Lebaran

Hari Raya Lebaran Idul Fitri selalu datang dengan janji kebahagiaan. Ia adalah momen kembali, kembali ke rumah, ke pelukan keluarga, dan ke versi diri yang mungkin sempat tertinggal di kampung halaman. Tradisi mudik di Indonesia bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi perjalanan emosional yang sarat makna. Namun, di balik hangatnya opor ayam dan riuhnya tawa keluarga, ada satu fenomena yang diam-diam mengusik: pertanyaan-pertanyaan stigmatif.

“Kapan lulus?”

“Kapan kerja?”

“Kapan nikah?”

“Kapan punya anak?”

Pertanyaan-pertanyaan ini terdengar sederhana, bahkan sering dianggap sebagai bentuk perhatian. Namun bagi sebagian orang, ia bisa terasa seperti interogasi yang menekan, bahkan melukai.

Ketika Lebaran Tidak Lagi Sepenuhnya Membahagiakan

Dalam perspektif Martin Seligman, kebahagiaan tidak hanya ditentukan oleh kondisi internal, tetapi juga oleh kualitas interaksi sosial. Artinya, suasana Lebaran yang seharusnya membahagiakan bisa berubah menjadi sumber stres ketika lingkungan sosial menghadirkan tekanan psikologis.

Bagi mahasiswa tingkat akhir, pertanyaan “kapan lulus” bisa memicu rasa gagal.

Bagi fresh graduate, “kapan kerja” terasa seperti penghakiman.

Bagi yang belum menikah, “kapan nikah” menjadi beban sosial.


Dan bahkan setelah menikah, tekanan tidak berhenti: “Kapan punya momongan?”

Fenomena ini menunjukkan satu hal penting: standar kehidupan sering kali dipersempit menjadi checklist sosial, bukan perjalanan personal. Itulah kenyataan yang sering terjadi saat Lebaran yang semestinya membahagiakan berubah menjadi momok menakutkan yang tidak lagi sepenuhnya membahagiakan.

Mengapa Pertanyaan Ini Terus Muncul? Fenomena ini tidak terjadi tanpa alasan. Ia berakar kuat dalam budaya, nilai, dan dinamika sosial masyarakat Indonesia. Beberapa hal ini menjadi pemicu munculnya pertanyaan-pertanyaan tersebut.

1. Standar Kedewasaan yang Terstruktur

Dalam banyak budaya lokal, keberhasilan hidup diukur dari tiga hal: pendidikan, pekerjaan, dan pernikahan. Ketika seseorang belum memenuhi salah satu “tahapan” ini, maka muncul dorongan sosial untuk “mengingatkan”. Namun, yang sering terlupakan adalah: setiap individu memiliki timeline kehidupan yang berbeda.

2. Cinta yang Berubah Menjadi Tekanan

Sering kali, pertanyaan tersebut lahir dari niat baik, kekhawatiran orang tua atau keluarga. Mereka ingin memastikan kita “baik-baik saja”. Namun, cara menyampaikan kepedulian ini tidak selalu selaras dengan kondisi psikologis penerimanya. Sehingga, yang niatnya perhatian, bisa terasa seperti tekanan.

3. Bias Gender dalam Tekanan Sosial

Perempuan cenderung menerima tekanan lebih besar, khususnya terkait pernikahan. Dalam banyak konteks budaya, perempuan yang belum menikah di usia tertentu sering distigmatisasi, secara halus maupun terang-terangan. Ini bukan hanya soal pertanyaan, tetapi tentang ekspektasi sosial yang tidak seimbang.

4. Kontrol Sosial dalam Balutan Tradisi

Pertanyaan-pertanyaan ini juga berfungsi sebagai alat kontrol sosial. Tanpa disadari, masyarakat “menjaga norma” dengan cara saling mengingatkan, meskipun sering kali melukai.

Akibatnya, rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, justru bisa terasa mengancam secara emosional.

Dampak Psikologis: Dari Tidak Nyaman Hingga Cemas

Apa yang sering dianggap sepele ternyata memiliki dampak nyata, seperti munculnya ketidakpercayaan diri dan perasaan tidak cukup baik, perbandingan sosial yang tidak sehat, penurunan rasa percaya diri, kecemasan sosial, bahkan menghindari silaturahmi, dan dalam kasus tertentu, dapat memicu gejala depresi ringan. Ini menunjukkan bahwa kata-kata memiliki kekuatan psikologis yang besar, terutama ketika diulang dalam konteks sosial yang intens seperti Lebaran.

Lalu apa yang sebaiknya dilakukan sebagai strategi cerdas untuk menghadapinya tanpa drama? Menghindari sepenuhnya mungkin sulit. Tapi kita bisa mengelola respon kita. Beberapa cara ini semoga bisa menjadi alternatif solusi bagi para mudikers dengan permasalahan serupa;

1. Kendalikan Arah Percakapan

Mulailah dengan topik netral: makanan, perjalanan, atau cerita ringan. Orang cenderung mengikuti alur yang sudah dibuka.

Mengendalikan arah percakapan adalah strategi sederhana namun efektif untuk menghindari pertanyaan yang terlalu pribadi atau menekan. Dalam interaksi sosial, orang cenderung mengikuti topik yang pertama kali dibuka atau yang sedang mengalir dalam pembicaraan. Oleh karena itu, ketika berkumpul saat Lebaran, Anda bisa secara aktif memulai percakapan dengan topik-topik netral seperti makanan khas Lebaran, pengalaman perjalanan mudik, atau cerita ringan seputar aktivitas sehari-hari. Topik-topik ini bersifat aman, menyenangkan, dan dapat melibatkan banyak orang tanpa menyinggung ranah pribadi.

Dengan membangun suasana obrolan yang santai dan umum, Anda secara tidak langsung mengarahkan perhatian lawan bicara sehingga mereka tidak terdorong untuk masuk ke pertanyaan sensitif seperti “kapan nikah” atau “kapan kerja”. Selain itu, teknik ini juga membantu menciptakan interaksi yang lebih positif dan hangat, karena fokus pembicaraan bergeser dari penilaian terhadap individu menjadi pengalaman bersama. Dengan kata lain, Anda tidak hanya melindungi diri dari tekanan sosial, tetapi juga turut menciptakan kualitas komunikasi yang lebih sehat dalam lingkungan keluarga.

2. Gunakan Teknik “Deflect & Redirect”

Jawab singkat dan alihkan, atau disebut dengan teknik “deflect & redirect”, adalah cara komunikasi yang cerdas untuk menghadapi pertanyaan sensitif tanpa menimbulkan konflik atau suasana canggung. Prinsipnya sederhana: jawab pertanyaan secara singkat, netral, dan tidak membuka ruang diskusi lebih lanjut, lalu segera alihkan pembicaraan ke topik lain yang lebih ringan. Misalnya, ketika ditanya “kapan nikah?”, Anda bisa menjawab, “Doakan saja ya, masih proses,” lalu langsung mengalihkan dengan pertanyaan lain seperti, “Eh, kemarin tante sempat ke mana liburan?” Pola ini membantu menjaga sopan santun sekaligus melindungi batas privasi diri.

Teknik ini efektif karena sebagian besar orang tidak menyadari bahwa arah percakapan bisa dikendalikan. Ketika Anda memberikan jawaban singkat tanpa emosi berlebih, lawan bicara cenderung tidak memiliki “bahan” untuk menggali lebih dalam. Ditambah dengan pengalihan topik yang cepat, fokus percakapan akan berpindah secara alami. Dengan cara ini, Anda tetap terlihat ramah dan menghargai lawan bicara, namun tetap memiliki kendali atas informasi pribadi yang ingin Anda bagikan.

3. Senyum sebagai “Psychological Shield”

Senyum dapat berfungsi sebagai “psychological shield” atau pelindung psikologis dalam situasi sosial yang tidak nyaman. Ia bukan sekadar bentuk sopan santun, tetapi juga strategi regulasi emosi yang sederhana namun efektif. Dalam perspektif psikologi positif yang dipopulerkan oleh Martin Seligman, ekspresi wajah yang positif seperti tersenyum dapat memengaruhi kondisi emosi internal seseorang. Ketika kita tersenyum, otak menerima sinyal bahwa situasi relatif aman, sehingga membantu menurunkan ketegangan, mengurangi stres, dan menstabilkan suasana hati. Dengan kata lain, senyum tidak hanya mencerminkan perasaan, tetapi juga dapat membentuk perasaan itu sendiri.

Dalam konteks sosial seperti Lebaran, senyum juga berfungsi sebagai “peredam” interaksi yang berpotensi menimbulkan ketegangan. Ketika menghadapi pertanyaan yang kurang nyaman, merespons dengan senyum dapat mencegah eskalasi emosi sekaligus menjaga hubungan tetap hangat. Selain itu, dalam ajaran Islam, senyum memiliki nilai ibadah karena dianggap sebagai bentuk sedekah yang sederhana namun bermakna. Ini menunjukkan bahwa senyum tidak hanya berdampak pada diri sendiri secara psikologis, tetapi juga memberikan efek positif bagi orang lain, menciptakan suasana yang lebih damai dan penuh penerimaan.

4. Gunakan Humor sebagai Katup Emosi

Humor dapat menjadi “katup emosi” yang efektif untuk meredakan ketegangan dalam situasi sosial yang canggung atau menekan. Ketika menghadapi pertanyaan sensitif seperti “kapan nikah?”, merespons dengan candaan ringan, misalnya “Nikah? Lagi nunggu diskon besar-besaran nih”, dapat mengubah suasana yang semula tegang menjadi lebih santai. Dalam psikologi, humor dikenal sebagai salah satu mekanisme koping adaptif karena mampu membantu individu mengelola stres tanpa harus bersikap defensif atau emosional. Dengan humor, kita tidak menghindar sepenuhnya, tetapi juga tidak terjebak dalam penjelasan panjang yang bisa membuat kita semakin tidak nyaman.

Selain itu, tertawa bersama memiliki efek sosial yang kuat. Humor mencairkan suasana, mempererat hubungan, dan mengalihkan fokus dari topik sensitif ke interaksi yang lebih menyenangkan. Orang yang semula bertanya pun biasanya akan ikut tertawa dan tidak melanjutkan pertanyaan tersebut. Dengan demikian, humor bukan hanya melindungi diri dari tekanan psikologis, tetapi juga menjaga keharmonisan dalam komunikasi. Strategi ini menunjukkan bahwa menghadapi situasi sulit tidak selalu harus serius; kadang, sedikit tawa justru menjadi solusi paling bijak.

5. Validasi Diri Sendiri (Self-Compassion)

Validasi diri sendiri atau self-compassion adalah kemampuan untuk memperlakukan diri dengan penuh pengertian, terutama saat menghadapi tekanan sosial atau ekspektasi dari orang lain. Dalam situasi seperti Lebaran, ketika pertanyaan-pertanyaan pribadi sering muncul, penting untuk menyadari bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh standar eksternal seperti status pekerjaan, pernikahan, atau pencapaian tertentu. Konsep ini banyak dikembangkan oleh Kristin Neff, yang menjelaskan bahwa menerima diri apa adanya, dengan segala proses dan keterbatasan, merupakan kunci kesehatan mental yang lebih stabil. Dengan kata lain, kita tidak perlu selalu “terlihat berhasil” di mata orang lain untuk merasa berharga.

Salah satu cara sederhana untuk melatih self-compassion adalah melalui afirmasi positif. Kalimat seperti “Aku sedang berjalan di waktuku sendiri. Tidak perlu terburu-buru untuk memenuhi ekspektasi orang lain” dapat membantu menenangkan pikiran dan mengurangi tekanan internal. Afirmasi ini bukan sekadar kata-kata, tetapi bentuk dialog sehat dengan diri sendiri yang memperkuat rasa percaya diri dan penerimaan. Ketika kita mampu memvalidasi diri, kita menjadi lebih tahan terhadap penilaian sosial, lebih tenang dalam menghadapi pertanyaan yang sensitif, dan lebih mampu menjalani hidup sesuai dengan ritme serta tujuan pribadi kita sendiri.

6. Ambil Jeda Jika Diperlukan

Jika sudah terlalu melelahkan, tidak apa-apa untuk menjauh sejenak. Tarik napas dalam, lakukan relaksasi, atau praktik sederhana seperti butterfly hug untuk menenangkan diri. Butterfly hug adalah teknik sederhana untuk menenangkan diri yang bisa dilakukan siapa saja, terutama saat menghadapi situasi yang membuat tidak nyaman seperti pertanyaan sensitif saat Lebaran. Teknik ini berasal dari pendekatan EMDR therapy, namun kini banyak digunakan sebagai latihan relaksasi mandiri karena praktis dan tidak memerlukan alat kecuali kedua tangan kita sendiri dan tubuh kita seolah memeluk diri sendiri. Cara melakukannya cukup mudah: silangkan kedua tangan di dada seperti memeluk diri sendiri, dengan tangan kanan menyentuh bahu kiri dan tangan kiri menyentuh bahu kanan. Setelah itu, lakukan tepukan lembut secara bergantian di kedua bahu dengan ritme yang pelan dan nyaman, sambil menarik napas dalam melalui hidung dan menghembuskannya perlahan melalui mulut. Fokuskan perhatian pada napas dan sensasi tubuh, serta biarkan pikiran yang muncul datang dan pergi tanpa dilawan. Jika ingin, Anda juga bisa menambahkan kalimat positif dalam hati seperti “saya aman” atau “ini hanya sementara” untuk membantu menenangkan diri.

Teknik ini efektif karena sentuhan lembut dan ritme yang berulang dapat mengirimkan sinyal aman ke otak, sehingga membantu menurunkan ketegangan, memperlambat detak jantung, dan membuat emosi menjadi lebih stabil. Dalam kondisi cemas atau tertekan, tubuh sering berada dalam hati siaga, dan butterfly hug membantu mengembalikan tubuh ke hati yang lebih rileks. Oleh karena itu, teknik ini sangat cocok digunakan ketika seseorang mulai merasa tidak nyaman dalam interaksi sosial, mengalami overthinking, atau membutuhkan cara cepat untuk menenangkan diri tanpa harus bergantung pada orang lain. Dengan durasi yang singkat, sekitar satu hingga tiga menit, seseorang sudah dapat merasakan perubahan pada kondisi emosinya menjadi lebih tenang dan terkendali.

Meski demikian, penting untuk dipahami bahwa butterfly hug bukanlah pengganti bantuan profesional jika seseorang mengalami gangguan psikologis yang lebih serius, melainkan sebagai bentuk “pertolongan pertama emosional” yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks Lebaran, di mana interaksi sosial meningkat dan berbagai pertanyaan pribadi sering muncul, teknik ini bisa menjadi cara sederhana untuk menjaga keseimbangan emosi tanpa harus bereaksi berlebihan. Pada akhirnya, kemampuan untuk menenangkan diri adalah bagian penting dari kesehatan mental, dan melalui langkah kecil seperti butterfly hug, kita belajar untuk lebih hadir, menerima diri, dan merespons situasi dengan lebih tenang dan bijak.

Lebaran sejatinya adalah tentang “Kembali”, bukan hanya ke rumah, tetapi juga ke hati yang lebih lapang. Maka, kemenangan tidak hanya diukur dari seberapa banyak kita memaafkan orang lain, tetapi juga seberapa mampu kita menjaga kesehatan mental kita sendiri.

Jika ada yang bertanya “kapan?”, mungkin kita bisa menjawab dalam hati:
“Pada waktu yang tepat, versi terbaikku akan tiba.” Selamat merayakan Idul Fitri.
Mari kita menangkan bukan hanya ego, tetapi juga emosi. Karena bahagia adalah hak kita, tanpa syarat, tanpa deadline.

Lebaran sejatinya adalah tentang “Kembali”, bukan hanya kembali ke rumah, tetapi juga kembali ke hati yang lebih lapang dan penuh penerimaan. Momen Idul Fitri mengajarkan kita bahwa kemenangan tidak semata-mata diukur dari seberapa banyak kita memaafkan orang lain, tetapi juga dari kemampuan kita merawat diri sendiri, termasuk menjaga kesehatan mental. Di tengah hangatnya silaturahmi, penting untuk tetap menyadari batas diri, memahami emosi yang muncul, dan tidak memaksakan diri untuk memenuhi ekspektasi sosial yang belum tentu selaras dengan perjalanan hidup kita.

Jika ada yang bertanya “kapan?”, mungkin kita tidak perlu selalu menjawab dengan penjelasan panjang. Cukup jawab dalam hati dengan tenang: “Pada waktu yang tepat, versi terbaikku akan tiba.” Kalimat sederhana ini adalah bentuk kepercayaan bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Selamat merayakan Idul Fitri. Mari kita menangkan bukan hanya ego, tetapi juga emosi, karena pada akhirnya bahagia adalah hak setiap manusia, tanpa syarat, tanpa perbandingan, dan tanpa batas waktu.

Oleh : Ratna Yunita Setiyani Subardjo, Ph.D., Psikolog (Dosen Psikologi UNISA Yogyakarta)

Idul fitri 1447 h

Kita Sedang menyongsong Idul Fitri 1447 H di tahun 2025. Sebulan penuh umat muslim berpuasa Ramadhan. Dalam tradisi bangsa-bangsa bulan ramadhan selalu di sambut dengan aneka rupa aktifitas sebagai wujud kegembiraan budaya. Dari penyiapan makan khusus, perlengkapan ibadah khusus atau bahkan baru, acara-acara khusus seperti silaturahmi, saling mengirim makanan dan membatalkan puasa bersama komunitas ketika adzan berkumandang. Bahkan dinegara-negara dengan budaya barat kristiani dimana komunitas muslim berada biasanya pendatang, pelajar dan mungkin turis mereka berkumpul disuatu tempat seperti alun-alaun atau meeting point untuk berbagi makanan berbuka. Acaranya berlangsung santai dan tidak mendapatkan penolakan dari penduduk loka. Tentu ini sangat mengembirakan.

Idul Fitri 1447 H

Bagi kaum muslim bulan Ramadhan salah satu dari empat shahrul hurum (bulan mulia) sangatlah istimewa. Bulan dimana amal baik dilipat gandakan pahalanya, lapar siang menjadi istimewa dan malam harinya menjadi mulia karena ibadah dan kontemplasi. Bahkan bau mulut orang yang berpuasa bagaikan wangi kasturi dari syurga. Inilah metafor bahwa Ramadhan memang istimewa. Saat Ramadhan tiba maka sisi spiritualitas manusia menjadi makin tinggi dan sifat keduniaan menjadi semakin rendah. Dengan begitu puasa akan mencapai tujuannya yaitu manusia taqwa (Qs: Al-Baqarah: 183). Ciri manusia taqwa tentu tidak saja tercermin dalam ritual ibadah akan tetapi juga akan nampak dalam kehidupan nyata ditengah-tengah masyarakat. Kata Taqwa bukanlah prilaku yang menggantung di langit akan tetapi harus berpijak di bumi.

Yuval Noah Harari dalam bukunya “Homo Deos: A brief History of Tomorrow”, dengan melihat perkembangan teknologi informasi yang makin cepat, Yuval menggambarkan bahwa di abad 21, Manusia tidak akan puas menjadi manusia biasa. Dengan penguasaan teknologi berbasis data seperti bioteknologi, rekayasa genetika dan kecerdasan buatan manusia akan berusaha untuk mengalahkan kematian, menciptakan kebahagian abadi dan meningkatkan kemampuan. Dengan mengagabungkan teknologi maka manusia dibayangkan akan memiliki kemampuan seperti dewa-dewa dalam mitos Yunani yang memiliki kekuatan yang melebihi manusia biasa. Yuval menyebutnya “Homo Deus” yang bermakna “manusia dewa” akan tetapi tidak dalam makna dewa yang magis lebih pada”manusia nyata” yang dengan teknologi seolah memeiliki kekeuatan seperti dewa. Sesuatu yang secara nyata hari ini mulai terlihat. Pertanyaan mendasarnya adalah apakah betul menjadi “Homo Deus “adalah yang dibutuhkan manusia?

Ramadhan tahun ini kita juga menikmatinya dengan keprihatinan mendalam serangan Amerika Serikat dan Israel atas nergara Iran mengharu biru emosi kita. Gedung luluh lantak dan ribuan orang meninggal karenanya dan tentu saja ada anak -anak penerus generasi manusia. Perang ini adalah perang dengan penggunaan teknologi tercanggih yang ada dimuka bumi. Perang di mana Manusia tidak perlu saling berhadapan. Dengan teknologi yang ada ditangan bertonton Rudal yang digerakkan oleh kecanggihan teknologi diluncurkan dan dikendalikan hanya dengan sebuah tombol. Dan merekapun saling menghancurkan. Merngerikan ! .

Melihat Perang ini dari layer kaca saya jadi ingat “ Homo deus” nya  Yuval seperti  tulisan diatas. Manusia dengan teknologi berperang seperti dewa-dewa berperang dengan kesaktiannya tanpa harus bertatap muka. Dengan tobol mereka saling menghancurkan. Perang yang merobek kesucian bulan Ramadhan dan nilai kemanusian kita.  Bukan sesuatu yang megis tetapi nyata.

Puasa Ramadhan apabila dijalankan satu bulan penuh sedikit banyak akan mampu merubah perilaku seseorang. Mengacu pada penelitian Maxwell Maltz dalam psycho-Cybernetics (1960) yang menyimpulkan bahwa untuk mendapatkan mental baru orang memelukan 21 hari melakukan dan merasakan hal yang sama. Meskipun penelitian ini kemudian dibantah oleh penelitian lain yang menyebutkan orang memerlukan 66 hari rata-rata untuk menerima kebiasan baru. Puasa dijalankan 29/30 hari dengan kegiatan positif baik berdemensi dunia maupuan akherat. Kita optimis karena 30 hari tentu lebih lama dibanding dengan 21 harinya Maxwell, puasa akan mampu mencapai tujuannya yaitu lahirnya manusia taqwa. Ukuran taqwa juga telah dinformasikan oleh al-qur’an dalam surat Ali Imron 133-135. Orang yang bertaqwa akan memiliki karakter utama yaitu dermawan (membagikan infaq/shodaqoh), tidak mudah marah dan pemaaf. Inilah karakter utama penyayang (rahmah) yang dimiliki Oleh Tuhan.   Karakter yang secara sosial akan merekatkan, mensejahterakan dan mendamaikan. Setelah satu bulan berpuasa manusia akan mampu mengekspresikan sifat Tuhan yang penyayang.

 Abad 21 ini jangan jangan yang kita butuhkan bukan “homo deus” manusia dewa yang ternyata masih mengobarkan perang dan saling bunuh untuk menyelesaikan persoalan. Yang kita butuhkan adalah “homo theos”, yaitu manusia yang mampu mengekspresikan sifat-sifat utama Tuhan yaitu kasih-sayang.  Puasa Romadhon telah memberi jalan agar kita bisa menjadi ‘homo theos”. Dan puasa dikenal dalam sejarah peradaban manusia dimanapun dan dalam kepercayaan dan agama manapun

Selamat hari raya Idul Fitri.

Oleh : Dr. M. Ali Imron, M.Fis (Wakil Rektor IV UNISA Yogyakarta)

S2 fisioterapi

Kabar gembira mewarnai dunia pendidikan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta makin mengukuhkan posisinya dengan resmi mengantongi izin pembukaan Program Studi (Prodi) Magister (S2) Fisioterapi.

S2 Fisioterapi

Langkah bersejarah ini ditandai dengan turunnya Surat Keputusan (SK) Mendiktisaintek RI No.215/B/O/2026. Dokumen penting tersebut diterima langsung oleh pihak kampus pada hari Kamis (12/03/2026). Kehadiran program magister ini makin melengkapi deretan pilihan akademik di UNISA Yogyakarta yang kini genap memiliki total 24 program studi.

Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKes) UNISA Yogyakarta, Dr. Dewi Rokhanawati, S.SiT., M.PH., menyambut antusias turunnya izin tersebut. Ia menegaskan bahwa prodi ini bukan sekadar pelengkap, melainkan amunisi baru untuk mencetak pakar kesehatan masa depan.

“SK Prodi Magister Fisioterapi sudah turun, ini menjadi momentum penting bagi FIKes UNISA Yogyakarta dalam memperluas pengembangan keilmuan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang kesehatan,” ungkap Dewi dengan penuh syukur saat menerima SK tersebut.

Ke depannya, Dewi menaruh harapan besar agar S2 Fisioterapi ini menjelma menjadi pusat inovasi yang berbasis riset kuat. Lulusan yang dihasilkan ditargetkan tak hanya profesional, tapi juga memiliki integritas tinggi di dunia medis.

itikaf

Itikaf sepuluh hari terakhir bulan Ramadan selalu menjadi momen yang paling dinanti. Di fase krusial ini, umat muslim berlomba-lomba memburu kemuliaan malam Lailatul Qadar. Salah satu ibadah pamungkas yang paling dianjurkan untuk meraihnya.

Itikaf

Bagi sahabat UNISA Yogyakarta yang baru pertama kali merencanakan i’tikaf, bayangan menginap di masjid mungkin terasa sedikit menantang. Padahal, dengan persiapan yang tepat, ibadah ini justru menjadi sarana detoks spiritual yang sangat luar biasa untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Agar i’tikaf perdana sahabat UNISA Yogyakarta berjalan lancar, nyaman, dan tetap fokus, simak panduan praktis berikut ini:

  • Luruskan Niat

Semua ibadah bergantung pada niatnya. Saat melangkah masuk ke area masjid, bacalah niat: “Nawaitu an a’takifa fi hadzal masjidi sunnatan lillahi ta’ala” (Aku berniat i’tikaf sunnah di masjid ini karena Allah ta’ala). Tinggalkan sejenak urusan duniawi di luar pagar masjid.

  • Persiapan Fisik dan Mental

Mengisi malam dengan qiyamul lail, tilawah, dan zikir tentu menguras stamina. Pastikan tubuh dalam kondisi fit. Atur jam tidur siang dengan baik agar tidak mudah tumbang saat malam hari.

  • Barang Bawaan Wajib (Anti Ribet)

Jangan membawa barang layaknya orang pindahan! Bawa perlengkapan tempur secukupnya:

  • Alat salat (sajadah tipis/mukena) dan pakaian ganti yang menyerap keringat.
  • Alat mandi ukuran travel size dan handuk kecil.
  • Al-Qur’an saku, tasbih, dan buku zikir pagi-petang.
  • Botol minum (tumbler) dan suplemen/obat-obatan pribadi (termasuk tolak angin atau vitamin).
  • Jaket atau selimut tipis jika masjid ber-AC dingin.

Kunci utama i’tikaf adalah meminimalisir distraksi. Jadi, tahan godaan untuk scrolling media sosial. Selamat berburu Lailatul Qadar!

Penulis: Adi Sasmito, S.I.Kom (Humas UNISA Yogyakarta)

Kampus

Kampus tidak boleh hanya menjadi pabrik pencetak sarjana tanpa ruh spiritual. Mengambil momentum di bulan suci Ramadan, Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menggelar program bertajuk Refreshing Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi seluruh Dosen dan Tenaga Kependidikan (Tendik).

Kampus UNISA Yogyakarta

Berlangsung selama dua hari, Kamis hingga Jumat (12-13/3/2026), agenda ini dipusatkan di Hall Baroroh Baried dan Ruang Sidang Gedung Siti Moendjijah. Mengusung tema “Internalisasi Ideologi Muhammadiyah sebagai Nilai-nilai Budaya Unggul”, acara ini menjadi ajang muhasabah sekaligus pembinaan ideologi.

Rektor UNISA Yogyakarta, Dr. Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat., menegaskan bahwa kampus adalah bagian dari amal usaha persyarikatan yang mengemban misi dakwah.

“Kegiatan ini bukan sekadar acara seremonial tahunan di bulan Ramadan. AIK ini merupakan ruh yang menghidupkan setiap gerak institusi ini,” tegas Warsiti.

Peringatan senada disampaikan oleh Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UNISA Yogyakarta, Dr. Siti Noordjannah Djohantini, M.M., M.Si. Ia menyoroti ancaman liberalisasi dan sekularisasi di dunia pendidikan tinggi saat ini.

“Dosen dan tendik sebagai motor penggerak utama perlu memiliki kesadaran bahwa aktivitas akademik, selain tugas profesional, juga merupakan bagian dari ibadah dan perjuangan,” tuturnya.

Untuk memastikan materi tersampaikan maksimal, acara ini dibagi menjadi dua sesi. Hari pertama dikhususkan bagi jajaran dosen, disusul seluruh tendik pada hari kedua. Tak tanggung-tanggung, UNISA Yogyakarta menghadirkan 12 narasumber ahli yang merupakan pimpinan langsung dari PP Muhammadiyah dan PP ‘Aisyiyah.