SDG 4SDG 15

Nafas Jogja di UNISA, Menggali Karakter Ahmad Dahlan dan Siti Walidah

Karakter

Yogyakarta selalu punya cara unik untuk menanamkan karakter dan nilai luhur pada generasi mudanya. Melanjutkan komitmen memperkuat identitas kebudayaan dalam pendidikan tinggi, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V menunjuk Universitas ’Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta sebagai tuan rumah gelaran Sarasehan Pendidikan Khas Kejogjaan Seri II.

Karakter

Forum dialog berbobot ini diselenggarakan di Hall Baroroh Baried UNISA Yogyakarta pada Rabu (4/11/2026). Mengangkat tema “Pendidikan Khas Kejogjaan dalam Perspektif Pendidikan KH Ahmad Dahlan dan Gerakan Pendidikan Perempuan ‘Aisyiyah”, kegiatan ini bertujuan memperdalam pemikiran serta praktik pendidikan Islam berkemajuan yang bersinergi dengan nilai-nilai luhur budaya Jogja.

Karakter

Wakil Rektor II UNISA Yogyakarta, Dr. Yuli Isnaeni, S.Kp., M.Kep., Sp.Kom., menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan oleh LLDIKTI Wilayah V. Menurutnya, forum ini sangat krusial untuk memperkaya pemikiran akademis dan membentuk karakter mahasiswa yang menempuh studi di Kota Pelajar.

“Tema ini sangat relevan dengan jati diri UNISA. Ada kesinambungan yang erat dari pemikiran K.H. Ahmad Dahlan bahwa pendidikan harus mengintegrasikan antara ilmu, nilai keagamaan, dan amal nyata,” tutur Yuli dalam sambutannya.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala LLDIKTI Wilayah V Yogyakarta, Prof. Setyabudi Indartono, M.M., Ph.D., menegaskan pentingnya perguruan tinggi untuk menghidupkan kembali akar budaya lokal. Nilai-nilai Kejogjaan dinilai mampu mewujudkan ekosistem pendidikan yang berkarakter, berakal, berbudaya, berjiwa merdeka, serta memberi manfaat luas bagi sesama.

Rangkaian acara dikemas dalam bentuk sarasehan tematik serta diskusi interaktif dua arah. Tiga narasumber ahli dihadirkan untuk membedah tiga pilar utama:

  • Landasan Konseptual: Membedah pemetaan dan filosofi dasar dari Pendidikan Khas Kejogjaan.
  • Perspektif KH Ahmad Dahlan: Mengupas pendekatan pendidikan berbasis penggabungan ilmu dan amal sosial.
  • Gerakan Perempuan ‘Aisyiyah: Menggali arah pengajaran Nyai Ahmad Dahlan (Siti Walidah) bersama generasi penerusnya, seperti Siti Bariyah dan Siti Munjiyah, dalam memperjuangkan kesetaraan literasi dan pendidikan perempuan.

Sebanyak 80 peserta yang terdiri dari pimpinan perguruan tinggi, pengelola kurikulum, hingga dosen dari berbagai kampus di Yogyakarta dilibatkan secara aktif sepanjang dialog. Melalui perpaduan nilai budaya Kejogjaan dan pemikiran tokoh pembaru Islam, sarasehan ini diharapkan mampu memberikan formula segar bagi penguatan kurikulum berbasis karakter di perguruan tinggi. UNISA Yogyakarta pun kembali membuktikan perannya sebagai kampus yang tak hanya fokus pada keunggulan akademis, tetapi juga konsisten merawat warisan budaya dan keagamaan.

Hotline