UNISA Yogyakarta Gelar Diskusi Internasional Bahas Peran Agama, Sains, dan Kearifan Lokal dalam Mengatasi Krisis Lingkungan
Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta melalui Pusat Studi Perempuan, Keluarga, dan Bencana (PSPKB) menyelenggarakan diskusi Internasional bertajuk “The Role of Religion, Science and Environmental Issues in the Era of Decolonization” pada Senin (8/6/2026) di Ruang Sidang Hall Gedung Siti Moendjiyah. Kegiatan ini menghadirkan Alper E. Alasag, Chairman of IDEAS Institute, sebagai pembicara utama dan diikuti oleh pimpinan serta sivitas akademika UNISA Yogyakarta.
Diskusi Internasional
Diskusi ini mengangkat pentingnya membangun pendekatan baru dalam menghadapi persoalan lingkungan melalui integrasi agama, sains, dan pengetahuan lokal di tengah era dekolonisasi. Dalam paparannya, Alper E. Alasag menjelaskan bahwa dekolonisasi tidak hanya dimaknai sebagai kemerdekaan politik, tetapi juga upaya melepaskan diri dari dominasi cara pandang dan sistem pengetahuan tertentu. Dekolonisasi pengetahuan menjadi langkah penting untuk mewujudkan keadilan epistemik dan memberikan ruang bagi keberagaman sumber pengetahuan, termasuk nilai-nilai agama dan kearifan lokal.
Indonesia dinilai memiliki posisi strategis dalam isu lingkungan global karena merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan memiliki kekayaan biodiversitas yang tinggi. Namun demikian, berbagai tantangan seperti deforestasi, pencemaran laut, kebakaran lahan gambut, dan perubahan iklim masih menjadi persoalan serius yang perlu mendapat perhatian bersama.
Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Urusan Internasional UNISA Yogyakarta, Dr. Moh. Ali Imron, S.Sos., M.Fis., menyampaikan bahwa penyelesaian problem lingkungan di Indonesia harus dimulai dari sektor pendidikan. Menurutnya, pendidikan memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran dan perilaku masyarakat yang berkelanjutan.
“Persoalan lingkungan di Indonesia tidak cukup diselesaikan hanya dengan pendekatan teknologi atau kebijakan semata. Agama perlu dihadirkan sebagai kekuatan moral, kemudian diperkuat dengan ilmu pengetahuan, teknologi, serta kearifan dan pengetahuan lokal yang telah hidup di masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar untuk menyiapkan generasi yang mampu melihat persoalan lingkungan secara komprehensif. Karena itu, universitas perlu mengembangkan kurikulum dan modul pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan, sains, teknologi, serta pengetahuan lokal dalam upaya menjaga keberlanjutan lingkungan.
Dalam diskusi tersebut juga dibahas konsep-konsep etika lingkungan dalam Islam seperti khalifah (kepemimpinan dan tanggung jawab manusia sebagai penjaga bumi), amanah (kepercayaan), serta larangan melakukan fasad atau kerusakan di muka bumi. Nilai-nilai tersebut dinilai relevan untuk memperkuat kesadaran ekologis masyarakat modern.
Selain itu, pembicara menekankan pentingnya pengakuan terhadap pengetahuan masyarakat adat dan kearifan lokal sebagai bagian dari proses dekolonisasi pengetahuan. Berbagai praktik konservasi tradisional yang telah diwariskan turun-temurun terbukti mampu mendukung pelestarian lingkungan dan perlu dipadukan dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern.
Melalui kegiatan ini, UNISA Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk terus mendorong pengembangan pendidikan yang mengintegrasikan agama, sains, dan kearifan lokal guna menjawab berbagai tantangan global, khususnya dalam mewujudkan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Diskusi ini juga menjadi ruang refleksi bahwa masa depan lingkungan yang lebih baik membutuhkan kolaborasi berbagai pihak dengan menjadikan agama, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai lokal sebagai fondasi bersama.






















Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!