11 Sustainable Cities and Communities 3 Good Health and Well Being

Tanpa Suara Tapi Penuh Makna, Rangkul Anak Tunarungu Lewat Aksi

, , ,
Tunarungu

Komitmen Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta sebagai kampus ramah difabel bukan sekadar isapan jempol belaka. Hal ini dibuktikan langsung oleh mahasiswa Program Studi Gizi yang menggelar aksi menyentuh hati di Griya Tunarungu Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (GERKATIN), Yogyakarta, Sabtu (20/12/2025).

Dalam suasana yang hangat, para mahasiswa tidak hanya datang membawa materi kuliah, tetapi membawa hati untuk berinteraksi dengan anak-anak istimewa. Kegiatan bertajuk proyek kemanusiaan dan keimanan ini menjadi jembatan inklusivitas yang manis antara dunia akademik dan penyandang disabilitas.

Belajar Bahasa Hati dan Gizi Sehat

Koordinator kegiatan, Dina Riana, menjelaskan bahwa acara ini dirancang untuk mendobrak sekat-sekat eksklusivitas. Mahasiswa diajak keluar dari menara gading kelas teori untuk merasakan langsung denyut nadi kehidupan saudara-saudara tunarungu.

“Kami ingin hadir tidak hanya sebagai pelajar yang belajar teori, tetapi sebagai manusia yang peduli. Di sini kami belajar arti empati dan kesabaran yang sesungguhnya. Interaksi ini mengajarkan kami bahwa komunikasi tak melulu soal suara, tapi juga soal rasa,” ujar Dina.

Acara dikemas sangat seru dan jauh dari kesan kaku. Anak-anak diajak bermain game edukatif, mewarnai, hingga diskusi ringan tentang makanan sehat. Para mahasiswa Gizi UNISA Yogyakarta dengan telaten menjelaskan pentingnya asupan gizi seimbang dengan metode visual yang mudah dipahami oleh anak-anak tunarungu. Gelak tawa pun pecah, meleburkan segala batasan fisik yang ada.

Apresiasi GERKATIN

Perwakilan pengelola Griya Tunarungu GERKATIN Yogyakarta, Hanif Adhi Pratama, tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Ia mengapresiasi pendekatan mahasiswa UNISA Yogyakarta yang dinilai sangat menghargai dan tidak membatasi.

“Kami sangat terbantu. Pendekatan adik-adik siswa ini sangat hangat dan inklusif, sehingga anak-anak merasa nyaman dan diperhatikan. Tidak ada rasa canggung,” ungkap Hanif.

Ia berharap kolaborasi manis ini tidak berhenti di sini. Sinergi antara perguruan tinggi dan komunitas penyandang disabilitas seperti ini diharapkan bisa terus berlanjut demi meningkatkan kualitas hidup dan kesadaran masyarakat luas akan pentingnya kesetaraan.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *