5 Gender Equality
test

Daycare dan Rel Kereta: Dilema Sunyi Perempuan Bekerja

, ,
perempuan

Saya seorang perempuan bekerja dan menulis ini di H-1 anak saya menghadapi ujian Tes Kemampuan Akademik (TKA). Campuran rasa ingin hadir sepenuhnya mendampingi, tapi harus tetap melangkah untuk bekerja. Ya begitulah, perempuan bekerja. Rasanya semakin riuh ketika mendengar berita daycare di Yogyakarta yang selama ini begitu dekat, tepat beberapa langkah di depan sekolah anak saya, menjadi berita yang menyakitkan. Setiap pagi, ayah bunda mengantar anak-anaknya yang masih balita ke daycare yang sudah mereka percaya, tanpa mengetahui bahwa anak-anak yang mereka cintai sepenuh hati mengalami penyiksaan sepanjang hari. Belum usai kesedihan ini, saya membaca berita tentang kecelakaan KRL di Stasiun Bekasi Timur, para korban yang seluruhnya perempuan. Mungkin mereka juga seperti saya, seperti banyak perempuan di luar sana, sedang menjalani peran ganda yang tidak sederhana.

Dilema Perempuan

Dua peristiwa ini terasa sangat dekat, bukan sekedar berita, tetapi cermin dari kehidupan nyata kita sehari-hari. Hal yang lebih menyakitkan justru saya baca dari komentar-komentar di media sosial yang saling menghakimi, saling menyalahkan dan mungkin merasa paling benar. Ada yang saling menyalahkan dan menjadikan kolom komentar sebagai peperangan antara working mom VS fulltime mom, ada yang seolah menyalahkan bahwa perempuan tidak seharusnya bekerja, menyalahkan pilihan untuk menitipkan anak di daycare, dan ada yang merasa paling benar karena sudah resign dari pekerjaan. Seolah keputusan untuk bekerja adalah sebuah kelalaian perempuan. Apakah menitipkan anak artinya kita gagal sebagai seorang ibu?

Tentang gerbong perempuan yang ringsek, banyak diantaranya perempuan tangguh yang hanya ingin segera sampai ke kamar kos dan istirahat, ada istri yang sudah ditunggu suami dirumah, banyak juga ibu muda yang harus meninggalkan anaknya untuk bekerja pulang malam naik KRL, ada yang baru kembali bekerja setelah cuti melahirkan, terindikasi juga ditemukannya cooler bag ASI dalam gerbong kereta. Mereka mungkin perempuan-perempuan yang pagi itu berpamitan dengan tergesa-gesa, berjanji akan pulang sore nanti. Ibu-ibu muda itu sedang ditunggu putra putri kecilnya yang terus menanyakan “Ibu pulang jam berapa?”.

Dua peristiwa ini semakin meramaikan media sosial tentang bagaimana kita para perempuan yang harus berjalan di tengah tuntutan yang rasanya tidak pernah selesai. Kita diminta hadir penuh sebagai seorang ibu yang lemah lembut, penyayang, sabar dan selalu ada. Tapi di lain sisi, saya yakin diantara kita pasti ada yang pernah menangis diam-diam di kantor karena dituntut professional dan produktif sementara anak sedang membutuhkan kehadiran kita, atau ada masalah domestik yang belum terselesaikan. Kita diharapkan untuk mandiri secara finansial, kuat menghadapi tekanan, tapi harus tetap stabil secara emosi dan harus selalu soft spoken. Ketika perempuan memilih bekerja, kadang ada rasa bersalah yang terselip di hati. Tapi untuk resign, jelas bukan keputusan yang sederhana. Banyak kecemasan akan masa depan, tetapi banyak juga banyak mimpi-mimpi yang harus dikejar.

Memilih menjadi full-time mom juga bukan jalan yang lebih mudah. Sama lelahnya cuma berbeda jalannya. Ada pekerjaan domestik yang harus diselesaikan di rumah dari mata terbuka hingga malam hari. Sayangnya, kadang pekerjaan itu dianggap “bukan pekerjaan”. Mengasuh anak sendiri juga tetap tidak diapresiasi, padahal ibu-ibu ini juga merindukan ruang untuk diri sendiri, untuk sekedar duduk tenang dan ngopi-ngopi. Tidak luput juga dari penilaian sosial yang dianggap tidak produktif dan cuma bisa minta uang saja. Apapun pilihan perempuan, sepertinya selalu ada celah untuk disalahkan ya?

Sebagai sesama perempuan, baik yang bekerja di luar rumah, sepenuhnya menjadi full-time mom, bekerja online dari rumah, atau apapun jenis aktivitas dan pekerjaannya. Bukan saatnya kita bicara tentang siapa yang lebih berat bebannya. Kita sama-sama memikul beban yang sama beratnya kok, cuma terkadang, kita tidak bisa saling melihat beban perempuan lainnya.

Di tengah bisingnya dunia yang saling menghakimi dan menyalahkan, seharusnya kita sesama perempuan bisa saling menguatkan. Mulailah dengan hal sederhana, seperti tidak mudah menyalahkan perempuan lain atas keputusannya, memberikan apresiasi perempuan yang berani bicara, saling menjadi menjadi pendengar yang baik, mencoba melihat permasalahan tidak hanya dari satu sisi, tidak membanding-bandingkan pilihan hidup dan tidak perlu merasa paling benar. Setiap perempuan, setiap ibu, memiliki jalan ceritanya masing-masing. Urip iku mung sawang sinawang. Daripada saling menilai, kita bisa mulai untuk saling memahami.

Kita sekuat itu diciptakan sebagai seorang perempuan. Semua orang punya jatah perjuangannya masing-masing untuk menyambung dan memantaskan hidup. Hargai setiap lelah yang sudah kita jalani, tidak harus sempurna untuk merasa cukup. Untuk yang sudah melewati badai dan hari-hari berat, yang bahkan mungkin tidak sempat, atau tidak bisa kamu ceritakan pada siapapun. Sempatkan ucapkan terimakasih untuk diri sendiri. Terima kasih, ya, sudah bertahan sejauh ini.

Oleh : Andhita Dyorita Kh.,S.Psi, M.Psi, Psikolog (Dosen Program Studi Psikologi Unisa Yogyakarta)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *