Pos

Inovasi

Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta berpartisipasi dalam Muhammadiyah Inovasi dan Technology Expo yang digelar dalam rangka Milad ke-113 Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Bandung pada 16–18 November 2025. Expo ini menampilkan ragam inovasi dan teknologi dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah /Aisyiyah (PTMA) seluruh Indonesia, sekaligus menjadi ruang bagi pengunjung untuk bertanya seputar beasiswa, penerimaan mahasiswa baru, hingga peluang kolaborasi dengan PTMA.

Tampilkan Inovasi

Wakil Rektor IV Bidang Kerjasama dan Urusan Internasional UNISA Yogyakarta, Dr. M. Ali Imron, S.Sos., M.Fis., menyampaikan bahwa partisipasi UNISA Yogyakarta dalam expo ini merupakan kesempatan strategis untuk memperluas jejaring dan memperkenalkan karya inovatif kampus kepada masyarakat luas. “Melalui expo ini, kami berharap inovasi UNISA Yogyakarta semakin dikenal, dapat dimanfaatkan masyarakat, dan menjadi pintu pembuka untuk kolaborasi dengan berbagai mitra. Ini adalah bentuk kontribusi UNISA dalam mendorong kemajuan sains, teknologi, dan kesehatan berbasis nilai kemanusiaan,” ujarnya.

Dalam expo tersebut, UNISA Yogyakarta menghadirkan beragam inovasi unggulan, mulai dari Kursi Oksitosin Ibu Menyusui (KORSIMU) yang telah mengantongi paten nasional dan terbukti membantu meningkatkan kenyamanan serta efektivitas proses menyusui. UNISA juga menampilkan Matras Proning dan Kursi Bantu Eliminasi, dua inovasi di bidang kesehatan yang kini tengah dalam proses pematenan dan dirancang untuk mendukung kebutuhan medis masyarakat. Selain itu, turut ditampilkan AVRAA, sebuah inovasi ventilasi dengan sensor polusi udara yang berfungsi menjaga kualitas udara di lingkungan sekitar. Melengkapi deretan inovasi tersebut, UNISA menghadirkan Brownchips Salak, produk olahan pangan dari Program Studi Bioteknologi yang telah memperoleh paten sederhana dengan nomor IDS000006151 dan menawarkan potensi nilai ekonomi tinggi.

Seluruh inovasi yang dipamerkan ini menunjukkan daya saing UNISA Yogyakarta di tingkat nasional maupun internasional, sekaligus menegaskan komitmen kampus dalam menghadirkan solusi nyata bagi berbagai permasalahan di masyarakat, sejalan dengan semangat Milad ke-113 Muhammadiyah.

Logandeng

Bukan sekadar teori, mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta turun gunung ke Kelurahan Logandeng, Gunungkidul. Mereka menggelar pelatihan teknis budidaya ikan lele, membuktikan gerakan mahasiswa yang berdampak langsung ke masyarakat, Minggu (09/11/25).

BEM UNISA ke Logandeng

Aksi ini merupakan bagian dari program SI-LEMPENG dan Program Mahasiswa Berdampak (PM-BEM), sebuah inisiasi dari Kemendikitsaintek yang mendorong BEM aktif dalam pengabdian. Tujuannya jelas: meningkatkan keterampilan warga dalam budidaya ikan yang produktif dan berkelanjutan.

BEM KM UNISA Yogyakarta menggandeng pakar, Purwono Aji, Kepala BPPTB Perikanan Gunungkidul. Purwono membeberkan rahasia dapur budidaya lele dari A sampai Z. Ia menekankan, kunci sukses terbesar ada pada kualitas air, bukan sekadar pakan.

“Keberhasilan budidaya ikan lele bergantung pada kualitas air. Kondisi ideal air memiliki pH 6,5–8,5, suhu 26–30°C, dan kadar oksigen minimal 5 mg/L,” ungkap Purwono di hadapan warga.

Ia juga membongkar teknis pematangan air yang wajib dilakukan minimal tiga hari, lengkap dengan perlakuan penggaraman, pemupukan organik, dan pengapuran.

Pelatihan ini tak hanya membahas cara sukses, tapi juga cara mengatasi masalah menakutkan bagi para peternak, seperti kanibalisme antar ikan, air kolam berbau, dan infeksi penyakit. Uniknya, peserta diajarkan menggunakan resep alami.

“Penggunaan probiotik, serta pengobatan alami dengan daun pepaya, bawang putih, dan tanaman herbal sangat direkomendasikan sebagai langkah perawatan ramah lingkungan,” jelas Purwono.

Sesi tanya jawab pun berlangsung, warga tampak antusias dan berharap pendampingan dari BEM KM UNISA Yogyakarta ini terus berlanjut.

Karantina

Pemandangan tak biasa terlihat di Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta. Bukan mahasiswa, kali ini giliran rombongan dari Badan Karantina Indonesia Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan (BKHIT) Jawa Timur yang menuju ke ruang sidang gedung Siti Moendjijah, Jumat (14/11/25).

Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan

Kedatangan rombongan BKHIT Jatim ini bukan tanpa alasan. Mereka datang khusus untuk studi banding dan mengintip rahasia dapur Biro Humas dan Protokol (BHP) UNISA Yogyakarta, yang dianggap sukses dalam mengelola konten pemberitaan dan media sosial.

Kepala BHP UNISA Yogyakarta, Sinta Maharani, S.Sos., M.I.Kom, menyambut hangat kunjungan ini. Menurutnya, ini adalah momen yang pas untuk saling bertukar informasi dan praktik terbaik di dunia kehumasan yang serba dinamis.

“Sejatinya humas itu membangun kepercayaan di era saat ini yang serba cepat. Digitalisasi sangat luar biasa, karena media sosial menjadi salah satu jendela untuk mengetahui siapa kita,” tutur Sinta saat membuka diskusi.

Yang menarik, Koordinator Humas BKHIT Jawa Timur, Ike Yustia Aprini, blak-blakan mengakui alasan mereka memilih UNISA Yogyakarta. Ternyata, ini semua gara-gara Google.

“Kami datang kemari ingin menambah wawasan dan belajar bersama. Setelah kami survei di Google, ternyata UNISA Yogyakarta memiliki banyak prestasi di bidang kehumasan,” ungkap Ike.

Ia menegaskan, BKHIT Jatim serius ingin mempelajari strategi pengelolaan humas dari UNISA. “Kami ingin mengetahui bagaimana UNISA dalam mengelola kehumasan,” ujarnya.

Pertemuan ini pun tak sekadar seremonial. Acara dilanjutkan dengan sesi diskusi intensif, di mana kedua belah pihak saling membongkar strategi pengelolaan media sosial dan taktik produksi konten pemberitaan di website agar efektif menjangkau masyarakat.

kunjungan

Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta kembali menjadi magnet, kali ini mendapatkan kunjungan studi banding dari dua perguruan tinggi sekaligus, Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya dan Universitas Respati Yogyakarta (UNRIYO). Pertemuan ini digelar di ruang sidang gedung Siti Moendjijah, Rabu (12/11/25).

Tak tanggung-tanggung, UM Surabaya datang dengan rombongan besar 17 delegasi, sementara UNRIYO mengirimkan 6 perwakilan. Rombongan ini disambut langsung oleh Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKes) UNISA Yogyakarta, Dr. Dewi Rokhanawati, S.SiT., M.PH. Dewi menyambut baik studi banding ini sebagai ajang silaturahim sekaligus transfer pengetahuan.

Kunjungan Studi Banding

“Kami menyampaikan selamat datang kepada UM Surabaya dan UNRIYO. Kita akan sama-sama untuk saling belajar dan berbagi mengenai Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dan kelas Internasional beserta laboratorium yang ada di UNISA Yogyakarta ini,” tutur Dewi.

Ternyata, kedua kampus ini datang dengan dua misi yang berbeda. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama UNRIYO, Dr. Yeyen Subandi, SIP., MA. , ingin banyak mengetahui soal pendirian LSP.

“Tujuan kami ke UNISA Yogyakarta untuk belajar dan berdiskusi mengenai LSP. Kami sudah membentuk tim dari tahun kemarin dan berencana mendirikannya tahun ini,” ujar Yeyen.

Sementara itu, misi lebih spesifik dibawa oleh UM Surabaya. Dekan FIKes UM Surabaya, Dr. Dede Nasrullah, S.Kep., Ns., M.Kep, tegas ingin mengadopsi resep sukses kelas Internasional UNISA Yogyakarta.

“Kami berencana untuk membuka kelas Internasional di program studi Keperawatan dan Profesi Ners. Dan kami melihat saudara kita yang sudah membuka kelas Internasional di prodi tersebut ternyata ada di UNISA Yogyakarta,” jelas Dede.

Dede menambahkan bahwa mereka berencana untuk mengadopsi apa yang sudah dilakukan UNISA, dari mulai proses sampai luaran yang akan dicapai dari kelas Internasional.

Sesi diskusi berlangsung. Rombongan UNRIYO dan UM Surabaya dibagi ke beberapa ruangan untuk mengetahui lebih dalam rahasia tata kelola UNISA Yogyakarta sesuai tujuan masing-masing.

Kelas kompas

Biro Humas dan Protokol Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta bekerja sama dengan Kompas Institute menghadirkan Kelas Kompas, ruang belajar menulis yang mempertemukan sivitas akademika dengan dunia jurnalisme profesional. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Meeting Lantai 2 Gedung Siti Moendjijah, Rabu (12/11/2025), menghadirkan Wartawan Harian Kompas, Mohamad Final Daeng sebagai pemateri dalam pelatihan bertema ‘Teknis Menulis di Media Online’.

Puluhan sivitas akademika Unisa Yogyakarta mengikuti pelatihan secara interaktif. Selain penyampaian materi, peserta juga berlatih menulis berita di akhir sesi. Empat tulisan pertama bahkan dibedah terbuka, membuat suasana kelas berubah menjadi ajang adu cepat dan mengadu ketajaman menulis.

Kelas Kompas

Dalam pemaparannya, Mohamad Final Daeng menekankan pentingnya unsur faktual, relevansi, dan aktualitas dalam berita. Ia menegaskan, tulisan yang baik bukan sekadar cepat tayang, melainkan kuat dalam data dan tajam dalam sudut pandang. Menurutnya, kekuatan berita bahkan sudah ditentukan sejak pemilihan judul. “Judul adalah janji kita kepada pembaca, dan itu yang harus ditepati,” ujarnya saat pemaparan materi.

Ia juga mengingatkan, wartawan perlu memegang prinsip piramida digital, di antaranya cepat, tepat, dan kuat. Ketepatan menjadi hal utama, sebab kecepatan tanpa akurasi justru menggerus kepercayaan publik terhadap media. Ia menambahkan, pembacaan ulang dan pemilihan diksi penting agar tulisan tetap jernih serta bebas dari kesalahan ketik (typo).

Pelatihan turut menyinggung penerapan Search Engine Optimization (SEO) sebagai strategi memperluas jangkauan berita di media daring. Namun, Final Daeng menegaskan, kualitas konten tetap menjadi prioritas sebelum strategi SEO diterapkan. “Kualitas konten itu prioritas utama, baru kalau viewnya sudah banyak kita bisa coba untuk merambah ke SEO, kalaupun bisa sekalian jalan itu lebih baik,” pungkasnya.

Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Urusan Internasional Unisa Yogyakarta, Moh. Ali Imron, menilai Kelas Kompas sebagai ruang belajar yang memperkaya cara pandang terhadap dunia jurnalistik. Ia menyebut Kompas sebagai media yang konsisten menjaga kedalaman dan akurasi informasi. “Kompas selalu menampilkan narasumber yang kredibel dan tidak terburu-buru dalam memuat berita,” tegasnya.

Kepala Biro Harian Kompas Jateng-DIY, Haris Firdaus menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian ulang tahun ke-60 Harian Kompas. Ia menegaskan, jurnalisme berkualitas tidak bisa dibangun dari pola clickbait dan konten gratis. “Kami membuat berita berlangganan justru agar bisa menjaga mutu jurnalisme,” tuturnya dalam sambutan.