Pos

pendusta agama

Istilah pendusta agama sering disederhanakan sebagai mereka yang menolak memberi makan anak yatim dan enggan membantu fakir miskin. Namun, wawasan etika Islam yang lebih holistik—sebagaimana dibingkai dalam Surah Al-Ma’un mengajak kita membaca tanggung jawab sosial dalam skala yang lebih luas: menjaga kehidupan bersama termasuk lingkungan yang menopang kehidupan itu sendiri.

Ketika lingkungan rusak akibat tangan manusia baik melalui eksploitasi sumber daya yang serakah, alih fungsi lahan besar-besaran, maupun pencemaran sistemik dampaknya langsung dan tak langsung mempengaruhi komunitas paling rentan: anak yatim, lansia, disabilitas, keluarga berpenghasilan rendah, dan masyarakat yang kehilangan mata pencaharian. Dengan perspektif itu, mereka yang secara sadar merusak lingkungan dapat dipahami bukan hanya sebagai pelanggar etika sosial semata, tetapi sebagai “pendusta agama” dalam makna etika yang lebih luas.

Etika Teologis

Data lingkungan Indonesia menunjukkan bahwa meski ada usaha mitigasi, realitas kerusakan masih nyata. Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) periode 2019–2023, emisi kebakaran hutan dan lahan telah menurun sekitar 70 persen dari puncak sebelumnya, menunjukkan adanya upaya pengendalian kebakaran hutan yang lebih baik. Namun ini tetap mencerminkan besarnya masalah yang harus dihadapi selama beberapa tahun terakhir.

Statistik deforestasi terbaru menunjukkan bahwa laju deforestasi Indonesia masih berada pada angka yang signifikan: Data deforestasi Indonesia 2024 menunjukkan peningkatan menjadi sekitar 261.575 hektare (ha), sedangkan tutupan hutan nasional kini hanya sekitar 51,1% dari total daratan Indonesia setelah mengalami penurunan bertahun-tahun akibat pembukaan lahan untuk pertanian, perkebunan, dan pertambangan.

Pemantauan titik panas (hotspot) oleh KLHK pada Juli 2025 menunjukkan bahwa 346 titik panas terdeteksi dalam 24 jam terakhir di pulau-pulau Indonesia, yang menandakan masih terjadinya kejadian kebakaran hutan dan lahan secara sporadis setiap musim kemarau.

Sebagai indikator lain, Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) secara umum memang mengalami fluktuasi, dan terdapat tren peningkatan di beberapa aspek seperti kualitas udara dan air laut dari tahun ke tahun, tetapi kualitas lingkungan secara keseluruhan masih jauh dari ideal terutama di wilayah perkotaan dan kawasan industri.

Kerusakan lingkungan tidak hanya persoalan statistik—dampaknya bersifat langsung terhadap kehidupan masyarakat. Data bencana menunjukkan bahwa Indonesia terus mengalami banjir, tanah longsor, dan bencana hidrometeorologis lainnya yang semakin intens dalam lima tahun terakhir. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ribuan kejadian bencana sepanjang 2025, dengan sebagian besar berupa banjir dan cuaca ekstrem yang memaksa ratusan ribu keluarga mengungsi.

Di sisi lain, banjir besar yang melanda Sumatra pada akhir 2025 menewaskan lebih dari seribu jiwa dan mengakibatkan sekitar lebih dari 3,2 juta orang terdampak serta lebih dari satu juta orang harus mengungsi akibat banjir dan tanah longsor.

Bencana semacam ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa. Rumah, sekolah, ladang pertanian, dan usaha kecil hancur, sehingga banyak keluarga kehilangan sumber penghidupan mereka. Anak-anak yang orang tuanya menjadi korban bencana kini menghadapi masa depan yang lebih sulit sebuah gambaran nyata bagaimana kerusakan lingkungan memicu kemiskinan struktural dan kelahiran lebih banyak anak yatim, bahkan sebelum orang tua mereka meninggal dunia.

Pemahaman bahwa lingkungan hidup merupakan bagian dari amanah moral bukanlah gagasan baru. Albert Schweitzer (1875–1965), filsuf dan teolog Prancis-Jerman, dalam karya Civilization and Ethics (1923) pernah menegaskan “ethics is nothing else than reverence for life.” Dengan kata lain, etika bermula dari sikap hormat terhadap kehidupan itu sendiri termasuk alam yang menopang kehidupan manusia dan makhluk lainnya.

Dalam tradisi Islam, gagasan ini juga tercermin melalui pemikiran Imam Abu Hamid al-Ghazali (1058–1111), salah satu ulama besar Islam, yang dalam karyanya Ihya’ ‘Ulum al-Din menegaskan bahwa manusia adalah khalifah (wakil Tuhan) di bumi. Sebagai khalifah, manusia tidak diberi hak untuk semena-mena terhadap lingkungan, tetapi justru diwajibkan menjaga keseimbangan dan kelangsungan ekosistem yang menjadi tempat hidup bersama.

Pendusta Agama

Ketika kerusakan lingkungan menyebabkan bencana dan derita sosial yang meluas seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, dan polusi pertanyaan moral muncul: Bagaimana mungkin kita tetap merasa beriman tapi abai terhadap amanah lingkungan yang menjadi tempat hidup umat manusia? Bahkan lebih jauh, kontribusi eksploitasi lingkungan terhadap kemiskinan struktural berarti bahwa tindakan tersebut juga berdampak pada generasi paling rentan, termasuk anak yatim dan keluarga miskin yang sering kali tidak memiliki sumber daya untuk pulih dari bencana ekologis. Mereka dan aktor-aktor perusak lingkungan adalah pendusta agama hakiki. Karena ulah tangan mereka yang serakah dapat menyebabkan yatim dan kemiskinan yang permanen. Itulah pendusta agama dalam konteks surat Al-Maun hari ini. 

Ungkapan Mahatma Gandhi (1869–1948) pernah menyentil kesadaran kolektif: “The Earth provides enough to satisfy every man’s needs, but not every man’s greed”. Kerakusan yang merusak lingkungan tidak hanya melanggar etika manusia sebagai makhluk sosial tetapi juga berlawanan dengan prinsip moral agama yang menghargai kehidupan sebagai amanah.

Menjaga lingkungan hidup bukan sekadar tindakan ekologi ia merupakan tanggung jawab teologis dan etika sosial. Ketika tindakan manusia merusak alam hingga menciptakan penderitaan sosial yang luas, maka kerusakan itu bukan hanya kesalahan teknis tetapi juga pengingkaran terhadap nilai agama yang mengajarkan keadilan dan keberpihakan pada kehidupan.

Perusak lingkungan—yang dengan sengaja atau lalai mendorong kerusakan ekosistem sejatinya adalah pendusta agama dalam dimensi etika yang lebih luas, karena mereka telah mencabut kehidupan dari mereka yang paling lemah dan rentan. Agama sejati mengajarkan agar kita memelihara bumi ini sebagai amanah bersama, bukan merusaknya demi keuntungan sesaat.

Dr. M. Nurdin Zuhdi, S.Th.I., M.S.I (Dosen AIK UNISA Yogyakarta)

Greenmetric

Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional dan internasional dengan meraih peringkat 398 dunia dalam UI GreenMetric World University Ranking 2025. Capaian ini menempatkan UNISA Yogyakarta pada peringkat 46 nasional, peringkat 3 perguruan tinggi swasta di DIY, serta peringkat 4 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA).

GreenMetric

Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan (BPP)  UNISA Yogyakarta, Suryani, S.Kep., Ns., M.Med.Ed., mengatakan capaian tersebut merupakan hasil dari komitmen berkelanjutan UNISA Yogyakarta dalam mengembangkan kampus yang berwawasan lingkungan, berkelanjutan, dan berdampak nyata bagi masyarakat.

“Peringkat ini menunjukkan bahwa UNISA Yogyakarta konsisten menerapkan prinsip keberlanjutan dalam pengelolaan kampus, mulai dari kebijakan, infrastruktur, hingga budaya civitas akademika,” ujar Suryani.

UI GreenMetric menilai perguruan tinggi berdasarkan sejumlah indikator, di antaranya setting and infrastructure, energy and climate change, waste, water, transportation, serta education and research. Menurut Suryani, UNISA Yogyakarta terus memperkuat implementasi green campus melalui efisiensi energi, pengelolaan limbah terpadu, konservasi air, transportasi ramah lingkungan, serta integrasi isu keberlanjutan dalam pendidikan dan riset.

Ia menambahkan, pencapaian ini juga sejalan dengan arah pengembangan UNISA Yogyakarta sebagai kampus sehat, kampus hijau, dan kampus Islami yang berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

“Green campus bukan hanya soal fasilitas fisik, tetapi juga membangun kesadaran dan perilaku ramah lingkungan di kalangan dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa,” katanya.

Capaian peringkat UI GreenMetric 2025 ini sekaligus memperkuat posisi UNISA Yogyakarta sebagai salah satu perguruan tinggi yang aktif mendukung program Diktisaintek Berdampak, GreenMetric, serta pengakuan internasional melalui berbagai pemeringkatan global.

Ke depan, UNISA Yogyakarta menargetkan peningkatan capaian melalui penguatan inovasi lingkungan, kolaborasi riset berkelanjutan, serta keterlibatan aktif sivitas akademika dalam menjaga keberlanjutan lingkungan kampus dan masyarakat sekitar.

Mendikdasmen

Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menerima kunjungan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Republik Indonesia, Prof.Abdul Mu’ti, M.Ed bersama Anggota Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto, pada Kamis, 18 Desember 2025. Kunjungan ini dilakukan dalam rangka sinkronisasi program pendidikan nasional sekaligus agenda reses DPR RIdi daerah pemilihan.

Mendikdasmen

Dalam pertemuan tersebut, UNISA Yogyakarta menyampaikan berbagai perencanaan strategis di bidang pendidikan dan pelayanan kesehatan, sebagai bagian dari kontribusi perguruan tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia yang berkelanjutan.

Rektor UNISA Yogyakarta, Dr. Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat., memaparkan progres pengembangan institusi (pembangunan TK ABA Semesta dan RS Aisyiyah Panjatan), termasuk penguatan pendidikan berjenjang, pengembangan layanan kesehatan berbasis masyarakat, serta sinergi program dengan kebijakan pemerintah pusat. Dalam kesempatan itu, Rektor didampingi oleh Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UNISA Yogyakarta.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menyambut baik berbagai inisiatif yang telah dilakukan UNISA Yogyakarta. Ia mengapresiasi pendirian TK ABA Semesta, yang dinilai semakin menegaskan kontribusi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dalam pembangunan pendidikan dasar yang sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

“Keberadaan TK ABA Semesta menunjukkan upaya ‘Aisyiyah untuk terus melakukan inovasi pendidikan usia dini agar tetap relevan pada kebutuhan jaman. Pengalaman ‘Aisyiyah yang Panjang pada Pendidikan usia dini membuktikan inovasi itu terus berkembang. Hal ini  membuktikan visi Pendidikan ‘Aisyiyah , sejalan dengan visi dan program kementerian,” ujar Abdul Mu’ti.

Sementara itu, Titiek Soeharto dalam kunjungannya menyoroti pentingnya sinkronisasi program beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP)agar dapat menjangkau lebih luas mahasiswa yang membutuhkan, khususnya di perguruan tinggi swasta yang memiliki komitmen kuat terhadap akses pendidikan.

Kunjungan ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara pemerintah, legislatif, dan perguruan tinggi dalam mewujudkan layanan pendidikan dan kesehatan yang inklusif, berkelanjutan, serta berdampak langsung bagi masyarakat.

Anugerah pendidikan

Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta meraih Anugerah Pendidikan Tinggi 2025 sebagai peringkat pertama (Gold) dalam kategori Anugerah Data dan Informasi, kategori universitas dan institut dengan jumlah mahasiswa <10.000 subkategori pelaporan data PDDikti terbaik PTS. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Prof. Dr. Fauzan, M.Pd, kepadaRektor UNISA Yogyakarta, Dr. Warsiti, M.Kep., Sp.Mat., dalam ajangAnugerah Diktisaintek 2025yang digelar diGraha Diktisaintek, Jakarta, Jumat (19/12/2025).

Anugerah Pendidikan Tinggi

Rektor UNISA Yogyakarta Dr. Warsiti menyampaikan bahwa penghargaan ini merupakan pengakuan atas komitmen UNISA Yogyakarta dalam membangun tata kelola data dan informasi yang akuntabel, terintegrasi, dan berdampak bagi pengambilan kebijakan institusi.

“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus memperkuat sistem data dan informasi sebagai fondasi pengelolaan perguruan tinggi yang transparan, adaptif, dan berorientasi pada mutu,” ujar Warsiti.

Menurutnya, pengelolaan data yang baik tidak hanya mendukung tata kelola internal kampus, tetapi juga berperan penting dalam mendukung kebijakan nasional pendidikan tinggi, riset, dan inovasi. UNISA Yogyakarta, lanjutnya, secara konsisten mengembangkan sistem informasi yang terintegrasi untuk mendukung pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta layanan akademik dan nonakademik.

Selain capaian institusi, UNISA Yogyakarta juga menorehkan prestasi di tingkat individu. Salah satu tenaga kependidikan (Laboran) UNISA Yogyakarta, Olivia Desi Hapsari, berhasil meraih penghargaan terbaik Karya Inovasi Laboranpada subkategori terbaik bidang kesehatan dalam ajang yang sama.

Rektor menilai capaian tersebut mencerminkan budaya inovasi yang tumbuh di lingkungan UNISA Yogyakarta, tidak hanya di kalangan dosen dan mahasiswa, tetapi juga tenaga kependidikan.

“Prestasi ini menunjukkan bahwa inovasi dapat lahir dari seluruh unsur sivitas akademika. Kami mendorong tenaga kependidikan untuk terus berinovasi dan berkontribusi nyata dalam peningkatan mutu layanan dan pengembangan keilmuan,” katanya.

Anugerah Diktisaintek 2025 merupakan agenda tahunan yang diberikan kepada perguruan tinggi dan insan pendidikan tinggi berprestasi atas kontribusinya dalam penguatan tata kelola, inovasi, serta transformasi pendidikan tinggi di Indonesia.

Capaian ini semakin memperkuat posisi UNISA Yogyakarta sebagai perguruan tinggi yang unggul dalam tata kelola berbasis data dan informasi, sekaligus berkomitmen mendukung transformasi pendidikan tinggi nasional yang berdampak bagi masyarakat.

Pelayanan terpadu

Tim Kemanusiaan Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta kembali melanjutkan aksi kemanusiaan dengan menggelar pelayanan kesehatan terpadu bagi warga terdampak bencana di Desa Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Jumat (19/12/2025). Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemulihan kesehatan masyarakat pascabencana yang masih berlangsung di wilayah tersebut.

Ketua Tim Kemanusiaan UNISA Yogyakarta, dr. Joko Moerdiyanto, menjelaskan bahwa pelayanan dilakukan melalui skema mobile unit dengan dukungan status on-call yang terhubung dengan Puskesmas Sorkam Tengah untuk mengantisipasi kebutuhan kegawatdaruratan. Ia menyebutkan, tim menargetkan pelayanan bagi sekitar 75 hingga 100 pasien.

“Pelayanan yang kami berikan meliputi pemeriksaan kesehatan umum, konsultasi medis, serta screening nyeri untuk mengidentifikasi keluhan fisik dan dampak trauma yang dialami penyintas,” ujar dr. Joko.

Ia menambahkan, selain layanan klinis dasar, tim juga melakukan surveilans kesehatan untuk memantau kondisi dan tren kesehatan masyarakat di wilayah terdampak. Menurutnya, langkah ini penting sebagai dasar penentuan intervensi lanjutan selama masa tanggap dan pemulihan bencana.

Di bidang rehabilitasi, UNISA Yogyakarta menyediakan layanan fisioterapi melalui metode massage exercise untuk menangani keluhan otot dan gangguan gerak akibat kelelahan maupun cedera pascabencana. Masyarakat juga diberikan edukasi latihan mandiri agar dapat melanjutkan perawatan secara berkelanjutan.

“Pemulihan tidak cukup dilakukan satu kali. Karena itu, kami membekali warga dengan latihan sederhana yang bisa dilakukan secara mandiri di rumah,” kata dr. Joko.

Selain aspek medis, tim UNISA Yogyakarta juga memberikan konseling gizi dengan penekanan pada pemenuhan nutrisi darurat, khususnya bagi kelompok rentan seperti lansia, balita, dan ibu hamil. Pendampingan psikososial dan trauma healing turut dilaksanakan untuk membantu anak-anak dan warga terdampak memulihkan kondisi mental serta mengurangi stres pascatrauma.

Sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan dasar, tim menyalurkan paket sembako secara langsung kepada masyarakat sesuai sasaran pelayanan, dengan jumlah sekitar 75 hingga 100 paket.

Kegiatan diawali dengan keberangkatan tim pada pukul 08.00 WIB dan tiba di lokasi sekitar 08.45–09.00 WIB  untuk membuka posko pelayanan. Pelaksanaan layanan dilakukan secara fleksibel dengan menyesuaikan kondisi cuaca dan situasi keamanan di lapangan.

Melalui kegiatan ini, Tim Kemanusiaan UNISA Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk terus hadir mendampingi masyarakat terdampak bencana. Dr. Joko menuturkan bahwa pendampingan dilakukan tidak hanya pada aspek pemulihan fisik, tetapi juga kesehatan mental dan kesejahteraan sosial masyarakat.

“Kami berharap kehadiran tim dapat memberikan manfaat nyata dan membantu masyarakat bangkit kembali pascabencana,” pungkasnya.