Berbicara dengan Hati: Komunikasi Empatik sebagai Akhlak dan Kesalehan Sosial
Setiap kata yang terucap membawa jejak hati. Ketika komunikasi dijalani dengan empati, ia tidak lagi berhenti sebagai pertukaran pesan, tetapi menjelma sebagai laku akhlak dan wujud kesalehan sosial.
Ada kalanya luka sosial tidak lahir dari kekerasan fisik, melainkan dari kata-kata yang diucapkan tanpa empati. Ucapan yang tergesa, nasihat yang mempermalukan, atau nada bicara yang merendahkan sering kali meninggalkan bekas lebih dalam daripada yang disadari. Padahal, Islam tidak hanya mengajarkan apa yang harus disampaikan, tetapi juga bagaimana menyampaikannya.
Berbicara dengan hati, menjadi sebuah praktik akhlak yang menautkan empati, adab, dan tanggung jawab sosial. Di sanalah komunikasi empatik menemukan maknanya sebagai cermin akhlak dan kesalehan sosial, hadir bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memanusiakan.
Komunikasi
Dalam tradisi Islam berkemajuan yang dirawat Muhammadiyah, keberagamaan tidak berhenti pada ritual dan simbol. Keimanan tidak berhenti pada pengakuan, melainkan diuji dalam laku sosial bagaimana kita bersikap adil, menghargai martabat manusia, dan memperlakukan orang lain secara bermakna.
Tauhid tidak hanya menegaskan hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga menuntut tanggung jawab horizontal dalam hubungan antarmanusia. Di situlah komunikasi empatik menjadi wujud nyata dari kesalehan sosial. Almarhum Buya Syafii Maarif dengan tegas mengingatkan:
“Islam yang tidak membela kemanusiaan akan kehilangan makna moralnya”.
Pernyataan ini menempatkan kemanusiaan sebagai inti ajaran Islam. Dalam konteks komunikasi, membela kemanusiaan berarti memperlakukan setiap orang dengan hormat dan empati, tanpa memandang latar belakang sosial ekonomi, tingkat pendidikan, maupun posisi kekuasaan. Semua manusia, pada hakikatnya hadir sebagai makhluk Allah yang memiliki martabat yang sama, namun dalam praktik kehidupan sehari-hari, komunikasi sering kali berlangsung tidak setara.
Sejak kelahirannya, Muhammadiyah hadir membawa semangat memerdekakan manusia dari berbagai bentuk ketidakadilan—termasuk ketidakadilan yang tersembunyi dalam bahasa, sikap, dan cara kita berbicara satu sama lain. Cara berbicara yang merendahkan, menghakimi, atau meniadakan suara orang lain bukan hanya persoalan etika sosial, tetapi juga persoalan moral keagamaan. Bahasa dapat menjadi sarana pencerahan, tetapi juga dapat menjadi alat penindasan ketika kehilangan empati.
Islam memberikan panduan yang jelas mengenai etika berkomunikasi. Al-Qur’an tidak hanya mengatur apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana kata-kata itu diucapkan. Perkataan yang baik, jujur, dan lembut berulang kali ditegaskan sebagai bagian dari adab berkomunikasi seorang muslim. Bahkan kepada Fir’aun—penguasa yang dikenal keras dan zalim—Allah memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk berbicara dengan kelembutan (QS. Thaha: 44). Pesan ini menegaskan bahwa empati tidak bergantung pada siapa yang dihadapi atau dalam situasi apa kita berada. Ia adalah prinsip akhlak yang mesti dijaga, justru ketika relasi kuasa tidak seimbang.
Dalam urusan memberi nasihat, pelajaran ini menjadi sangat relevan. Kebaikan tidak diajarkan dengan mempermalukan atau merendahkan orang lain. Nasihat yang disampaikan dengan bahasa yang kasar, membuka aib, atau melukai harga diri justru berisiko menutup ruang dialog. Sebaliknya, bahasa yang santun dan beradab memungkinkan pesan kebenaran diterima dengan lebih lapang. Dalam komunikasi yang empatik, kelembutan bukan tanda kelemahan, melainkan jalan untuk menghadirkan perubahan yang lebih tahan lama.
Teladan Rasulullah SAW semakin menegaskan pentingnya komunikasi empatik. Nabi dikenal sebagai pendengar yang baik dan tidak merendahkan siapa pun. Beliau menyesuaikan bahasa dengan kondisi lawan bicara, berbicara dengan penuh perhatian, dan menghadirkan rasa aman bagi siapa pun yang berinteraksi dengannya.
Dalam kajian ilmu komunikasi Barat, empati dipahami sebagai kemampuan memahami pengalaman orang lain secara kognitif dan emosional. Carl Rogers, tokoh psikologi humanistik, menempatkan empati sebagai prasyarat utama terciptanya relasi interpersonal yang sehat dan bermakna. Empati memungkinkan seseorang hadir sepenuhnya dalam percakapan—bukan untuk mendominasi, melainkan untuk memahami. Perspektif ini memiliki irisan yang kuat dengan nilai-nilai Islam tentang adab dan penghormatan terhadap sesama.
Selain itu, Martin Buber melalui konsep relasi I–Thou menekankan pentingnya memandang orang lain sebagai subjek yang utuh, bukan sekadar objek. Relasi dialog yang beradab menuntut lebih dari sekadar kepandaian berbicara. Ia menuntut kesediaan untuk hadir dengan empati dan mengakui martabat orang lain sebagai sesama manusia.
Dalam tradisi dakwah Muhammadiyah, cara pandang ini penting karena dakwah tidak pernah dimaksudkan untuk menundukkan, melainkan untuk mencerahkan dan memanusiakan. Komunikasi empatik bukan sekadar etika personal, melainkan bagian dari dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Tentu saja dakwah tidak hanya berlangsung di mimbar atau forum resmi, tetapi juga hadir dalam percakapan sehari-hari seperti bagaimana kita menyapa orang lain, mendengarkan keluhan masyarakat kecil, atau merespons perbedaan pendapat dengan adab.
Di situlah nilai Islam berkemajuan diuji dan dihidupkan. Cara seseorang berbicara, mendengarkan, dan merespons orang lain merupakan cerminan langsung dari akhlaknya. Kata-kata tidak berdiri sendiri; ia selalu membawa nilai, sikap batin, dan cara pandang terhadap sesama manusia.
Tantangan komunikasi hari ini semakin terasa di tengah suasana sosial yang mudah terbelah. Kata-kata bernada kebencian dengan cepat menyebar, terutama di ruang digital, sering kali empati tidak diberikan kesempatan untuk bekerja. Dalam keadaan seperti ini, akhlak justru diuji melalui cara kita berbicara—apakah kata-kata kita ikut menambah luka, atau justru membuka ruang untuk saling memahami.
Pada akhirnya, berbicara dengan hati adalah ikhtiar untuk menjaga keharmonisan dalam setiap perjumpaan. Ia menuntut kesadaran bahwa kata-kata bukan hanya untuk didengar, tetapi untuk dirasakan. Empati mengajarkan kita untuk menahan diri sebelum menghakimi, memilih bahasa yang merawat martabat, dan menyampaikan kebenaran tanpa melukai.
Dalam komunikasi yang demikian, akhlak tidak lagi sekadar konsep, melainkan hadir sebagai laku hidup sehari-hari. Di sanalah kesalehan sosial menemukan hakikatnya—dalam tutur yang lembut, sikap yang menghormati, dan komitmen untuk terus memanusiakan manusia, sebagaimana Islam mengajarkannya.
Penulis: Mega Ardina, M.Sc. (Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta)











Leave a Reply
Want to join the discussionFeel free to contribute!