Pos

Cucu

Peran nenek dalam keluarga seringkali dianggap sebatas momong cucu. Padahal, para lansia memiliki peran strategis sebagai support system utama bagi ibu hamil dalam melahirkan generasi penerus yang sehat.

Hal inilah yang diangkat oleh mahasiswa Semester 1 Program Studi Kebidanan Universitas `Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta. Melalui Proyek Al-Ma’un, Kelompok B5 ini menyambangi Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Sidokarto di Masjid Al-Jihad, Jumat (19/12/2025).

Suasana Masjid Al-Jihad siang itu terasa berbeda. Puluhan lansia tampak antusias menyimak paparan mahasiswa yang usianya terpaut jauh di bawah mereka. Perwakilan PRA Sidokarto, Wahyumiati, menyambut hangat inisiatif ini. Baginya, kegiatan seperti ini adalah bukti nyata kemakmuran masjid.

“Kami bersyukur bisa melangkahkan kaki di sini. Semoga masjid ini kian makmur, tidak hanya digunakan untuk sholat, tapi juga untuk menimba ilmu yang bermanfaat seperti hari ini,” ujar Wahyumiati.

Materi yang dibawakan cukup unik untuk audiens lansia, yakni “Langkah Sehat Ibu Hamil Untuk Masa Depan Anak”. Mahasiswa mengajak para lansia memahami bahwa kesehatan ibu hamil dan janin juga dipengaruhi oleh dukungan lingkungan, termasuk peran nenek. Selain itu, ditekankan juga pentingnya lansia menjaga kesehatan fisik dan mental agar tetap bugar saat mendampingi keluarga.

Bukan Sekedar Momong Cucu

Interaksi berlangsung cair dan komunikatif. Para mahasiswa baru ini membuktikan bahwa mereka mampu berbaur tanpa rasa canggung.

Sebagai penutup yang manis, siswa mengadakan layanan cek tensi gratis. Antrean pun mengular dengan tertib. Wajah-wajah lega terlihat usai mengetahui kondisi tekanan darah mereka. Kegiatan diakhiri dengan sesi foto bersama, mengabadikan senyum hangat kebersamaan lintas generasi tersebut.

Melalui Proyek Al-Ma’un ini, mahasiswa Kebidanan UNISA Yogyakarta tidak hanya mempelajari teori, tetapi langsung menanamkan nilai-nilai kepedulian sosial sejak semester awal. Sementara bagi warga Sidokarto, kehadiran mahasiswa menjadi masukan semangat baru untuk terus hidup sehat.

Libur

Momen hari libur tak menyurutkan semangat mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta untuk menebar kebaikan. Sebanyak delapan mahasiswa Program Studi D4 Keperawatan Anestesiologi turun langsung menyapa warga di Posyandu Qolbun Salim, Mlangi Besar, Gamping, Sleman, Kamis (25/12/2025).

Libur dengan Lansia

Mengusung Proyek Al-Ma’un, kelompok yang dipimpin oleh Fahminatul Laily ini menggandeng Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Mlangi Besar untuk menggelar aksi peduli lansia. Kegiatan ini bukan sekedar penyuluhan kesehatan biasa, melainkan sebuah jembatan hati antargenerasi.

Acara dimulai dengan suasana hangat, dipandu MC Baiq Rohalia Juang, kegiatan dibuka dengan doa khidmat oleh Zakiy Bintang Alpian. Tanpa canggung, para mahasiswa membaur sambil membagikan camilan kepada lansia yang hadir.

Sesi inti diisi dengan edukasi bertajuk “Pentingnya Peduli Kesehatan Lansia” yang dibawakan oleh dua mahasiswa, Zakiy Bintang dan Nahya Dita Salsabila. Namun, momen paling menyentuh terjadi setelah materi.

Mahasiswa membuka sesi sharing atau curhat santai. Di sini, sekat usia seolah-olah runtuh. Para lansia dengan antusias membagikan pengalaman hidup berharga mereka, sementara mahasiswa menyimak dengan takzim. Tak mau kalah, Zakiy Bintang mewakili mahasiswa juga berbagi cerita tentang perjuangannya menuntut ilmu.

“Rasanya senang sekali. Adik-adik siswa ini sopan-sopan. Kami jadi semangat memberi nasehat agar mereka lancar kuliahnya,” ujar Khasanah salah satu lansia dengan mata berbinar.

Di penghujung acara, suasana haru kembali terasa saat mahasiswa membagikan paket sembako kepada seluruh peserta lansia. Bantuan ini merupakan wujud nyata pengamalan Surat Al-Ma’un tentang kepedulian terhadap sesama.

Mahasiswa baru

Status sebagai Mahasiswa Baru (maba) Universitas `Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta tingkat awal tak menyurutkan nyali untuk mengabdi. Hal ini dibuktikan oleh sekelompok mahasiswa yang sukses menggelar aksi sosial di SD Muhammadiyah Sangonan 1, Sidorejo, Godean, Sleman, Minggu (21/12/2025).

Tanpa rasa canggung, para mahasiswa ini menggandeng ibu-ibu Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Sidorejo untuk melek kesehatan. Isu yang diangkat pun tak main-main: Pentingnya mengatur Tekanan Darah di Usia Pra-Lansia .

Kegiatan pagi itu dihadiri oleh sekitar 20 ibu-ibu. Acara diawali dengan pemeriksaan tekanan darah gratis (skrining). Langkah ini krusial untuk mengetahui kondisi awal kesehatan peserta sebelum diberikan materi.

Uniknya, agar suasana tidak tegang layaknya di rumah sakit, siswa mengajak peserta melakukan icebreaking. Ibu-ibu diajak melakukan gerakan tepuk tangan buka tutup telapak tangan. Selain memancing gelak tawa dan mencairkan suasana, gerakan sederhana ini efektif untuk melancarkan peredaran darah.

Setelah suasana cair, mahasiswa baru masuk ke materi inti. Mereka menjelaskan bahaya hipertensi sebagai pintu gerbang menuju penyakit seperti jantung, stroke, hingga kerusakan ginjal.

Ketua PRA Sidorejo, Wiwi, mengaku kagum dengan mentalitas para mahasiswa tingkat awal ini. Menurutnya, edukasi semacam ini sangat diperlukan, mengingat usia pra-lansia adalah masa transisi yang rawan penyakit.

“Kami bangga karena mahasiswa UNISA Yogyakarta semester awal sudah berani terjun langsung ke masyarakat untuk memberikan edukasi. Ini sangat bermanfaat untuk memperkaya pengetahuan kesehatan kami,” ujar Wiwi.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mengajarkan teori perkuliahan, tetapi juga belajar komunikasi publik. Di sisi lain, warga Sidorejo kini lebih waspada menjaga pola hidup agar terhindar dari ancaman darah tinggi.

Unggul

Universitas `Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta kembali membuktikan kualitas Unggul nya sebagai barometer pendidikan tinggi kesehatan di lingkungan Muhammadiyah. Pada Rabu (14/01/2026), kampus ini menjadi tuan rumah acara Open Day yang dihadiri oleh empat institusi pendidikan tinggi sekaligus di Gedung Siti Moendjijah.

Keempat kampus yang tergabung dalam keluarga besar Perguruan Tinggi Muhammadiyah `Aisyiyah (PTMA) tersebut adalah Universitas Muhammadiyah Gresik, Akademi Kesehatan Muhammadiyah Temanggung, Universitas Muhammadiyah Karanganyar, dan Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya. Kedatangan mereka bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan studi banding untuk mendapatkan resep rahasia tata kelola kampus yang baik.

Pertahankan Posisi Unggul

Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKes) UNISA Yogyakarta, Dr. Dewi Rokhanawati, S.SiT., M.PH, menyambut hangat rombongan tersebut. Dalam sambutannya, Dewi menegaskan bahwa UNISA selalu membuka pintu lebar-lebar untuk berdiskusi dan berbagi strategi, terutama dalam menghadapi tantangan regulasi pendidikan yang kian ketat. Salah satu topik panas yang dibahas adalah strategi mempertahankan status Akreditasi Unggul.

“Menghadapi tantangan Renstra tahun ini, UNISA Yogyakarta bekerja maksimal dengan effort besar melalui penguatan internal. Status UNGGUL harus dipertahankan dengan sangat kuat, karena indikator Akreditasi Perguruan Tinggi (APT) kini jauh lebih rumit dibanding LAMPTKes,” ungkap Dewi blak-blakan.

Agenda Open Day ini tidak hanya berisi seremonial di ruang sidang. Rombongan dari empat kampus tersebut langsung bergerak melakukan observasi lapangan sesuai kebutuhan masing-masing institusi.

Mereka menyebar untuk melihat langsung operasional di berbagai unit strategis UNISA Yogyakarta, mulai dari manajemen Perpustakaan modern, tata kelola Biro Kemahasiswaan, hingga melihat kurikulum dan fasilitas di Program Studi Kebidanan dan Keperawatan Anestesiologi.

Melalui kegiatan ini, diharapkan tercipta sinergi yang kuat antar PTMA. Tidak hanya sekadar transfer ilmu, pertemuan ini menjadi momentum mempererat kerja sama agar kampus-kampus Muhammadiyah bisa maju bersama menghadapi persaingan global.

Pneumonia

Pneumonia atau radang paru-paru masih menjadi momok menakutkan bagi anak-anak di seluruh dunia. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2023 mencatat fakta kelam: sekitar 700.000 balita meninggal setiap tahun akibat penyakit ini. Yang mengejutkan, Indonesia menduduki peringkat keempat global penyumbang kematian balita akibat pneumonia.

Pemerintah Indonesia tidak tinggal diam. Melalui Kementerian Kesehatan, target bertekad untuk menekan angka kematian dan meningkatkan vaksinasi PCV hingga 90%. Namun, pertarungan pembunuh senyap ini di lapangan ternyata memiliki dinamika tersendiri, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

DIY Jitu Deteksi

DIY mencatat prestasi unik. Pada tahun 2024, provinsi ini menjadi juara nasional dalam hal penemuan kasus pneumonia balita dengan persentase mencapai 86%. Namun, tingginya angka penemuan ini juga mengungkap fakta lain: pneumonia menjadi pembunuh balita nomor dua di DIY setelah tifus.

Sayangnya, upaya cepat penemuan kasus belum sepenuhnya diimbangi dengan kualitas pengobatan yang sempurna. Cakupan tata laksana standar di DIY baru menyentuh angka 86%, masih di bawah target nasional 95%. Artinya, meskipun jago mendeteksi, DIY masih harus berjuang keras untuk memastikan setiap balita yang sakit mendapatkan penanganan sesuai standar emas.

MTBS: Senjata Andalan Puskesmas

Di garda terdepan, Puskesmas mengandalkan metode Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Ini adalah protokol ‘sakti’ bagi tenaga kesehatan untuk mendeteksi penyakit mematikan seperti pneumonia, malaria, hingga demam berdarah secara cepat, bahkan di tengah keterbatasan alat.

Studi analisis kebijakan oleh Mahasiswa Magister Kebidanan UNISA di Puskesmas Gamping I membuktikan keampuhan metode ini. Penerapan MTBS yang konsisten di sana tidak hanya meningkatkan deteksi dini, tetapi juga mengantarkan puskesmas tersebut meraih Juara Provinsi Inovasi Tumbuh Kembang Balita.

Tantangan dan Transformasi Digital

Meski efektif, penerapan MTBS di lapangan masih menghadapi kendala Deteksi Pasif tugasnya cenderung menunggu pasien datang. Akibatnya, risiko missing cases atau kasus yang tidak terdeteksi masih tinggi, terutama jika orang tua kurang peka terhadap gejala awal.

Kini, transformasi digital menjadi solusi mutlak. Digitalisasi MTBS terbukti mampu memangkas waktu pelayanan dari 25 menit menjadi hanya 10 menit. Integrasi sistem digital dengan kecerdasan buatan (AI) juga memungkinkan pemantauan data secara real-time , sehingga tidak ada lagi balita yang luput dari pantauan.

Ke depan, perang melawan pneumonia tidak bisa hanya bergantung pada dokter. Kolaborasi antara teknologi canggih, kader posyandu yang dilatih, serta orang tua yang waspada, adalah benteng pertahanan terbaik untuk menyelamatkan nyawa generasi penerus bangsa.

Oleh :

Izza Fitrotun Nisa Mahasiswa : UNISA Yogyakarta

Alya Nursyifa Perwata : Mahasiswa UNISA Yogyakarta

Dr. Sulistyaningsih, M.H.Kes., Dosen Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta