Pos

Mahasiswa

Persaingan dunia kerja yang semakin ketat menuntut mahasiswa tidak hanya jago di bidang akademik, tetapi juga luwes dalam berkomunikasi. Menjawab tantangan tersebut, Biro Humas dan Protokol (BHP) Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menggelar Pelatihan Keprotokolan dan Master of Ceremony (MC).

Bertempat di Ruang Sidang Gedung Siti Moendjijah, Jumat (09/01/2026), acara ini sukses menyedot perhatian mahasiswa. Sebanyak 35 peserta terpilih digembleng secara intensif untuk mengasah kemampuan public speaking dan tata kelola acara.

Wakil Rektor IV UNISA Yogyakarta, Dr. M. Ali Imron, M.Fis., dalam sambutannya menegaskan bahwa realitas dunia kerja saat ini sangat dinamis. Menurutnya, kesuksesan karir seseorang seringkali tidak hanya ditentukan oleh linearitas jurusan kuliah, melainkan soft skill yang mereka miliki.

“Di sini kita mulai membuka gerbang pintu untuk mendapatkan soft skill. Hari ini kalian akan banyak belajar tentang keprotokolan dan teknik menjadi MC yang bisa mengubah jiwa serta perilaku kalian menjadi lebih profesional,” ujar Imron di hadapan para peserta.

Ia menambahkan, pelatihan ini dirancang khusus agar mahasiswa UNISA siap tampil percaya diri saat menghadapi acara berskala nasional maupun internasional.

Mahasiswa

Tidak tanggung-tanggung, BHP UNISA Yogyakarta menghadirkan dua narasumber ahli untuk membedah materi secara mendalam. Sinta Maharani, S.Sos., MIKom., hadir mengupas menyeluruh seluk-beluk protokol penerimaan tamu, mulai dari tata tempat hingga tata penghormatan yang krusial dalam acara resmi.

Sementara itu, untuk pembawa acara, Bdn. Salsya Naulia Chamid, S.Keb., membagikan trik jitu menjadi MC yang adaptif dan komunikatif. Para peserta tidak hanya mendengarkan teori, namun juga diajak memahami bagaimana membawakan suasana acara agar tetap hidup dan khidmat.

Dengan adanya pelatihan ini, UNISA Yogyakarta berharap dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki personal branding yang kuat melalui kemampuan komunikasi publik yang mumpuni.

Baitul Arqam

Menjelang momen kelulusan, mahasiswa tingkat akhir Universitas `Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta tidak hanya disibukkan dengan revisi skripsi. Sebelum resmi menyandang gelar sarjana pada bulan April mendatang, mereka wajib melewati satu fase krusial: Baitul Arqam Purna (BAP).

Kegiatan pengkaderan pamungkas ini digelar oleh Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI) UNISA Yogyakarta secara maraton. Tak tanggung-tanggung, acara ini dilaksanakan dalam 7 gelombang, mulai dari 12 Januari hingga 14 Februari 2026. Mengusung konsep hybrid (daring dan luring), BAP tahun ini mengangkat tema besar “Meningkatkan Kapasitas Kader, Menghadirkan Kemanfaatan Untuk Semua”.

Ketua LPPI UNISA Yogyakarta, Dr. M. Nurdin Zuhdi, menegaskan bahwa BAP bukan sekadar formalitas administratif jelang wisuda. Lebih dari itu, forum ini adalah kawah candradimuka terakhir bagi mahasiswa untuk memperkuat fondasi ideologi sebelum terjun ke dunia profesional.

Tujuan utamanya jelas: memastikan setiap lulusan UNISA Yogyakarta memiliki pemahaman ideologi yang kokoh sesuai dengan pemahaman Muhammadiyah.

“Kegiatan ini untuk meningkatkan pemahaman terkait dengan ideologi Muhammadiyah. Kami ingin lulusan UNISA tidak hanya kompeten secara akademik, tapi juga matang secara spiritual dan siap menjadi kader yang bermanfaat,” tutur Nurdin di sela-sela acara pembukaan, Senin (12/01/2026).

Keseriusan UNISA Yogyakarta dalam membekali calon wisudawan terlihat dari deretan narasumber yang dihadirkan. Sebanyak 20 pembicara kompeten siap memberikan wawasan baru. Mereka datang dari berbagai latar belakang, mulai dari unsur internal UNISA, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, PP ‘Aisyiyah, hingga akademisi dan profesional dari luar Muhammadiyah.

Para narasumber ini akan mengupas tuntas bagaimana nilai-nilai Islam Berkemajuan dapat diimplementasikan dalam dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat. Dengan bekal ini, para calon wisudawan April 2026 diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang membawa solusi bagi permasalahan umat.

unisa yogyakarta

Reputasi Universitas `Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta dalam tata kelola perguruan tinggi kembali menarik perhatian. Kali ini, tamu jauh dari Pulau Kalimantan, Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), datang khusus untuk melakukan studi banding dan penandatanganan kerja sama strategis, Jumat (09/01/2026).

Kunjungan ini bukan sekedar silaturahmi biasa. Fokus utama pertemuan ini adalah strategi bedah pengelolaan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM). UMKT menilai UNISA Yogyakarta memiliki resep jitu dalam manajemen penelitian yang krusial untuk mendongkrak status akreditasi kampus.

Ketua LPPM UMKT, Paula Mariana Kustiawan, S.Hut., M.Sc., Ph.D , tidak menampik bahwa kedatangannya membawa misi besar. Ia secara terang-terangan menyebut ingin berguru kepada UNISA Yogyakarta mengenai langkah-langkah konkret persiapan menuju Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT) Unggul.

“Jadi kedatangan kami ke sini memang niatnya untuk berguru ke UNISA Yogyakarta. Kami ingin tahu bagaimana tata kelola yang sudah diterapkan di sini. Selain belajar, kami juga datang membawa dokumen Memorandum of Agreement (MoA) untuk bersinergi dalam meningkatkan kualitas penelitian dan pengabdian dosen UMKT,” ungkap Paula dengan antusias.

Menanggapi semangat kolaborasi tersebut, Koordinator Penelitian LPPM UNISA Yogyakarta, Dinar Mindrati Fardhani, SP, M.Biotech., Ph.D , menyambut hangat rombongan UMKT. Menurutnya, sesama Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) sudah selayaknya saling bahu-membahu.

“Kami sangat terbuka sekali. Kita sama-sama dari keluarga besar PTMA, pastinya sangat senang bisa saling bersinergi. UNISA pun sebenarnya masih terus belajar. Semoga diskusi kita hari ini menghasilkan poin-poin penting yang bisa langsung dikerjasamakan demi kemajuan penelitian kedua kampus,” ujar Dinar.

Profesi Arsitek

Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta resmi memperoleh izin pembukaan Program Studi Pendidikan Profesi Arsitek (PPAr). Izin tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 1182/B/O/2025 tentang Izin Pembukaan Program Studi Pendidikan Profesi Arsitek Program Profesi pada Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta.

Profesi Arsitek

Dengan terbitnya keputusan ini, PPAr UNISA Yogyakarta tercatat sebagai Pendidikan Profesi Arsitek ke-25 di Indonesia dan ke-4 di Daerah Istimewa Yogyakarta, sekaligus memperkuat kontribusi UNISA Yogyakarta dalam pengembangan pendidikan profesi dan penyediaan arsitek profesional nasional.

Dekan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNISA Yogyakarta , Ar. Tika Ainunnisa F, ST., MT., Ph.D., IAI, menyampaikan bahwa pembukaan PPAr ini merupakan langkah strategis dalam menjawab kebutuhan dunia profesional arsitektur yang menuntut kompetensi, etika, dan tanggung jawab sosial.

“Pendidikan Profesi Arsitek di UNISA Yogyakarta dirancang untuk mencetak arsitek profesional yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki integritas, kepekaan sosial, serta komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa keberadaan PPAr menjadi jembatan penting bagi lulusan sarjana arsitektur untuk memperoleh pengakuan profesi sesuai regulasi yang berlaku, sekaligus meningkatkan kualitas praktik arsitektur di Indonesia.

“Sebagai PPAr ke-25 di Indonesia, UNISA Yogyakarta hadir membawa kekhasan nilai keislaman, kemuhammadiyahan, dan perspektif keberlanjutan yang menjadi ciri institusi. Harapannya, lulusan PPAr UNISA mampu berkontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan,” tambah Ar. Tika.

Program Studi Pendidikan Profesi Arsitek UNISA Yogyakarta diselenggarakan oleh Fakultas Sains dan Teknologi dengan dukungan sumber daya dosen, jejaring profesional, serta kurikulum yang mengacu pada standar pendidikan profesi arsitek nasional.

Pembukaan PPAr ini juga menjadi bagian dari komitmen UNISA Yogyakarta sebagai perguruan tinggi yang terus berinovasi dalam menghadirkan program pendidikan relevan dengan kebutuhan zaman, serta berorientasi pada penguatan kualitas lulusan dan daya saing global.

Lawan kuman

Kebersihan tangan sering dianggap sepele, padahal ini adalah benteng pertahanan pertama tubuh dari serangan penyakit untuk lawan kuman. Menyadari pentingnya hal tersebut, sekumpulan mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menyulap edukasi kesehatan menjadi pesta permainan yang seru di Panti Asuhan Yatim Putri ‘Aisyiyah Notoprajan, Ngampilan, Kota Yogyakarta.

Lawan Kuman

Aksi sosial yang berlangsung pada Senin (22/12/2025) ini diinisiasi oleh mahasiswa Program Studi Keperawatan Anestesiologi yang tergabung dalam Kelompok AIK B8. Kegiatan ini merupakan realisasi Proyek Al-Ma’un, sebuah program pengabdian masyarakat yang menjadi ciri khas kampus UNISA Yogyakarta.

Ketua Kelompok B8, Muhammad Zahid Rahiman, menjelaskan bahwa timnya sengaja menggunakan metode pendekatan fun games. Tujuannya agar pesan-pesan kesehatan mudah dicerna dan diingat oleh anak-anak panti.

“Kami mengemas materi cuci tangan ini serealistis dan seinteraktif mungkin. Melalui games, anak-anak jadi lebih tertarik mempraktikkan 6 langkah cuci tangan yang benar menggunakan sabun dan air mengalir. Jadi, mereka tahu kapan waktu krusial harus cuci tangan, tapi dengan cara yang gembira,” ujar Zahid.

Keseruan tidak berhenti di wastafel. Usai memastikan tangan adik-adik panti bersih dan bebas kuman, para mahasiswa melanjutkan kegiatan dengan berdialog hangat bersama Ibu Pengurus Panti Asuhan Putri ‘Aisyiyah. Momen ini menjadi ajang perekat silaturahmi sekaligus diskusi mengenai kondisi kesehatan di lingkungan panti.

Mahasiswa juga diajak berkeliling melihat asrama dan fasilitas panti untuk lebih memahami dinamika kehidupan sehari-hari para santriwati.

Proyek Al-Ma’un ini diharapkan bukan sekadar seremonial belaka. Lebih jauh, kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan nilai empati dan kepekaan sosial di hati para calon tenaga medis muda UNISA Yogyakarta. Dengan turun langsung ke lapangan, mahasiswa belajar bahwa kepedulian sekecil apa pun seperti mengajarkan cara mencuci tangan bisa berdampak besar bagi kesehatan masyarakat.