sekitar Unisa Yogyakarta tampak antusias mengikuti kegiatan yang rutin digelar setiap tahun tersebut.
Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Urusan Internasional Unisa Yogyakarta, Ali Imron, menegaskan bahwa keberadaan Unisa Yogyakarta di Kabupaten Sleman harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.
“Unisa menyadari bahwa keberadaan kami di Sleman harus relevan dan bermanfaat bagi wilayah Sleman dan sekitarnya. Maka kegiatan seperti ini bukan hanya hari ini saja, tetapi menjadi bagian dari komitmen kami,” ujarnya.
Ia mencontohkan sejumlah program kolaboratif yang telah dilakukan, diantaranya pemberian beasiswa bagi anak-anak Sleman bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sleman. Mekanisme pendaftaran dilakukan melalui Pemkab Sleman agar tepat sasaran.
Selain itu, Unisa Yogyakarta juga terus mengembangkan layanan kesehatan untuk masyarakat. “Kami baru membangun rumah sakit di Panjatan (Kulon Progo). Ada juga klinik di kampus ini yang jangkauannya akan kami perluas,” kata Imron.
Imron menambahkan, semangat ta’awun atau tolong-menolong merupakan bagian dari ajaran Muhammadiyah yang diwariskan KH Ahmad Dahlan. Menurutnya, ibadah tidak hanya dimaknai sebatas salat, puasa, dan haji. “Tapi termasuk kita bekerja di masyarakat, membangun masyarakat bersama-sama,” ujar Imron.
Menyadari hidup berdampingan dengan masyarakat, Imron berharap Unisa Yogyakarta terus memberi kontribusi positif. Ia pun memintaa maaf jika ada suatu hal yang tidak berkenan di masyarakat.
Sementara itu, Kepala Dusun Cambahan, Solihin Nurcahyo, mewakili para kepala dusun di sekitar Unisa Yogyakarta, menyampaikan apresiasi atas konsistensi kampus tersebut dalam menggelar kegiatan sosial. “Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Unisa Yogyakarta yang tiap tahun mengadakan ta’awun sosial,” ungkapnya.
Ia berharap cita-cita mewujudkan kesalehan dan kemajuan dapat terlaksana dengan baik serta mendapat ridha Allah SWT. “Semoga menjadi kebaikan dan menjauhkan kita dari larangan-Nya. Mari senantiasa meningkatkan iman dan takwa, agar kewajiban kita bisa dijalankan dengan baik,” katanya.
Solihin juga menyebutkan bahwa masyarakat menerima kehadiran mahasiswa Unisa yang tinggal di kos dan kontrakan di wilayah sekitar kampus sebagai bagian dari ekosistem sosial yang perlu dijaga bersama. “Semoga apa yang mereka cita-citakan bisa terwujud dengan baik,” kata Solihin.
Senada, salah satu warga Karangtengah, Sumiyani, mengaku senang dengan adanya kegiatan Ta’awun Sosial. “Masyarakat gembira, senang ada kegiatan seperti ini setiap tahun. Sangat membantu, apalagi menjelang Lebaran,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara rutin, karena dinilai membantu warga. Termasuk membantu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan persiapan hari raya.
https://www.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2026/02/taawun-sosial-1.jpg13332000adminhttps://media.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2024/01/Logo-Unisa_Horisontal_bg_putih.pngadmin2026-02-20 13:37:452026-02-20 13:37:48Ta’awun Sosial Unisa Yogyakarta, Wujud Nyata Kehadiran Kampus Bagi Warga
Ramadhan selalu dipahami sebagai bulan pengendalian diri. Lapar dan dahaga bukan sekedar ritual fisik, melainkan latihan etis untuk menata hasrat, menguatkan empati, dan menumbuhkan solidaritas sosial. Namun dalam praktik sosial modern, bulan yang sarat dengan pesan kesederhanaan ini justru kerap menjadi puncak konsumsi tahunan. Meja makan semakin penuh, belanja kebutuhan meningkat, dan perputaran ekonomi melonjak tajam. Di sinilah muncul ironi, puasa mengajarkan kesederhanaan, tetapi praktik sosial sering kali menunjukkan kecenderungan ekspansi konsumsi.
Puasa Ramadhan
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pola yang hampir berulang setiap tahun. Menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, harga bahan pangan meningkat. Beras, telur, daging ayam, bawang, dan cabai menjadi penyumbang inflasi musiman. Permintaan melonjak dalam waktu singkat. Secara ekonomi, hal ini dianggap wajar bahkan positif karena mendorong perputaran uang. Namun di balik angka-angka itu, ada realitas yang lebih sunyi, yaitu keluarga yang harus mengurangi belanja karena harga naik.
Ramadhan seharusnya menjadi bulan solidaritas, ketika rasa lapar menumbuhkan empati terhadap mereka yang hidup dalam keterbatasan, namun ketika konsumsi berlebihan justru mendorong kenaikan harga bahan pokok, kelompok rentanlah yang paling merasakan dampaknya. Bagi mereka, kenaikan harga berarti harus mengurangi belanja bahkan menekan kebutuhan lainnya. Persoalan konsumsi di bulan suci ini bukan sekadar soal gaya hidup atau tradisi, melainkan menyangkut ketahan pangan dan keadilan akses terhadap kebutuhan dasar.
Konsumsi, Ketahanan Pangan, dan Tanggung Jawab Sosial
Ketahanan pangan pada dasarnya menyangkut ketersediaan yang cukup, akses yang adil, serta stabilitas harga. Ketika permintaan meningkat tajam, sistem pangan menghadapi tekanan distribusi dan fluktuasi harga. Pemerintah berupaya menjaga kestabilan harga dan pasokan pangan dengan berbagai cara, seperti menggelar operasi pasar, memperkuat cadangan bahan pokok, dan mengawasi jalur distribusi agar tidak terjadi penimbunan atau lonjakan harga yang tidak wajar. Namun kebijakan stabilisasi tidak dapat bekerja optimal tanpa dukungan perilaku konsumsi yang rasional.
Masalah menjadi lebih kompleks ketika kita melihat fakta pemborosan pangan. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2026 mencatat bahwa 40,71% sampah nasional berasal dari sisa makanan, menjadikannya komponen terbesar dalam timbulan sampah Indonesia. Laporan Bappenas (2021) memperkirakan timbulan food loss and waste Indonesia mencapai puluhan juta ton per tahun. Angka ini menunjukkan bahwa persoalan pangan bukan hanya soal produksi dan distribusi, tetapi juga soal pola konsumsi.
Dalam praktik keseharian Ramadhan, pemborosan kerap terjadi tanpa disadari. Keinginan menyajikan hidangan terbaik, tradisi berbuka bersama, atau dorongan psikologis untuk mengganti rasa lapar sering berujung pada kelebihan porsi. Ketika makanan terbuang, bukan hanya nilai ekonominya yang hilang, tetapi juga sumber daya yang digunakan untuk memproduksinya.
Dengan demikian, paradoks konsumsi selama Ramadhan tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan moral individual. Ia terkait dengan tata kelola sistem pangan secara lebih luas. Perilaku konsumsi masyarakat dan kebijakan publik saling berkelindan membentuk stabilitas atau kerentanannya.
Dimensi Lingkungan dan relevansi Nilai Kesederhanaan
Selain berdampak pada sistem pangan, pemborosan makanan juga berkontribusi terhadap persoalan lingkungan. Limbah organik yang membusuk menghasilkan gas metana, salah satu gas rumah kaca yang berperan dalam pemanasan global. Di sisi lain, peningkatan konsumsi selama Ramadhan juga sering diikuti kenaikan penggunaan kemasan sekali pakai dan sampah plastik.
Dalam situasi perubahan iklim dan tekanan terhadap sumber daya alam, pola konsumsi berlebihan memiliki implikasi jangka panjang. Setiap makanan yang terbuang mengandung jejak ekologis seperti air untuk irigasi, energi untuk produksi dan transportasi, serta lahan pertanian yang semakin terbatas.
Di sinilah puasa menemukan relevansinya secara sosial-ekologis. Puasa mengajarkan pengendalian diri dan keseimbangan. Dalam ajaran Islam, larangan berlebih-lebihan (israf) menegaskan pentingnya moderasi dalam konsumsi. Nilai ini sejalan dengan gagasan keberlajutan yang kini menjadi agenda global.
Ramadhan dapat dimaknai sebagai momentum pembelajaran kolektif bahwa kecukupan lebih penting daripada kelimpahan, dan bahwa tanggung jawab terhadap sesama serta lingkungan dimulai dari pilihan-pilihan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Merencanakan belanja secara bijak, memasak sesuai kebutuhan, serta mengelola sisa makanan dengan lebih bertanggung jawab adalah bentuk konkret dari internalisasi nilai tersebut.
Pada titik inilah, puasa dan paradoks konsumsi adalah refleksi tentang bagaimana nilai spiritual bertemu dengan realitas ekonomi modern. Tantangannya bukan pada ritualnya, melainkan pada transformasi perilaku yang mengikutinya. Jika pengendalian diri yang dilatih selama Ramadhan benar-benar hadir dalam kehidupan sosial, maka bulan ini bukan hanya memperkuat spiritualitas individu, tetapi juga berkontribusi pada ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan. Di tengah dinamika ekonomi dan krisis ekologis global, mungkin inilah makna puasa yang paling kontekstual, yaitu belajar merasa cukup, agar yang lain juga dapat hidup cukup.