Gizi

Kualitas pendidikan kesehatan Universitas `Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta kembali menjadi magnet bagi perguruan tinggi lain. Kali ini, dua institusi kesehatan asal Jawa Timur, yakni Akademi Gizi Karya Husada dan STIKES Karya Husada Kediri, melakukan kunjungan studi banding ke kampus UNISA di Sleman, Senin (26/01/2026).

Ahli Gizi

Bertempat di Ruang Sidang Gedung Siti Moendjijah, rombongan tamu disambut langsung oleh Ketua Program Studi Gizi UNISA Yogyakarta, Agung Nugroho, A.MG., MPH. Dalam pertemuan hangat tersebut, Agung mengajak para tamu mengenal lebih dekat dapur pendidikan gizi UNISA, mulai dari sejarah, fasilitas laboratorium, hingga proses pembelajaran yang selama ini diterapkan. Agung menekankan bahwa pertemuan ini bukan sekadar seremonial, melainkan ajang tukar ilmu.

“Harapan dengan adanya kunjungan ini, kita bisa saling berbagi pengalaman dari masing-masing institusi. Tujuannya satu, untuk kemajuan pendidikan gizi kita bersama,” ujar Agung.

Sementara itu, Ketua Prodi Sarjana Gizi STIKES Karya Husada Kediri, Frenky Arif Budiman, S.Gz., M.Gizi, tak menampik bahwa pihaknya ingin belajar dan mencari solusi. Menurutnya, UNISA Yogyakarta dipilih sebagai rujukan karena dinilai memiliki tata kelola yang mapan.

“Tujuan kami datang untuk belajar menjadi institusi yang lebih baik. Ilmu yang kami dapat dari sini akan menjadi bekal berharga untuk disampaikan kepada pimpinan dan diterapkan di Kediri,” ungkap Frenky.

Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi intens antar-prodi. Kedua belah pihak membedah kurikulum dan strategi manajemen akademik guna mencetak lulusan ahli gizi yang siap bersaing di dunia kerja.

Workshop

Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta menggelar Workshop Internasional bertema “ Article Writing & Publication Strategy in Reputable International Journals” bekerja sama dengan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, Kamis (29/1/2026).

Workshop Internasional

Kegiatan yang berlangsung di Meeting Room SM. 2.11, Gedung Siti Moendjijah Lantai 2, Kampus Terpadu UNISA Yogyakarta ini menghadirkan dua narasumber dari UiTM Malaysia, yakni Dr. Wan Norbani Wan Noordin, Head of Center of Strategic Communication UiTM Malaysia, serta Assoc. Prof. Dr. Tengku Elena Tengku Mahamad, Deputy Dean (Research and Industrial Linkages) UiTM Malaysia.

Pelaksanaan Workshop ini bertujuan meningkatkan kapasitas dosen dan mahasiswa Unisa Yogyakarta dalam menulis artikel ilmiah dan strategi publikasi pada jurnal internasional bereputasi. Para peserta dibekali wawasan mulai dari pengembangan budaya riset kampus, penyusunan artikel sesuai standar jurnal internasional, sampai strategi memilih jurnal yang tepat dan meningkatkan peluang lolos publikasi.

Wakil Dekan Fakultas Ekonomi, Ilmu Sosial, dan Humaniora, Nur Fitri Mutmainah, menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan workshop internasional tersebut. Perempuan yang akrab disapa Iin tersebut mengakui masih rendahnya publikasi riset tingkat internasional dari akademisi Unisa Yogyakarta sehingga perlu upaya mengatasi masalah tersebut.

“Agenda workshop ini penting, kita bisa lihat publikasi riset Unisa Yogyakarta masih cukup rendah. Dengan workshop ini kita bisa belajar dan termotivasi agar mencapai luaran publikasi internasional,” ujar Iin dalam sambutannya.

Membangun Budaya Riset

Tengku Elena Tengku Mahamad, dalam pemaparan materinya menyampaikan pentingnya budaya riset di dalam universitas sebagai pijakan menuju peningkatan publikasi internasional sivitas akademika. Elena mengajak seluruh akademisi Unisa Yogyakarta untuk produktif melakukan riset, caranya dengan meluangkan waktu setidaknya satu jam untuk penelitian.

“Alokasikan satu jam khusus untuk riset. Tidak harus setiap hari, satu jam sekali atau dua kali dalam seminggu. Anggap waktu tersebut seperti meeting. Usaha kecil tersebut akan mengarahkan ke progres yang mantap,” ucapnya menjelaskan.

Elena juga mengingatkan agar para peserta percaya diri untuk memulai ide penelitian dimiliki. Baginya, budaya riset itu adalah berkembang bersama-sama. Riset yang baik bukanlah yang sempurna, tapi yang memiliki progres. Agar semua itu tercapai, Elena menyarankan terciptanya kolaborasi erat antar-individu di universitas.

“Setiap orang memiliki titik awal yang berbeda-beda. Dengan menulis bersama membantu individu untuk fokus dan termotivasi. Dengan bekerja sama bisa mengurangi tekanan dalam riset. Seiring waktu, kegiatan riset menjadi budaya bersama,” ujar Elena.

Sementara itu, Wan Norbani Wan Noordin, selaku narasumber berikutnya lebih menekankan pentingnya perhatian dalam membuat karya tulis ilmiah. Norbani menyebut tulisan artikel untuk publikasi internasional mesti memenuhi standar Scopus, baik dari segi metodologi, struktur, referensi, hingga kejelasan.

“Pastikan naskah artikel memenuhi kriteria jurnal dengan tepat. Selain itu, sebaiknya naska sudah di-review terlebih dahulu sebelum dikirim,” ucap Norbani memberi tips. Pada kesempatan tersebut ia juga mengulas kiat-kiat bagaimana memilih jurnal internasional dan mengatasi tantangan agar naskah diterima.

Para peserta dengan antusias mengikuti paparan kedua narasumber dari UiTM Malaysia. Acara hari itu kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, penyerahan cendera mata, lalu ditutup dengan foto bersama.

Digital

Dosen Administrasi Publik Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Gerry Katon Mahendra menilai adanya rencana pemerintah mengangkat 32.000 Pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi ASN/PPPK bukan keputusan yang adil. Menurutnya ada urgensi lain yang seharusnya bisa diprioritaskan, salah satunya nasib guru honorer.

“Tidak adil. Ada urgensi lain yang seharusnya bisa diprioritaskan. Salah satunya adalah urgensi mengenai nasib guru honorer,” ucap Gerry, Sabtu (24/1/2026). 

SPPG

Gerry menilai pengangkatan ini akan mempengaruhi pandangan public dan potensi protes publik, khususnya berkaitan dengan prinsip keadilan di mata masyarakat. Disaat yang sama, masih ada guru honorer yang perlu dipikirkan nasibnya. 

“Program MBG sudah menghabiskan anggaran yang sangat besar, bahkan pos anggaran Pendidikan juga turut terdampak. Dengan adanya rencana ini, tentu masyarakat akan semakin bertanya, Dimana prinsip keadilan untuk sektor lain khususnya pendidikan,” ujar Gerry.

Kebijakan pemerintah tersebut dinilai akan menjadi preseden buruk bagi tata kelola pemerintah di kebijakan dan program lainnya. Resikonya adalah anomali harapan dan tujuan, jika tidak diatur dengan jelas dan profesional, puluhan ribu calon yang akan diangkat ini berpotensi menjadi tantangan fiskal negara, inefisiensi anggaran, dan mengaburkan merit system itu sendiri.

Dirinya melihat rencana pengangkatan 32.000 pegawai SPPG lebih bertujuan pada penataan birokrasi dan pemenuhan kebutuhan layanan publik, khususnya terkait MBG. Namun jika dilihat dari aspek urgensi dan keadilan, masih cukup banyak ruang dan waktu untuk mengkaji kembali. Saat ini yang terlihat adalah keputusan terlihat sangat cepat dan mungkin saja tidak melalui kajian panjang yang komprehensif. 

Gerry menegaskan bahwa kebijakan bukan produk sehari jadi, baiknya harus ada kajian yang komprehensif terutama yang berkaitan dengan dasar hukum, mekanisme, kriteria, dan proses seleksi yang adil. “Selain itu, prinsip keadilan dan urgensi kepentingan juga harus dipertimbangkan mengingat masih ada unsur masyarakat di negara ini yang belum terakomodasi haknya dengan baik,” ungkap Gerry.

Gerry mengajak masyarakat menjadi alat kontrol kebijakan yang baik bagi pemerintah. Alangkah baiknya masyarakat untuk bisa menyuarakan jika memang kurang menyetujui. Meminta ruang diskusi, dan mengkaji ulang dengan melibatkan partsipasi publik dan unsur terkait agar kebijakan yang nantinya dihasilkan lebih dekat dengan keinginan masyarakat, berdampak positif untuk banyak pihak, dan memenuhi prinsip keadilan.

Bersih bersih masjid

Mahasiswa Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta yang tergabung dalam relawan Mahasiswa Sadar Infak dan Sedekah (Madaris) melaksanakan program Bersih-Bersih Masjid (BBM) di Masjid Al-Mustaghfirin, Brajan, Kalurahan Sendangagung, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, Sabtu (24/1/2026).

Sebanyak 31 mahasiswa mengikuti kegiatan tersebut. Dengan sigap, mereka membersihkan seluruh area Masjid Al-Mustaghfirin, Brajan, mulai dari lantai, dinding, kamar mandi dan tempat wudu, kipas angin, hingga langit-langit masjid.

Selain kegiatan bersih-bersih, program BBM juga disertai penyerahan donasi berupa perlengkapan ibadah, seperti mukena, sarung, Al-Qur’an, serta poster infografis.

Bersih-bersih Masjid

Salah satu relawan Madaris, Meilinda Saputrie, mengaku antusias mengikuti kegiatan BBM kali ini. Meski merasa sedikit lelah, ia menilai kelelahan tersebut terbayarkan karena dapat berkontribusi langsung kepada masyarakat dan membantu menciptakan kenyamanan dalam beribadah.

“Aku suka kegiatan sosial dan kerelawanan yang berdampak langsung seperti ini. Jujur, rasa lelah pasti ada, tetapi semuanya tergantikan dengan kepuasan bisa berkontribusi langsung di masyarakat,” ujar Meilinda, Sabtu (24/1/2026).

Sementara itu, warga sekitar turut mengapresiasi kegiatan bersih-bersih di Masjid Al-Mustaghfirin, Brajan. Koordinator Ikatan Remaja Masjid Al-Mustaghfirin, Triyanto, menyatakan dukungannya terhadap aksi mahasiswa Unisa Yogyakarta yang terjun langsung ke masyarakat dengan membersihkan rumah ibadah umat Islam. Menurutnya, kegiatan ini sangat membantu, terutama menjelang bulan Ramadan.

“Kami sangat salut dan senang dibantu oleh mahasiswa Unisa dalam kegiatan bersih-bersih masjid, apalagi menjelang bulan Ramadan,” ujar Triyanto.

Agenda Rutin Madaris

Program Bersih-Bersih Masjid merupakan agenda rutin relawan Madaris. Madaris merupakan komunitas relawan yang berada di bawah binaan Lazismu Kantor Layanan (KL) Unisa Yogyakarta. Sebagai komunitas relawan, Madaris aktif mendukung Lazismu KL Unisa Yogyakarta dalam menjalankan program-program filantropi yang berlandaskan spirit Al-Maun Muhammadiyah.

Beberapa kegiatan yang dilakukan relawan Madaris antara lain Sedekah Barang Berkas (Sebarkas), Infak Serdadu, Sarapan Gratis, serta program Bersih-Bersih Masjid.

Pembina Madaris, Andis, menjelaskan bahwa tujuan pelaksanaan program Bersih-Bersih Masjid adalah mengajak anak muda kembali memakmurkan masjid. Selain itu, masih banyak masjid di wilayah Yogyakarta yang kurang terawat karena minimnya jamaah atau keterlibatan generasi muda.

“Banyak masjid yang kurang terurus, baik karena jamaahnya sedikit maupun tidak adanya anak muda yang meramaikan. Padahal bangunan masjidnya ada. Karena itu, kami hadir untuk meramaikan dan menghidupkan kembali masjid,” jelas Andis.

Program Bersih-Bersih Masjid dilaksanakan secara rutin setiap dua minggu sekali, biasanya di masjid-masjid kampung sekitar Unisa Yogyakarta. Namun, dalam beberapa kesempatan, Madaris juga melaksanakan BBM di wilayah yang lebih jauh, seperti di Masjid Al-Mustaghfirin, Minggir, Sleman.

Hidup sehat

Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta kembali menggelar kegiatan Sport & Art Every Month (SAE) pada Jumat, 23 Januari 2026, kegiatan rutin bulanan ini menjadi wadah untuk mendorong gaya hidup sehat sekaligus mempererat kebersamaan antarpegawai di lingkungan UNISA Yogyakarta.

Kepala Biro Humas dan Protokol UNISA Yogyakarta, Sinta Maharani, S.Sos., M.I.Kom, menyampaikan bahwa SAE tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan olahraga, tetapi juga ruang interaksi dan kolaborasi antarunit.

Gaya Hidup Sehat

“Melalui SAE, kami ingin membangun suasana kerja yang sehat, hangat, dan kolaboratif. Tidak hanya menjaga kebugaran fisik, tetapi juga menjadi media berbagi informasi, edukasi, serta penguatan kebersamaan antarpegawai UNISA Yogyakarta,” ujarnya.

SAE kali ini diawali dengan jalan sehat sejauh 2,5 kilometer mengelilingi area kampus UNISA Yogyakarta. Seluruh pegawai tampak antusias mengikuti kegiatan yang dikemas santai namun sarat makna tersebut.

Selain olahraga bersama, SAE juga diisi dengan berbagai aktivitas edukatif dan sosialisasi yang didukung oleh program studi serta biro/unit di UNISA Yogyakarta. Tim K3 UNISA memanfaatkan momentum ini untuk mensosialisasikan pembukaan Bulan K3, sekaligus memberikan demonstrasi cara penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Pada kesempatan tersebut juga disampaikan informasi terkait berbagai lomba K3 yang akan diselenggarakan.

Dari sisi akademik, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNISA Yogyakarta memberikan sosialisasi mengenai pemanfaatan maggot sebagai solusi pengelolaan sampah organik yang ramah lingkungan. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran sivitas akademika terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan.

Sementara itu, Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI) UNISA Yogyakarta menyampaikan sosialisasi terkait agenda dan program kegiatan Ramadhan, sebagai bentuk persiapan spiritual bagi seluruh pegawai menjelang bulan suci.

Rangkaian kegiatan SAE ditutup dengan sarapan bersama, yang menjadi momen kebersamaan untuk mempererat interaksi, komunikasi, dan kekompakan antarpegawai lintas unit di UNISA Yogyakarta.

Melalui kegiatan SAE, UNISA Yogyakarta terus menegaskan komitmennya sebagai kampus berwawasan kesehatan yang tidak hanya memperhatikan aspek fisik, tetapi juga edukasi, spiritualitas, dan hubungan sosial dalam lingkungan kerja.