Pos

Sembako

Aksi sosial pelajar biasanya identik dengan pembagian sembako berupa beras atau mie instan. Namun pemandangan berbeda terlihat di Dusun Wanujoyo Kidul, Srimartani, Piyungan, Bantul, pada Minggu (21/12/2025).

Puluhan mahasiswa Program Studi Gizi Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta yang tergabung dalam Kelompok A4, turun ke desa membawa misi kesehatan melalui Project Al-Ma’un. Mereka menyasar kelompok lanjut usia (lansia) untuk diajak hidup lebih sehat dengan cara yang asyik dan tidak membosankan.

Lawan Kolesterol Jahat

Acara dimulai sejak pagi. Halaman desa dipenuhi gelak tawa saat para lansia diajak senam bersama untuk melenturkan otot. Setelah keringat bercucuran, momen ini dimanfaatkan mahasiswa untuk memberikan edukasi penting: Bahaya Kolesterol.

Ketua Kelompok A4, Binar Dewi Luhcinta akrab disapa Cinta, menjelaskan bahwa edukasi ini krusial mengingat lansia sangat rentan terhadap penyakit degeneratif.

“Kami ingin memberikan pemahaman praktis. Kesehatan di usia senja itu sangat bergantung pada apa yang dimakan. Sayur adalah kunci untuk mengontrol kolesterol, bukan obat-obatan kimia melulu,” ujar Cinta.

Serunya Estafet Balon hingga Oleh-oleh Sayur

Suasana makin pecah saat sesi fun game. Para lansia yang biasanya duduk diam di rumah, hari itu terlihat kompetitif mengikuti lomba estafet balon. Permainan ini sengaja dirancang untuk melatih motorik dan kekompakan warga.

Kejutan terjadi di akhir acara. Jika biasanya peserta pulang membawa bingkisan makanan ringan, kali ini panitia membagikan seikat kangkung segar kepada setiap lansia.

Hadiah unik ini bukan tanpa alasan. Pemberian kangkung adalah simbol ajakan nyata agar warga langsung menyebarkan materi yang didapat: masak sayur di rumah hari itu juga!

Project Al-Ma’un ini sejatinya merupakan bagian dari tugas Penilaian Akhir Semester (PAS). Namun, bagi mahasiswa UNISA Yogyakarta, ini lebih dari sekadar nilai akademik. Ini adalah implementasi teologi Al-Ma’un warisan KH. Ahmad Dahlan, bahwa kesalehan sosial harus dibuktikan dengan tindakan nyata menyantuni dan menyehatkan sesama.

Sleman

Minggu pagi (21/12/2025) di kawasan Perumahan Dayu Permai, Ngaglik, Sleman, tampak berbeda dari biasanya. Suasana di halaman Masjid Al-Jihad mendadak riuh penuh semangat. Puluhan lansia terlihat tertarik menggerakkan badan mengikuti irama senam, dipandu oleh sekelompok anak muda berjaket almamater hitam.

Mereka adalah mahasiswa Program Studi D4 Keperawatan Anestesiologi Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta yang sedang menggelar aksi nyata bertajuk Proyek Al-Ma’un. Menggandeng Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Sinduharjo, kegiatan ini bertujuan meningkatkan semangat hidup sehat sekaligus membekali para lansia ilmu penting soal kegawatdaruratan.

Edukasi Rumah Bebas Panik

Usai dengan kegiatan senam pagi, para peserta masuk ke serambi masjid untuk sesi yang lebih serius namun santai. Mengusung tema “Rumah Bebas Panik: Ikhtiar Menuju Keluarga Siaga Darurat”, delapan mahasiswa UNISA Yogyakarta berbagi trik menghadapi situasi genting di rumah.

Tim mahasiswa yang terdiri dari Aulia Surya Pratiwi, Satria Adiwignya Hardini, Nayla Aditya Putri, Ahmad Devan Ardiansyah, Raisyah Agista Putri, Iin Juniarti, Alqaf Rayqa Ahmad, dan Salma Hanifa, tampil cekatan di bawah bimbingan mentor Siti Huzaimah.

Materi yang dibawakan sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari para lansia. Alqaf Rayqa Ahmad membuka wawasan soal penanganan kecelakaan rumah tangga, insiden yang sering menimpa lansia. Dilanjutkan oleh Salma Hanifa yang membedah potensi bencana di wilayah Yogyakarta, serta Nayla Aditya Putri yang membagikan daftar nomor darurat vital di Sleman.

Menariknya, edukasi ini tak melulu ceramah. Mahasiswa membagikan panduan lembar yang dilengkapi barcode digital untuk mengakses materi lebih lanjut. Camilan sehat pun ikut sertakan untuk menemani sesi diskusi.

Doorprize Antusiasme Tinggi dan Banjir

Sesi tanya jawab menjadi momen paling hangat. Para lansia tak perlu melontarkan pertanyaan penting seputar kesehatan dan bencana. Tak hanya bertanya, mereka justru balik memberikan motivasi kepada para mahasiswa agar semangat menuntaskan kuliah.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat. Kami jadi tahu harus telepon siapa kalau ada darurat, dan bagaimana cara aman di rumah,” ujar Larjiman salah satu peserta.

Acara ditutup dengan kemeriahan Pembagian doorprize bagi peserta yang aktif dan beruntung. Senyum sumringah terpancar saat sesi foto bersama. Melalui Proyek Al-Ma’un ini, mahasiswa UNISA Yogyakarta berharap nilai kepedulian dan kemanusiaan tidak hanya berhenti dalam teori kampus, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, khususnya para lansia di Sinduharjo.

Kemitraan

Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta bersama Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah secara resmi menggelar Kickoff Program Kemitraan Peningkatan Ekonomi Berbasis Inklusi melalui Pengembangan Ternak Ayam Petelur Sehat yang berlokasi  di Pedukuhan Karangtengah Nogotirto Gamping Sleman,  Rabu (30/12/2025).  Program ini menjadi langkah konkret kolaborasi perguruan tinggi dan persyarikatan dalam mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya komunitas difabel.

Kemitraan

Badan Pembina Harian (BPH) UNISA Yogyakarta, Muhammad Adam Jerusalem, Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan bahwa UNISA Yogyakarta  menyambut baik dan mendukung penuh program kolaboratif tersebut karena membawa kemaslahatan yang luas bagi masyarakat. Menurutnya, program pemberdayaan ekonomi yang dijalankan secara inklusif sejalan dengan nilai-nilai Muhammadiyah dan misi UNISA Yogyakarta sebagai kampus yang berorientasi pada kebermanfaatan sosial.

“Program ini menghadirkan kemanfaatan yang nyata. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Karena itu, UNISA Yogyakarta bersama MPM berkomitmen mengeksekusi program-program baik seperti ini agar segera dirasakan dampaknya oleh masyarakat,” ujar Adam Jerusalem.

Ia juga menyoroti keunggulan program pengembangan ayam petelur sehat yang tidak hanya berorientasi pada produktivitas, tetapi juga memperhatikan aspek kesehatan, keberlanjutan, dan nilai inklusi. Model ternak ayam dengan pendekatan kesejahteraan hewan, pakan alami, serta proses yang memenuhi standar sertifikasi global dinilai sebagai bentuk pembaruan dan inovasi yang menjadi karakter gerakan Muhammadiyah.

Ketua MPM PP Muhammadiyah, Dr. Muhammad Nurul Yamin, M.Si., menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari penguatan dakwah Muhammadiyah di akar rumput melalui pendekatan ekonomi kerakyatan berbasis komunitas. Pengembangan ternak ayam petelur sehat dengan brand TelurMoe menjadi sarana pemberdayaan ekonomi yang melibatkan komunitas difabel secara aktif dan berkelanjutan.

“MPM tidak menggunakan pendekatan ekonomi skala besar, tetapi pendekatan komunitas yang menggerakkan dan memberdayakan. Ketika komunitas tumbuh mandiri dan berdaya, maka pada akhirnya kekuatan masyarakat dan bangsa akan terbentuk,” jelas Yamin.

Dalam momentum akhir tahun 2025 menuju 2026, MPM bersama UNISA Yogyakarta mencanangkan pengembangan kandang ayam petelur dengan peningkatan kapasitas hingga sekitar 300 persen secara bertahap. Dari sebelumnya sekitar 300 ekor, jumlah ternak direncanakan meningkat hingga 1.000 ekor. Langkah ini diharapkan mampu menjawab meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap telur sehat seiring tumbuhnya kesadaran akan pentingnya pangan bergizi dan berkualitas.

Sementara itu, Arya Khoirul Anam, selaku pendamping program TelurMoe dan Jaringan Tani Muhammadiyah, memaparkan bahwa program ayam petelur sehat yang dikembangkan bersama komunitas difabel telah melalui proses pendampingan selama lebih dari dua tahun. Program ini menerapkan konsep produksi telur sehat pada level tertinggi, yakni ayam yang dipelihara secara sejahtera dengan pakan fungsional berbasis alami dan standar produktivitas internasional.

“TelurMu berada pada level keempat, yaitu ayamnya bahagia dan pakannya sehat. Ini bukan hanya soal produksi telur, tetapi tentang kesehatan, keberlanjutan, dan nilai inklusi yang menginspirasi,” ungkap Arya.

Ia menambahkan bahwa kandang ayam inklusif yang dikembangkan menjadi salah satu yang pertama di dunia yang memperoleh sertifikasi kesejahteraan hewan untuk model kandang inklusi. Ke depan, pengembangan fasilitas pendukung seperti gudang penyimpanan, grading, dan sanitasi telur diharapkan mampu meningkatkan kualitas produk sekaligus membuka peluang kerja yang lebih luas bagi komunitas dampingan.

Melalui kickoff program kemitraan ini, UNISA Yogyakarta dan MPM PP Muhammadiyah menegaskan komitmen bersama untuk terus menghadirkan program pemberdayaan ekonomi berbasis inklusi yang berkelanjutan, sehat, dan berdampak luas bagi masyarakat.

Tim relawan

Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta kembali meneguhkan komitmennya dalam aksi kemanusiaan dengan mempersiapkan Tim Relawan Psikososial untuk membantu masyarakat terdampak bencana alam. Rektor UNISA Yogyakarta, Dr. Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat., menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh tim relawan yang telah dan akan menjalankan misi kemanusiaan tersebut.

Tim Relawan

“Kita berikan apresiasi yang setinggi-tingginya pada Tim Kemanusiaan UNISA Yogyakarta yang sudah menyelesaikan tugasnya beberapa minggu yang lalu. Mudah-mudahan apa yang sudah diikhtiarkan, dikerjakan, sekaligus menjadi catatan amal kebaikan dan amal saleh bagi tim semua,” ujar Warsiti saat membuka pertemuan transfer pengetahuan Tim Relawan, Selasa (30/12/2025).

Sebelumnya, pada pertengahan Desember 2025, UNISA Yogyakarta telah memberangkatkan 10 orang Tim Relawan Kemanusiaan ke Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, untuk membantu para korban terdampak bencana alam. Kini, UNISA Yogyakarta kembali mempersiapkan Tim Relawan yang berfokus pada layanan psikososial dengan total 15 orang, terdiri atas 10 mahasiswa dan 5 dosen.

Ketua Tim Siaga Bencana UNISA Yogyakarta, Heri Puspito, S.Kep., Ns., M.K.M., menjelaskan bahwa Tim Relawan Psikososial akan diterjunkan ke Kabupaten Gayo Lues dan Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh. Berdasarkan hasil koordinasi dengan Lembaga Resiliensi Bencana atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta, keberangkatan tim dijadwalkan pada 2 Januari 2026 dan 7 Januari 2026.

“Karena melibatkan mahasiswa dan durasi kegiatan relawan berlangsung kurang lebih selama satu bulan, maka kegiatan ini akan kita konversikan menjadi nilai Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa,” jelas Heri.

Sebagai bagian dari persiapan, Tim Relawan Psikososial mengikuti kegiatan transfer knowledge dari Tim Relawan yang telah kembali dari Tapanuli Tengah. Kegiatan ini juga menjadi forum laporan langsung kepada Rektor UNISA Yogyakarta serta Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi.

Dalam laporan yang disampaikan Ketua Tim Relawan UNISA Yogyakarta ke Tapanuli Tengah, dr. Joko Murdiyanto, Sp.An., MPH., tercatat sebanyak kurang lebih 1.021 pasien berhasil ditangani di 10 lokasi pelayanan. “Mayoritas pasien yang kami tangani adalah perempuan, dengan persentase mencapai 68 persen,” ungkap Joko.

Selain pelayanan kesehatan, Tim Relawan UNISA Yogyakarta juga menyalurkan bantuan logistik dengan total mencapai sekitar satu ton, berupa obat-obatan dan alat kesehatan, termasuk lebih dari 1.000 paket sembako untuk masyarakat terdampak bencana.

Lansia

Usia senja atau lansia sering kali identik dengan kerentanan fisik. Risiko jatuh di kamar mandi, tiba-tiba pingsan, hingga serangan stroke menjadi momok menakutkan yang bisa datang kapan saja bagi para lansia. Sadar akan bahaya tersebut, sekelompok siswa turun tangan langsung untuk ‘menyekolahkan’ para lansia agar lebih tanggap darurat.

Aksi kepedulian ini digagas oleh Mahasiswa Universitas `Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta yang berada di kelompok A6 melalui program Proyek Al-Ma’un. Menggandeng Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Minomartani, kegiatan edukasi kegawatdaruratan ini digelar di Griya Lansia Minomartani, Selasa (16/12/2025).

Kegiatan ini bukan sekedar tugas kuliah, melainkan wujud nyata implementasi nilai kemanusiaan dan keimanan untuk melindungi kelompok rentan.

Dalam sesi edukasi, suasana hangat dan interaktif. Para pelajar tidak menggunakan istilah medis yang membatasi. Sebaliknya, mereka dengan telaten menjelaskan langkah pertolongan pertama untuk kondisi yang paling sering dialami lansia, mulai dari penanganan saat terpeleset atau jatuh, sesak napas, pingsan, hingga mendeteksi gejala awal stroke dan penurunan kesadaran.

Aprinia Dewi Wulandari, salah satu anggota kelompok A6, menekankan pentingnya edukasi ini. Menurutnya, kekhawatiran seringkali memperparah keadaan saat terjadi kecelakaan di rumah.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap lansia dan keluarganya tidak lagi panik, tapi jadi lebih sigap mengenali tanda bahaya. Tahu harus melakukan apa di menit-menit awal sebelum bantuan medis datang adalah kunci keselamatan,” ujar Aprinia yang merupakan mahasiswa Program Studi Keperawatan Anestesi UNISA Yogyakarta ini.

Menanamkan Empati Lansia

Lebih dari sekedar bagi-bagi ilmu medis, acara ini juga menjadi ajang menanamkan nilai empati. Lansia diajak menyadari bahwa mereka memiliki hak untuk hidup aman dan mendapatkan perlindungan.

Para peserta tampak antusias melakukan rekreasi simulasi pertama yang diajarkan. Proyek kemanusiaan ini menjadi bukti bahwa semangat Al-Ma’un membantu mereka yang lemah masih menyala terang di kalangan generasi muda. Harapannya, ilmu yang diterapkan hari ini bisa menjadi bekal berharga untuk meningkatkan kualitas hidup dan keselamatan para lansia di Minomartani.