Pos

Wisuda

Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menggelar Wisuda Periode ke-25 Tahun Akademik 2025/2026 di Convention Hall Masjid Walidah Dahlan, Kamis (18/12/2025). Sebanyak 181 lulusan dari jenjang magister, sarjana, sarjana terapan, dan diploma resmi dikukuhkan.

Rektor UNISA Yogyakarta Dr. Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat. mengatakan, wisuda bukan sekadar capaian akademik, melainkan amanah untuk mengimplementasikan ilmu, keterampilan, dan karakter di tengah masyarakat. Menurutnya, lulusan UNISA Yogyakarta dituntut memiliki daya lenting, kemampuan adaptasi, serta kepekaan terhadap perubahan sosial.

“Capaian akademik penting, namun belum cukup. Lulusan harus mampu membaca perubahan zaman dan kebutuhan masyarakat,” ujar Warsiti dalam sambutannya.

Wisuda

Pada wisuda kali ini, 25 persen lulusan meraih predikat cumlaude. IPK tertinggi program sarjana mencapai 3,99, dengan IPK rata-rata 3,50, sementara IPK tertinggi program diploma 3,88. Adapun masa studi tercepat program sarjana tercatat 3 tahun 3 bulan 7 hari.

Kepala LLDIKTI Wilayah V, Prof. Setyabudi Indartono, menekankan pentingnya kesiapan lulusan menghadapi dunia kerja yang dinamis. Ia berpesan agar lulusan terus belajar, fleksibel mengikuti perkembangan zaman, serta menjaga nama baik almamater.

“Wisuda ini bukan hanya hasil kerja keras mahasiswa, tetapi juga doa dan dukungan orang tua. Karena itu, lulusan harus siap menghadapi transformasi digital, memahami tren kesehatan global, dan menguasai kompetensi hybrid, baik hard skill maupun soft skill,” katanya.

Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Dr. Apt. Salmah Orbayinah, M.Kes., menyatakan UNISA Yogyakarta membekali mahasiswa tidak hanya dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga kemampuan kepemimpinan, kolaborasi, dan kewirausahaan, disertai penguatan nilai spiritual Islam dan Kemuhammadiyahan.

“Perpaduan ilmu dan nilai menjadi bekal agar lulusan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Di sela prosesi wisuda, UNISA Yogyakarta juga menggelar doa bersama untuk korban bencana di Sumatra dan sekitarnya, yang dipimpin Wakil Rektor IV Dr. M. Ali Imron, M.Fis.Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan penggalangan donasi dari para wisudawan sebagai bentuk kepedulian sosial.

Wisuda ini menegaskan komitmen UNISA Yogyakarta dalam menyiapkan lulusan yang adaptif, berkarakter, dan siap berkontribusi di tengah tantangan global.

Tbc

Perang melawan Tuberkulosis (TBC) di Indonesia ternyata menghadapi tembok tebal bernama stigma. Seringkali, pandangan miring dan pengucilan dari lingkungan sosial justru lebih menyakitkan bagi pasien daripada penyakitnya sendiri. Isu krusial inilah yang dibedah tuntas oleh Universitas `Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta.

Bekerja sama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY, UNISA gelar Seminar Nasional bertajuk “Seminar Akhir Tahun: Akhiri Stigma, Akhiri TBC”. Acara yang digelar secara hybrid ini memadati ruang sidang Gedung Siti Moendjijah, Rabu (17/12/2025).

Sebanyak 180 peserta yang hadir diajak untuk membuka mata bahwa penderita TBC membutuhkan dukungan, bukan hujatan. Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKes) UNISA Yogyakarta, Dr. Dewi Rokhanawati, S.SiT., M.PH, menyoroti fenomena ketakutan masyarakat yang berlebihan.

“Penderita TBC bukanlah sosok hantu yang menakutkan, tetapi stigma yang ada terkadang membuat mereka dihindari. Tema hari ini sangat relevan karena kasus TBC masih sangat banyak dijumpai, dan obat pertama adalah dukungan sosial,” tegas Dewi.

Dukungan Adalah Kunci Kesembuhan

Senada dengan Dewi, Kepala Dinas Kesehatan DIY, dr. Gregorius Anung Trihadi, MPH , memberikan peringatan keras. Ia menegaskan bahwa stigma negatif dapat menghambat proses pengobatan. Pasien yang malu atau takut dikucilkan cenderung menyembunyikan penyakitnya, yang akhirnya justru memperparah penularan.

“Jangan sampai kita memberikan stigma kepada penderita TBC. Dukungan moral sangat penting untuk keberhasilan pengobatan mereka,” ujar Anung.

Hadirkan Saksi Hidup dan Pakar

Seminar ini tidak main-main dalam menghadirkan narasumber. Empat perspektif berbeda dihadirkan untuk mengupas tuntas TBC dari sisi medis, psikologis, hingga pengalaman nyata.

Mereka adalah dr. Hendris Utama Citra W, Sp.P. (Spesialis Paru RSUP dr. Sardjito), Firra Berlinawati, S.Psi., Psikolog (Psikolog Klinis), Suratini, S.Kep., Ns, M.Kep., Sp.Kom (Dosen Keperawatan UNISA), dan yang paling menyentuh hati, Eny Suryaningsih (Penyintas TBC).

Kehadiran Eny sebagai penyitas memberikan gambaran nyata betapa beratnya perjuangan sembuh di tengah stigma masyarakat. Seminar ini diharapkan menjadi titik balik bagi mahasiswa dan masyarakat umum untuk berhenti melabeli penderita TBC, dan mulai merangkul mereka agar Indonesia bebas TBC.

Kompetisi religi

Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta kembali menyalakan denyut syiar Islam melalui rangkaian kompetisi religi yang penuh semangat dan makna. Menyambut Milad Muhammadiyah ke-113, Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI) UNISA Yogyakarta menghadirkan tiga cabang perlombaan: Adzan, Tahfidz Quran, dan Tilawah Quran. Selama dua hari, 8–9 Desember 2025, sebanyak 85 peserta berpartisipasi, menjadikan Masjid Walidah Dahlan dipenuhi lantunan ayat suci, suara merdu, dan semangat berfastabiqul khairat.

Kompetisi Religi

Lebih dari sekadar mencari juara, kegiatan ini merupakan wujud nyata komitmen LPPI UNISA dalam menumbuhkan generasi muda yang paripurna. UNISA meyakini bahwa mahasiswa unggul bukan hanya mereka yang berprestasi secara akademik, tetapi juga yang memiliki ketajaman rohani, kedalaman pemahaman agama, serta kecintaan mendalam terhadap Al-Qur’an. Melalui ajang ini, LPPI memberi ruang seluas-luasnya bagi mahasiswa untuk tumbuh, berkarya, dan membuktikan bahwa kecemerlangan intelektual dapat berjalan beriringan dengan kedewasaan spiritual—menjadi pilar peradaban yang religius dan berkarakter.

“Lomba ini bukan sekadar ajang kompetisi dalam rangka menyemarakkan Milad Muhammadiyah ke-113, tetapi juga merupakan ikhtiar untuk semakin mendekatkan civitas akademika UNISA Yogyakarta dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kompas kehidupan yang menuntun manusia menuju jalan kebenaran. Melalui kegiatan ini, kita berharap Al-Qur’an tidak hanya dihafal secara lisan, tetapi juga dihayati maknanya dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Ketua LPPI UNISA Yogyakarta, Dr. M. Nurdin Zuhdi, S.Th.I., M.S.I., dalam sambutan pembukaan lomba yang diselenggarakan pada Senin, 8 Desember 2025, di Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta.

Rangkaian acara dibuka dengan penuh khidmat, diawali oleh sambutan inspiratif dari Ketua LPPI UNISA Yogyakarta, Dr. M. Nurdin Zuhdi, S.Th.I., M.S.I. Dalam sesi pembukaan, khususnya pada cabang lomba Tahfidz, Dr. Nurdin menyampaikan pesan yang menyentuh hati para peserta. Beliau menekankan bahwa definisi kemenangan bukan hanya terletak pada skor akhir, melainkan pada keberanian untuk memulai.

“Bagi saya, kalian semua yang hadir di sini, yang telah memberanikan diri, meluangkan waktu di tengah kesibukan kuliah, dan mendaftar lomba ini, kalian sudah disebut sebagai juara,” tegas Dr. Nurdin di hadapan para peserta.

Beliau menambahkan bahwa langkah pertama untuk tampil di depan umum adalah kemenangan terbesar melawan ego dan rasa takut dalam diri sendiri. “Para peserta ini sudah mau melawan dan menaklukkan egonya. Maka, siapapun nanti yang menang, apapun hasilnya, jangan pernah merasa minder atau pesimis. Sesungguhnya tidak ada kata gagal dalam kamus pembelajar, yang ada adalah kita sedang berproses untuk menjadi lebih baik,” tambahnya memberikan motivasi.

Nasehat dan arahan ini menjadi suntikan semangat yang luar biasa, mengubah ketegangan kompetisi menjadi atmosfer persaudaraan (ukhuwah) untuk saling menginspirasi dan meningkatkan kualitas diri. Harapannya, lomba religi seperti ini dapat terus diselenggarakan di tahun-tahun yang akan datang. Selamat Milad Muhamamdiyah yang ke-113.  Muhammadiyah terus memajukan kesejahteraan bangsa.

Relawan kesehatan

Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta mengirimkan tim relawan kesehatan ke Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, dalam rangka pelaksanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Tanggap Darurat Bencana Tahun 2025. Program ini dilaksanakan sebagai respons atas bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut, khususnya di Kecamatan Sorkam, serta didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

Tim relawan diberangkatkan pada Selasa, 16 Desember 2025, dan akan menjalankan misi kemanusiaan selama 15 hari hingga 30 Desember 2025. Program ini mengusung tema “Penguatan Kesehatan Komprehensif dan Resiliensi Tanggap Bencana bagi Kelompok Rentan melalui Model Desa Siaga Inklusif di Kabupaten Tapanuli Tengah”. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen UNISA Yogyakarta dalam memperkuat peran perguruan tinggi dalam penanganan bencana berbasis kesehatan dan pemberdayaan masyarakat.

Relawan Kesehatan

Tim PKM UNISA Yogyakarta terdiri atas dosen dan mahasiswa lintas disiplin ilmu kesehatan, yang dipimpin oleh dr. Joko Murdiyanto, Sp.An-TI., MPH. Tim melibatkan tenaga medis dan tenaga kesehatan dari bidang kedokteran, keperawatan, fisioterapi, dan gizi, serta mahasiswa profesi yang akan terjun langsung mendampingi masyarakat terdampak.

Ketua tim pelaksana, dr. Joko Murdiyanto, menjelaskan bahwa kondisi geografis Tapanuli Tengah yang rawan bencana, ditambah dampak Siklon Tropis Senyar pada akhir 2025, menyebabkan banyak wilayah terisolasi dan minim akses layanan kesehatan. “Fokus utama kami adalah kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil dan menyusui, anak-anak, penyandang disabilitas, serta keluarga miskin yang sangat membutuhkan pendampingan kesehatan secara cepat dan komprehensif,” ujarnya.

Selama pelaksanaan program, tim relawan UNISA Yogyakarta akan melakukan berbagai kegiatan, di antaranya rapid assessment kesehatan bagi kelompok rentan, pendirian posko kesehatan darurat di lokasi pengungsian, pemeriksaan kesehatan holistik, serta penyaluran bantuan obat-obatan dan alat kesehatan ke posko maupun puskesmas terdampak. Selain itu, tim juga memberikan bantuan hygiene kit, alat bantu disabilitas dan lansia, serta membangun bilik laktasi bagi ibu menyusui di pengungsian.

Ketua LPPM UNISA Yogyakarta, Dinar Mindrati Fardhani, S.P., M.Biotech., Ph.D., menegaskan bahwa program ini tidak hanya bersifat tanggap darurat, tetapi juga bertujuan memperkuat resiliensi masyarakat melalui pendekatan Desa Siaga Inklusif. “Kami berharap kehadiran tim UNISA Yogyakarta dapat memberikan manfaat nyata sekaligus memperkuat kolaborasi dengan MDMC/LRB Muhammadiyah dan pemerintah daerah setempat,” jelasnya.

Melalui program PKM Tanggap Darurat Bencana ini, UNISA Yogyakarta menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi berwawasan kesehatan dan islami yang aktif berkontribusi dalam penanganan bencana serta penguatan layanan kesehatan bagi masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.

Perceraian

Berita tentang perceraian selebriti semakin marak di media selama dua tahun terakhir. Fenomena ini tidak hanya menandai pergeseran dinamika rumah tangga tokoh publik, tetapi juga menunjukkan bagaimana masyarakat mengikuti pola pengasuhan anak yang berkembang setelah pasangan berpisah. Dalam berbagai laporan, selebriti tampak menjalani peran sebagai orang tua tunggal, dan representasi inilah yang diamati publik. Sebagai figur gaya hidup, keluarga para selebriti ini memengaruhi bagaimana masyarakat menafsirkan struktur keluarga modern. Karena media semakin menggambarkan pengasuhan yang berpusat pada ibu, hal ini berkontribusi pada persepsi bahwa berkurangnya keterlibatan ayah merupakan bagian dari pola keluarga yang semakin umum. Pada titik ini, isu fatherless mulai muncul sebagai bagian dari wacana publik yang dibentuk oleh siaran dan liputan berita tentang kehidupan selebriti.

Perceraian

Tren yang terlihat dalam pemberitaan selebriti sejalan dengan kondisi nasional. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2024, terdapat lebih dari 394 ribu perceraian di Indonesia, dengan 78 persen di antaranya adalah cerai gugat (Fajar.co.id., 10 November 2025) Angka ini menunjukkan pergeseran peran keluarga, khususnya karena ibu semakin menjadi pengasuh utama setelah perceraian. Fenomena ini juga mencerminkan meningkatnya jumlah anak yang tumbuh dengan keterlibatan ayah yang semakin terbatas dalam kehidupan sehari-hari mereka. Kompas.id (9 Oktober 2025) melaporkan data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) bahkan mencatat bahwa lebih dari 15 juta anak di Indonesia berpotensi menjadi anak fatherless, baik karena perceraian maupun struktur keluarga yang tidak stabil.

Di tengah meningkatnya angka perceraian, media memainkan peran penting dalam membentuk persepsi publik tentang keluarga. Liputan tentang selebriti memiliki pengaruh khusus karena minat publik yang besar terhadap kehidupan pribadi tokoh publik. Liputan tentang perjalanan selebriti pasca-perceraian, rutinitas harian, dan aktivitas mereka sebagai pengasuh tunggal banyak dikonsumsi. Dalam berbagai liputan media hiburan, selebriti digambarkan menghadapi momen-momen penting, seperti hari libur besar, sebagai orang tua tunggal. Penggambaran ini cenderung menekankan stabilitas dan kemampuan beradaptasi individu, tetapi kurang memberi ruang bagi perubahan peran ayah dalam keluarga.

Penelitian tentang framing laporan berita infotainment juga menunjukkan tren serupa. Media lebih tertarik menyoroti konflik, proses perceraian, dan respons emosional tokoh publik. Dampak jangka panjang pada anak-anak, dinamika pengasuhan, dan pergeseran peran ayah mendapat ruang yang relatif lebih sedikit. Akibatnya, wacana publik tentang perceraian lebih dibentuk oleh narasi pribadi yang dramatis daripada diskusi struktural tentang hubungan keluarga. Situasi ini memiliki implikasi terhadap persepsi publik tentang fatherless, yang secara bertahap diakui sebagai kondisi umum dalam keluarga pasca-perceraian.

Dalam literatur psikologi, keterlibatan ayah memainkan peran penting dalam perkembangan anak. Berbagai studi menegaskan bahwa kehadiran ayah terkait dengan pembentukan identitas diri, keterampilan pengaturan emosi, dan perkembangan sosial. Absennya ayah, baik secara fisik maupun dalam peran pengasuhan, dapat memengaruhi perkembangan anak, terutama selama masa remaja. Oleh karena itu, peningkatan representasi keluarga fatherless dalam pemberitaan tentang tokoh publik berpotensi memengaruhi bagaimana masyarakat memahami pentingnya peran ayah dalam struktur keluarga modern.

Paparan publik terhadap dinamika keluarga selebriti tidak hanya membentuk persepsi individu tetapi juga memengaruhi konstruksi sosial peran orang tua. Selebriti, sebagai panutan dalam banyak aspek kehidupan, memiliki pengaruh signifikan dalam menetapkan standar baru untuk pengasuhan anak. Ketika pengasuhan anak oleh orang tua tunggal dianggap sebagai pola umum di kalangan tokoh publik, publik mungkin menganggap situasi ini sebagai bagian alami dari perkembangan keluarga modern, terlepas dari konsekuensi psikososial bagi anak-anak.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perceraian selebriti tidak hanya berdampak pada kehidupan pribadi tokoh publik tetapi juga berkontribusi pada pembentukan pemahaman kolektif tentang keluarga. Melalui liputan intensif dan seringkali pembingkaian yang berpusat pada individu, publik menganggap fatherless sebagai kondisi yang semakin umum. Tantangannya adalah memperluas wacana publik untuk mencakup pentingnya keterlibatan ayah, daripada hanya mengikuti representasi media yang menekankan peran ibu sebagai pengasuh utama.

oleh : Baiq Hizmiatul Yastri (Mahasiswa Administrasi Publik UNISA Yogyakarta)