Ketahanan pangan

Ketahanan pangan bukan hanya soal tumpukan beras di gudang, melainkan memastikan akses fisik dan ekonomi terhadap nutrisi seimbang. Dalam pandangan global, masalah ini merupakan inti dari Sustainable Development Goals (SDGs). Universitas Airlangga mencatat bahwa upaya pangan di tingkat desa berkaitan erat dengan SDGs poin ke-2 (Zero Hunger) (Unairnews, 2025). Tujuan SDGs kedua adalah menghilangkan kelaparan (Zero Hunger) dan mencapai ketahanan pangan. Selain itu, ini merupakan upaya perbaikan gizi, peningkatan nutrisi, serta pertanian yang berkelanjutan. Komitmen ini dapat tercapai dengan tersedianya akses atas makanan-makanan yang sehat, cukup, dan seimbang bagi semua orang. Kesadaran global ini kemudian diturunkan menjadi mandat nasional yang tegas yaitu kewajiban mengalokasikan minimal 20% Dana Desa untuk ketahanan pangan. Kebijakan ini mengubah fungsi kalurahan. Kini, desa bukan lagi sekadar unit administratif, melainkan aktor utama dalam menjaga  stabilitas pangan nasional di tengah ancaman krisis iklim dan fluktuasi ekonomi.

Ketahanan Pangan

Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mandat tersebut diimplementasikan dengan semangat yang besar. Sektor pertanian terbukti sebagai pilar ekonomi utama, sebagaimana dicatat oleh Kanwil Ditjen Perbendaharaan (DJPb) DIY bahwa bidang ini memberikan kontribusi pertumbuhan hingga 40,27% pada triwulan pertama tahun 2023 (Kemenkeu, 2024). Uniknya, setiap wilayah di DIY mempunyai strategi sendiri sesuai kondisi geografisnya. Di wilayah agraris seperti Bantul dan Gunungkidul, program masih bertumpu pada padi dan lumbung pangan tradisional. Sebaliknya, di area dengan keterbatasan lahan seperti Kota Yogyakarta dan sebagian Sleman, inovasi beralih ke urban farming, termasuk lorong sayur, tabulampot, dan hidroponik. Semangat ini bahkan melampaui batas sektoral, terlihat dari partisipasi kepolisian di Kulon Progo yang terlibat dalam gerakan penanaman padi.

Salah satu bukti keseriusan pemerintah kalurahan dalam mewujudkan ketahanan pangan adalah sebagaimana yang dilakukan oleh Kalurahan Bangunharjo, Bantul. Melalui Musyawarah Kalurahan, mereka menyepakati penyertaan modal sebesar Rp405 juta pada tahun 2025. Dana substansial ini disalurkan ke BUMKal untuk mengoptimalkan lahan produktif, dengan program meliputi budidaya pisang (Rp129.578.000), terong ungu (Rp122.976.000), padi (Rp73.198.500), dan domba (Rp79.247.500) (Kalurahan Bangunharjo, 2025). Angka ini mencerminkan komitmen desa yang serius. Namun, Di balik optimisme dari angka-angka ratusan juta tersebut, pada kenyataannya dalam implementasinya penuh rintangan. Kendala utama berasal dari aspek birokrasi. Temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan DIY mengungkapkan keluhan dari Kepala DPMKal Bantul, Sri Nuryani, yang mengatakan, “Hingga saat ini belum ada juknis ihwal pengalokasian Dana Desa untuk ketahanan pangan. Kami telah mengalokasikan 20% Dana Desa, tetapi lantaran juknis tersebut belum kunjung terbit, maka para lurah belum merealisasikan pengalokasian itu” (BPK, 2025). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun alokasi sudah disiapkan, regulasi teknis yang jelas masih belum ada, sehingga menghambat realisasinya.

Transparansi dan partisipasi pada akhirnya menjadi kunci. Beban ketahanan pangan tidak bisa hanya diletakkan di pundak Lurah atau direktur BUMKal. Ketahanan program ini bergantung pada pengawasan aktif dan partisipasi seluruh elemen warga, mulai dari Kelompok Wanita Tani (KWT) hingga pemuda. Mengutip semangat transparansi dari portal Desa Tepus, keterbukaan penggunaan Dana Desa adalah kunci agar masyarakat merasa memiliki program tersebut (Kapanewon, 2025). Keberhasilan ketahanan pangan di DIY bukan diukur dari nominal rupiah yang dikeluarkan, melainkan dari seberapa mandiri dan berdaulatnya warga desa memenuhi kebutuhan piring mereka sendiri secara berkelanjutan.

Oleh : Siti Isyfaiyah (Mahasiswa Administrasi Publik UNISA Yogyakarta)

Cosmic

Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta turut berpartisipasi dalam kegiatan COSMIC VI (Competition of Skill, Multiple Intelligence, and Creativity) yang diselenggarakan oleh SMA Muhammadiyah Ahmad Dahlan Metro, Sabtu (31/1/2026), di Kota Metro, Lampung. Kegiatan ini mengusung tema “Beyond the Horizon: Embracing Potential, Celebrating Our Unity”.

Cosmic VI

COSMIC VI diikuti oleh lebih dari 1.000 peserta dari berbagai sekolah dengan 19 cabang lombaakademik dan nonakademik. UNISA Yogyakarta hadir dalam acara pembukaan yang diwakili oleh Wakil Rektor II UNISA Yogyakarta, Dr. Yuli Isnaeni, S.Kp., M.Kep., Sp.Kom.

Dalam sambutannya, Yuli Isnaeni mengapresiasi semangat dan talenta para peserta serta menyampaikan komitmen UNISA Yogyakarta dalam mendukung prestasi pelajar melalui pemberian beasiswa prestasi bagi para juara COSMIC VI.

“Ajang seperti COSMIC VI ini sangat penting sebagai ruang aktualisasi bagi generasi muda untuk mengekspresikan potensi terbaiknya. UNISA Yogyakarta mengapresiasi semangat para peserta yang berani berkompetisi, berprestasi, dan terus berkembang,” ungkapnya.

Selain menghadiri pembukaan, UNISA Yogyakarta juga membuka layanan PMB on the spot, memberikan gratis biaya pendaftaran, serta menyediakan informasi lengkap mengenai UNISA Yogyakarta dan peluang beasiswabagi peserta dan pengunjung.

Es Gabus

Dosen Prodi Gizi Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Diah Puspitasari angkat bicara terkait viralnya kasus Pedagang Es Gabus di Kemayoran, Jakarta Pusat, beberapa waktu terakhir. Dari sudut pandang kesehatan atau pun gizi, Es Gabus bukan sumber gizi utama, meski demikian tidak juga berbahaya bila dibuat dari bahan pangan yang sesuai standar.

Diah mengatakan es gabus termasuk pangan selingan atau jajanan, bukan pangan pokok maupun pangan bergizi lengkap. Artinya, es gabus boleh dikonsumsi sesekali, tetapi tidak untuk menggantikan makanan utama, terutama bagi anak-anak. “Dari sisi gizi, es gabus bukan sumber zat gizi utama, namun tidak otomatis berbahaya bila dibuat dari bahan pangan yang sesuai standar atau diizinkan,” kata Diah, Sabtu (31/1/2026).

Es Gabus

Diah menjelaskan es gabus sendiri merupakan jajanan tradisional atau bahasa lainnya jajanan jadul yang sudah ada sejak lama, dimana es gabus ini umumnya bahan dasarnya adalah tepung hunkwe atau tepung sari pati kacang hijau, gula, air atau santan dan juga pewarna makanan lalu dibekukan.

Diah mengungkapkan yang dipermasalahkan saat ini bentuk es gabus seperti spons, bahkan ketika diperas tidak hancur. Struktur seperti spons pada es gabus merupakan efek proses dari kandungan pati yang berbentuk amilopektin yang ada dalam tepung hunkwe, dimana ketika dipanaskan bersama air, pati tersebut mengalami proses gelatinisasi, yaitu granula pati membengkak, menyerap air, dan membentuk jaringan gel yang kuat.

“Selama pengadukan dan pemasakan, udara ikut terperangkap di dalam matriks gel pati. Udara inilah yang nantinya membentuk rongga-rongga kecil seperti spons. Selanjutnya, pada proses pembekuan, air di dalam jaringan gel membentuk kristal es yang memperkuat struktur berpori tersebut. Kombinasi proses ini menyebabkan tekstur es gabus menjadi berongga dan menyerupai spons. Struktur ini tidak dapat kembali ke bentuk semula sehingga ketika ditekan, yang terjadi hanyalah keluarnya air dari jaringan gel, sementara yang tersisa adalah kerangka pati, bukan karena adanya bahan non-pangan seperti spons,” jelas Diah.

Diah mengingatkan dalam pembuatan Es Gabus ini yang paling penting untuk diperhatikan adalah penggunaan bahan bakunya, karena keamanan pangan dalam pembuatan es gabus bergantung pada penggunaan bahan seperti pewarna, pemanis, air yang digunakan serta kebersihan proses produksi dan penyimpanan. Akan tetapi hal ini pun tidak bisa kita tentukan keamanannya hanya melalui visualnya saja, butuh penilaian secara ilmiah untuk mengetahui apakah pangan tersebut berbahaya/tidak.

“Karena es gabus identik dengan warna yang menarik dan rasanya yang manis, bahan yang paling berpotensi menimbulkan risiko adalah penggunaan bahan pewarna non pangan, serta pemanis buatan yang melebihi batas standar yang telah ditentukan oleh BPOM maupun penggunaan pemanis yang dilarang atau yang paling sederhana adalah penggunaan air yang tidak bersih,” kata Diah.

Diah mengatakan jika ada bahan yang tidak sesuai standar dan dikonsumsi, bisa muncul risiko gangguan pencernaan, paparan bahan kimia berbahaya dalam jangka panjang. Ia juga mengingatkan pedagang untuk menjadi pedagang yang baik dan amanah dengan menggunakan bahan baku dan bahan tambahan pangan yang berlabel serta diizinkan, memastikan penggunaan air, alat dan proses produksi dalam keadaan bersih serta menyimpannya dalam tempat tertutup.

Untuk orang tua, ia berpesan sebaiknya mengedukasi, bukan menakut-nakuti anak. “Kenalkan pada anak sejak dini tentang jenis makanan yang bergizi dan tidak. Ajarkan pula anak untuk mengenali jajanan yang bersih, tidak berwarna terlalu mencolok, dan dikonsumsi secara terbatas. Sebab larangan tanpa edukasi justru bisa menimbulkan ketakutan yang tidak berdasar pada anak,” ucap Diah.

Secara khusus Diah juga menyoroti, isu Es Gabus yang viral ini menunjukkan bahwa disinformasi mengenai informasi pangan yang tidak tepat, dapat berdampak sosial yang serius dari segi rasa aman pada konsumen dan juga sangat merugikan pedagang. “Isu seperti ini sangat perlu disikapi secara rasional dan bijak ya. Kita tidak boleh asal percaya dan asal menyudutkan pihak tertentu sebelum melihat dengan baik apa yang sebenarnya terjadi, sebab keamanan pangan tidak bisa didasarkan hanya dari sebatas asumsi atau visual semata,” ucap Diah.

Ucap janji

Program Studi Keperawatan Anestesiologi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA) menyelenggarakan kegiatan Ucap Janji Mahasiswa dan Pembekalan Pra-Klinik sebagai langkah awal sebelum mahasiswa memasuki tahap praktik klinik di rumah sakit.

Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam membangun kesiapan mahasiswa, baik secara akademik, keterampilan klinis, maupun integritas profesional sebagai calon perawat anestesi yang akan terlibat langsung dalam pelayanan perioperative, perawatan pasien bedah dan kritis.

Ucap Janji sebagai Komitmen Moral dan Profesional

Kegiatan ucap janji dipandang bukan sekadar seremoni, tetapi merupakan bentuk komitmen moral mahasiswa sebelum memasuki dunia klinik.

Kaprodi Keperawatan Anestesiologi UNISA, Heri Puspito, S.Kep., Ns., MKM, menyampaikan bahwa ucap janji menjadi simbol kesiapan mahasiswa dalam menjalankan praktik keperawatan anestesiologi dengan menjunjung tinggi etika profesi dan keselamatan pasien.

“Ucap janji ini menjadi bentuk tanggung jawab moral mahasiswa untuk menjalankan praktik klinik secara profesional. Setiap tindakan yang dilakukan nantinya berkaitan langsung dengan keselamatan pasien, sehingga integritas dan etika harus selalu menjadi dasar utama,” ungkap Heri Puspito.

Pembekalan Pra-Klinik untuk Penguatan Kompetensi

Pembekalan pra-klinik dirancang untuk menekankan berbagai kompetensi dasar yang wajib dimiliki mahasiswa Keperawatan Anestesiologi. Materi yang diberikan mencakup penguatan kemampuan klinis dasar anestesiologi, patient safety, komunikasi terapeutik, serta kolaborasi dalam tim bedah dan anestesi.

Mahasiswa juga dibekali pemahaman mengenai kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) rumah sakit, standar pelayanan anestesi, serta kesiapan menghadapi situasi klinik yang dinamis.

Persiapan Menghadapi Tantangan Etika dan Profesionalisme

Dalam praktik klinik, mahasiswa tidak hanya dituntut terampil secara teknis, tetapi juga mampu menunjukkan sikap profesional dan etis. Pembekalan ini memberikan arahan tentang batas kewenangan mahasiswa, pentingnya menjaga kerahasiaan pasien, serta membangun sikap disiplin dan empati dalam pelayanan.

“Mahasiswa harus siap menghadapi tantangan nyata di ruang operasi maupun unit kritis. Profesionalisme dan integritas adalah kunci utama dalam praktik keperawatan anestesiologi,” tambah Kaprodi.

Dukungan Fakultas Kesehatan UNISA

Dekan Fakultas Kesehatan UNISA, Dr. Dewi Rokhanawati, S.Si.T., M.P.H., turut memberikan arahan dan motivasi kepada mahasiswa. Ia menekankan pentingnya kesiapan mental, sikap humanis, serta komitmen pelayanan dalam menjalani praktik klinik.

“Mahasiswa Keperawatan Anestesiologi harus mampu menunjukkan kompetensi sekaligus karakter sebagai tenaga kesehatan yang beretika. Praktik klinik bukan hanya tentang keterampilan teknis, tetapi juga tentang empati, komunikasi, dan pelayanan yang berorientasi pada keselamatan pasien,” ujar Dr. Dewi Rokhanawati.

Fokus Pembekalan Tahun Ini

Tahun ini, pembekalan pra-klinik difokuskan pada penguatan aspek keselamatan pasien, pembaruan standar anestesi perioperatif, simulasi keterampilan klinis dasar, serta kesiapan mental mahasiswa dalam menghadapi tekanan kerja di lingkungan rumah sakit.

Program studi juga menyesuaikan materi dengan perkembangan teknologi anestesi serta kebutuhan layanan kesehatan modern.

Peran Dosen dan Instruktur Klinik

Kesiapan mahasiswa dipastikan melalui pendampingan intensif oleh dosen dan instruktur klinik. Evaluasi dilakukan melalui simulasi praktik, OSCE, pembinaan karakter, serta koordinasi dengan lahan praktik agar mahasiswa siap secara menyeluruh sebelum diterjunkan.

“Dosen dan instruktur klinik memiliki peran penting untuk memastikan mahasiswa tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga matang secara mental dan etika,” jelas Kaprodi.

Harapan Program Studi

Program studi berharap mahasiswa dapat menunjukkan sikap disiplin, tanggung jawab, empati, serta mampu menjaga nama baik institusi dan profesi selama menjalani praktik klinik.

“Kami berpesan kepada seluruh mahasiswa, jadikan ucap janji ini sebagai pedoman dalam setiap tindakan. Masuklah ke dunia klinik dengan niat belajar, melayani dengan hati, dan selalu mengutamakan keselamatan pasien,” pesan Heri Puspito.

Mendukung Visi Lulusan Profesional dan Beretika

Kegiatan ucap janji dan pembekalan pra-klinik ini merupakan langkah strategis dalam mendukung visi Program Studi Keperawatan Anestesiologi UNISA untuk menghasilkan lulusan yang kompeten, profesional, beretika, serta siap memberikan pelayanan anestesi berkualitas sesuai standar nasional dan kebutuhan layanan kesehatan modern.

Gizi

Kualitas pendidikan kesehatan Universitas `Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta kembali menjadi magnet bagi perguruan tinggi lain. Kali ini, dua institusi kesehatan asal Jawa Timur, yakni Akademi Gizi Karya Husada dan STIKES Karya Husada Kediri, melakukan kunjungan studi banding ke kampus UNISA di Sleman, Senin (26/01/2026).

Ahli Gizi

Bertempat di Ruang Sidang Gedung Siti Moendjijah, rombongan tamu disambut langsung oleh Ketua Program Studi Gizi UNISA Yogyakarta, Agung Nugroho, A.MG., MPH. Dalam pertemuan hangat tersebut, Agung mengajak para tamu mengenal lebih dekat dapur pendidikan gizi UNISA, mulai dari sejarah, fasilitas laboratorium, hingga proses pembelajaran yang selama ini diterapkan. Agung menekankan bahwa pertemuan ini bukan sekadar seremonial, melainkan ajang tukar ilmu.

“Harapan dengan adanya kunjungan ini, kita bisa saling berbagi pengalaman dari masing-masing institusi. Tujuannya satu, untuk kemajuan pendidikan gizi kita bersama,” ujar Agung.

Sementara itu, Ketua Prodi Sarjana Gizi STIKES Karya Husada Kediri, Frenky Arif Budiman, S.Gz., M.Gizi, tak menampik bahwa pihaknya ingin belajar dan mencari solusi. Menurutnya, UNISA Yogyakarta dipilih sebagai rujukan karena dinilai memiliki tata kelola yang mapan.

“Tujuan kami datang untuk belajar menjadi institusi yang lebih baik. Ilmu yang kami dapat dari sini akan menjadi bekal berharga untuk disampaikan kepada pimpinan dan diterapkan di Kediri,” ungkap Frenky.

Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi intens antar-prodi. Kedua belah pihak membedah kurikulum dan strategi manajemen akademik guna mencetak lulusan ahli gizi yang siap bersaing di dunia kerja.