Relawan medis

Dalam upaya mencetak relawan medis yang mumpuni di bidang penanggulangan bencana dan kegawatdaruratan, organisasi kemahasiswaan Federation of Rescue Health Team (FRESHT) Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) 1. Kegiatan strategis ini berlangsung pada Senin (20/4/2026).

Relawan Medis

Mengusung tema “Leading in crisis: Sinergi Organisasi, Kepemimpinan, dan Tanggap Kedaruratan”, program ini difokuskan pada pemantapan kompetensi soft skill maupun hard skill bagi peserta dari angkatan 13 dan 14. Melalui serangkaian pemaparan materi komprehensif dan evaluasi terukur, para mahasiswa digembleng agar memiliki kesiapan mental serta ketangkasan dalam menjalankan fungsi pengabdian masyarakat.

Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BKA) UNISA Yogyakarta, Yekti Satriyandari, S.ST., M.Kes., menegaskan urgensi pembekalan terstruktur bagi para relawan medis muda di lingkungan kampus.

“Melalui Diklat ini, kami menaruh harapan besar. Seluruh anggota FRESHT yang telah dibekali keilmuan dan keterampilan praktis ini nantinya harus sigap saat diterjunkan langsung untuk menolong, meringankan beban, serta memberikan pelayanan kesehatan yang optimal kepada masyarakat maupun korban bencana alam,” ujar Yekti.

Inisiatif terstruktur ini sekaligus mempertegas komitmen UNISA Yogyakarta dalam melahirkan generasi tenaga kesehatan profesional yang responsif terhadap krisis.

Kartini

Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai momentum untuk mengenang perjuangan Raden Ajeng Kartini, tokoh perempuan yang telah membuka jalan bagi kemajuan perempuan Indonesia. Namun, peringatan ini tidak seharusnya berhenti pada seremoni dan simbolik semata. Hari Kartini merupakan pengingat bahwa perjuangan perempuan belum selesai. Tantangan zaman terus berubah, dan perempuan masa kini dituntut untuk menjadi pribadi yang cerdas, sehat, dan berdaya dalam menghadapi kehidupan serta mempersiapkan generasi masa depan.

Kartini dan Realitas Perempuan pada Masanya

Raden Ajeng Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. Ia dikenal sebagai sosok perempuan yang memiliki semangat belajar tinggi, berpikiran maju, dan memiliki kepedulian besar terhadap nasib perempuan. Pada masa itu, perempuan menghadapi keterbatasan dalam mengakses pendidikan dan pelayanan kesehatan. Tradisi sosial yang membatasi ruang gerak perempuan membuat mereka sulit berkembang dan kurang mendapatkan perhatian dalam hal kesehatan, termasuk kesehatan reproduksi.

Kisah hidup Kartini juga menggambarkan kondisi kesehatan perempuan pada masa lalu. Setelah menikah, Kartini mengalami kehamilan dan melahirkan seorang anak laki-laki pada tahun 1904. Namun, beberapa hari setelah persalinan, kondisinya menurun dan akhirnya wafat pada usia yang masih sangat muda, yaitu 25 tahun. Peristiwa ini menjadi refleksi penting bahwa kesehatan ibu pada masa itu sangat rentan akibat keterbatasan pelayanan kesehatan, fasilitas medis, serta rendahnya pengetahuan masyarakat tentang kesehatan ibu dan anak.

Hingga saat ini, persoalan kesehatan ibu masih menjadi perhatian serius. Meskipun pelayanan kesehatan telah berkembang pesat, tantangan seperti kematian ibu, anemia pada remaja putri, dan kehamilan berisiko masih ditemukan di berbagai wilayah. Hal ini menunjukkan bahwa upaya peningkatan kualitas kesehatan perempuan harus terus dilakukan secara berkelanjutan.

Perempuan Cerdas: Kunci Kemandirian dan Kemajuan

Hari ini, perempuan memiliki kesempatan yang jauh lebih luas dibandingkan masa Kartini. Perempuan dapat menempuh pendidikan tinggi, bekerja di berbagai bidang, dan berperan aktif dalam pembangunan masyarakat. Namun, kecerdasan perempuan tidak hanya diukur dari tingkat pendidikan formal, melainkan juga dari kemampuan memahami diri, keluarga, dan lingkungan.

Perempuan yang cerdas adalah perempuan yang mampu mengambil keputusan yang tepat dalam kehidupannya, termasuk dalam menjaga kesehatan reproduksi, merencanakan kehamilan, serta mendidik anak-anaknya dengan baik. Kecerdasan juga tercermin dari kemampuan perempuan dalam mengelola informasi, memilah pengetahuan yang benar, dan beradaptasi dengan perubahan zaman, termasuk perkembangan teknologi dan media sosial yang semakin pesat.

Dalam era digital saat ini, literasi kesehatan menjadi bagian penting dari kecerdasan perempuan. Kemampuan memahami informasi kesehatan yang benar dapat membantu perempuan menghindari informasi yang keliru dan mengambil keputusan yang tepat bagi kesehatan diri dan keluarganya.

Perempuan Sehat: Fondasi Generasi Berkualitas

Kesehatan perempuan merupakan fondasi utama dalam membangun generasi yang sehat dan berkualitas. Perempuan yang sehat secara fisik dan mental akan mampu menjalankan peran sebagai individu, ibu, dan anggota masyarakat dengan optimal. Sebaliknya, jika kesehatan perempuan terabaikan, maka dampaknya tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh keluarga dan generasi berikutnya.

Saat ini, berbagai tantangan kesehatan perempuan masih menjadi perhatian, seperti anemia pada remaja putri, pernikahan usia dini, kehamilan berisiko, kekurangan gizi, serta kurangnya pemahaman tentang kesehatan reproduksi. Kondisi ini memerlukan perhatian bersama dari keluarga, masyarakat, tenaga kesehatan, dan pemerintah.

Upaya promotif dan preventif perlu terus diperkuat melalui edukasi kesehatan, pemeriksaan kesehatan secara rutin, serta dukungan lingkungan yang sehat. Peran tenaga kesehatan, khususnya bidan, menjadi sangat penting dalam mendampingi perempuan sepanjang siklus kehidupan, mulai dari remaja, masa pranikah, kehamilan, persalinan, hingga masa menopause. Bidan tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi pendidik, konselor, dan pendamping bagi perempuan dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraannya.

Perempuan Berdaya: Agen Perubahan dalam Keluarga dan Masyarakat

Perempuan yang berdaya adalah perempuan yang memiliki kepercayaan diri, pengetahuan, serta kemampuan untuk mengambil peran aktif dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Pemberdayaan perempuan tidak hanya berarti memiliki pekerjaan atau penghasilan, tetapi juga memiliki kendali atas keputusan yang berkaitan dengan kesehatan, pendidikan, dan masa depan keluarga.

Dalam konteks masyarakat modern, perempuan berdaya menjadi agen perubahan yang mampu mempengaruhi lingkungan sekitarnya. Perempuan dapat menjadi penggerak kegiatan kesehatan di masyarakat, kader kesehatan, pendidik keluarga, hingga pemimpin komunitas. Ketika perempuan berdaya, maka keluarga menjadi lebih kuat, dan masyarakat menjadi lebih sehat.

Pemberdayaan perempuan juga menjadi investasi jangka panjang bagi pembangunan bangsa. Perempuan yang sehat dan berdaya akan melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif, sehingga mampu berkontribusi dalam pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat.

Dari Kartini untuk Hari Ini dan Esok

Perjuangan Kartini memberikan pelajaran bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran dan keberanian untuk belajar. Semangat Kartini harus terus dihidupkan dalam kehidupan perempuan masa kini, tidak hanya dalam bidang pendidikan, tetapi juga dalam menjaga kesehatan, membangun keluarga yang sehat, serta berkontribusi bagi masyarakat.

Momentum Hari Kartini hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai perayaan sejarah, tetapi sebagai ajakan untuk memperkuat komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan. Dengan perempuan yang cerdas, sehat, dan berdaya, maka generasi masa depan Indonesia akan tumbuh menjadi generasi yang kuat, berkualitas, dan berdaya saing.

Semangat Kartini tidak berhenti pada masa lalu. Ia hidup dalam setiap langkah perempuan Indonesia hari ini, dan akan terus menyala untuk generasi esok yang lebih maju, sehat, dan bermartabat.

Penulis: Prof. Dr. Mufdlilah, S.Pd., S.SiT., M.Sc (Wakil Rektor III UNISA Yogyakarta)

Fisioterapi

Momentum Hari Kesehatan Sedunia yang jatuh pada Tanggal 7 April lalu, menjadi titik balik penting bagi dunia medis untuk merefleksikan arah layanan kesehatan di masa depan, salah satu bidang yang kini menjadi sorotan utama adalah fisioterapi, yang kini bertransformasi melampaui sekadar layanan rehabilitasi konvensional.

Fisioterapi

Wakil Rektor IV Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Dr. M. Ali Imron, M.Fis, menegaskan bahwa lanskap pelayanan kesehatan global tengah bergeser ke arah yang lebih personal atau precision medicine. Menurutnya, fisioterapi masa depan akan sangat bergantung pada kolaborasi erat dengan pendekatan regenerative medicine dan upaya peningkatan angka harapan hidup yang berkualitas (longevity).

“Fisioterapi hari ini harus mampu bersinergi dengan intervensi regeneratif. Pelayanan tidak lagi bersifat umum, melainkan sangat individual dan spesifik sesuai kebutuhan genetika serta gaya hidup pasien,” ujar Ali Imron saat diwawancarai di kampus UNISA Yogyakarta.

Tantangan Kecerdasan Buatan dan Penyakit Kronis

Perubahan ini bukannya tanpa kendala. Ali Imron menyoroti bahwa profesi fisioterapis saat ini menghadapi tantangan ganda: adaptasi terhadap Artificial Intelligence (AI) dan ledakan angka penyakit kronis. Teknologi AI diprediksi akan masuk ke dalam instrumen diagnostik dan pemantauan pasien, menuntut praktisi untuk melek digital agar tetap relevan.

Namun, Ali optimistis. Ia menyebut fisioterapi adalah pemegang peran vital dalam empat pilar sistem kesehatan: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif (PPKR). “Fisioterapi bukan sekadar penyembuhan setelah sakit, tetapi kunci utama dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas hidup masyarakat di segala usia,” tambahnya.

Strategi UNISA Yogyakarta Menuju Inovasi Global

Sebagai institusi yang fokus pada kesehatan, UNISA Yogyakarta telah mengambil langkah strategis. Kehadiran Program Studi Magister (S2) Fisioterapi menjadi bukti keseriusan kampus dalam mencetak SDM yang adaptif. Kurikulum terbaru kini telah mengintegrasikan konsep teknologi masa depan dan laboratorium riset lanjutan untuk mendukung praktik regenerative physiotherapy.

Imron menjelaskan bahwa penerapan inovasi ini akan dilakukan secara simultan, baik di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) maupun rumah sakit rujukan. Tujuannya jelas: memberikan hasil yang lebih cepat dan manfaat yang lebih besar bagi pasien, institusi, hingga pemerintah.

Harapan di Hari Kesehatan Sedunia 2026

Memanfaatkan momentum internasional ini, Ali Imron mendorong pemerintah untuk lebih memberdayakan fisioterapis di layanan primer. Dengan kebijakan yang berorientasi pada pencegahan, fisioterapi dapat berperan besar dalam optimasi gerak fungsi tubuh, menurunkan prevalensi penyakit kronis, serta menjaga kesehatan ibu dan anak.

Bagi generasi muda, Imron berpesan bahwa profesi ini sangat menjanjikan. “Seiring kompleksitas kehidupan modern, kebutuhan akan ahli gerak dan fungsi tubuh akan terus meningkat. Fisioterapi adalah profesi masa depan,” pungkasnya.

Janji pra ners

Dengan balutan seragam berwarna putih, sebanyak 176 mahasiswa keperawatan Universitas `Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta angkatan 21 telah resmi mengucapkan janji pra ners dengan penuh tekad dan tanggung jawab sebagai langkah awal untuk melakukan penerapan ilmu secara langsung dalam pengabdian kepada masyarakat melalui instansi mitra terkait, pada Jumat, 17 April 2026.

Janji Pra Ners

Selama sepuluh bulan ke depan, mahasiswa akan melakukan tahapan praktik di berbagai pelayanan kesehatan mitra UNISA yang tersebar di wilayah DIY dan Jawa Tengah. Lokasi praktik tersebut meliputi: RSUP Dr. Sardjito, RS PKU Muhammadiyah Gamping, RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, RS Bagas Waras Klaten, dan sejumlah instansi kesehatan lainnya.

Ketua Program Studi Keperawatan dan Pendidikan Profesi Ners FIKes UNISA Yogyakarta, Dr. Sarwinanti, S.Kep., Ners, M.Kep., Sp.Mat. menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar seremonial, melainkan sebuah kegiatan sakral akademik, etik, serta komitmen moral.

“Tujuannya adalah untuk menanamkan komitmen terhadap kode etik, kerahasiaan pasien, serta integritas profesional yang berlandaskan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam setiap tindakan medis yang dilakukan. Hal tersebut menjadi ciri khas almamater UNISA diharapkan mampu menghadirkan pelayanan kesehatan yang humanis dan religius,” ujar Sarwinanti.

Ia juga berpesan dengan penuh harap agar para mahasiswa senantiasa mengasah empati di samping keterampilan klinis. Selain itu, mahasiswa diminta untuk melayani masyarakat dengan prinsip rahmatan lil ‘alamin dan menjadikan setiap tindakan medis sebagai ladang ibadah sekaligus ruang untuk terus mengembangkan diri.

Momentum ini meninggalkan kesan mendalam bagi para mahasiswa. Ketua angkatan profesi keperawatan, Dedi Darmawan, mengakui adanya beban moral besar kini telah dipikul di pundak mereka.

“Ketika mulut mulai mengikrarkan janji dan sumpah, tentunya saya pribadi merasa gugup, karena beban yang akan kami tanggung itu untuk seumur hidup. Namun, setelah selesai, rasa lega dan syukur menyelimuti diri saya karena akhirnya bisa mencapai titik ini,” ujar Dedi dengan penuh haru.

Sebagai penutup acara, mahasiswa menerima pembekalan teori terkait etika profesi, komunikasi efektif, serta kesiapan mental dalam menghadapi dunia kerja di bidang kesehatan yang dibawakan oleh Bapak Tri Prabowo, S.Kep., Ns., M.SC selaku ketua DPW PPNI DIY. Pembekalan ini dinilai penting karena sebagai pedoman dalam menghadapi tantangan di lapangan.

Studi banding

Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan dan tata kelola akademik, Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menerima kunjungan studi banding dari Universitas Ciputra dan Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang. Pertemuan strategis antar-perguruan tinggi ini langsungkan di Ruang Sidang Gedung Siti Moendjijah kampus UNISA Yogyakarta, Rabu (15/4/2026).

Studi Banding

Ketua Komisi Etik Penelitian (KEP) UNISA Yogyakarta, Prof. Dr. Chairil Anwar, menyambut hangat para delegasi. Ia menegaskan komitmen institusinya yang selalu terbuka untuk berbagi ilmu dan bersinergi demi kemajuan pendidikan bangsa.

Kunjungan delegasi ini memiliki fokus yang spesifik. Ketua KEP Universitas Ciputra, Prof.Dr.Ir. Nyoman Puspa Asri, MS, mengungkapkan bahwa lawatan ini merupakan penjajakan kolaborasi untuk pengembangan KEP di kampusnya.

“Kami datang untuk belajar bersama. Harapannya, pertemuan ini berlanjut ke kerja sama di jenjang berikutnya,” ujar Nyoman.

Di sisi lain, delegasi Unwahas memiliki agenda khusus terkait pengembangan disiplin ilmu kesehatan. Kepala Bidang Pengembangan Kurikulum Unwahas, Dr. Fitria Martanti, M.Pd., menjelaskan bahwa kunjungan ini ditujukan untuk menimba pengalaman terkait tata kelola Program Studi Fisioterapi. Hal ini mengingat Unwahas baru saja mengantongi izin pendirian prodi tersebut beberapa bulan lalu.

Kolaborasi ini diharapkan menjadi katalisator penguatan institusi pendidikan tinggi dalam mencetak sumber daya manusia unggul.