itikaf

Itikaf sepuluh hari terakhir bulan Ramadan selalu menjadi momen yang paling dinanti. Di fase krusial ini, umat muslim berlomba-lomba memburu kemuliaan malam Lailatul Qadar. Salah satu ibadah pamungkas yang paling dianjurkan untuk meraihnya.

Itikaf

Bagi sahabat UNISA Yogyakarta yang baru pertama kali merencanakan i’tikaf, bayangan menginap di masjid mungkin terasa sedikit menantang. Padahal, dengan persiapan yang tepat, ibadah ini justru menjadi sarana detoks spiritual yang sangat luar biasa untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Agar i’tikaf perdana sahabat UNISA Yogyakarta berjalan lancar, nyaman, dan tetap fokus, simak panduan praktis berikut ini:

  • Luruskan Niat

Semua ibadah bergantung pada niatnya. Saat melangkah masuk ke area masjid, bacalah niat: “Nawaitu an a’takifa fi hadzal masjidi sunnatan lillahi ta’ala” (Aku berniat i’tikaf sunnah di masjid ini karena Allah ta’ala). Tinggalkan sejenak urusan duniawi di luar pagar masjid.

  • Persiapan Fisik dan Mental

Mengisi malam dengan qiyamul lail, tilawah, dan zikir tentu menguras stamina. Pastikan tubuh dalam kondisi fit. Atur jam tidur siang dengan baik agar tidak mudah tumbang saat malam hari.

  • Barang Bawaan Wajib (Anti Ribet)

Jangan membawa barang layaknya orang pindahan! Bawa perlengkapan tempur secukupnya:

  • Alat salat (sajadah tipis/mukena) dan pakaian ganti yang menyerap keringat.
  • Alat mandi ukuran travel size dan handuk kecil.
  • Al-Qur’an saku, tasbih, dan buku zikir pagi-petang.
  • Botol minum (tumbler) dan suplemen/obat-obatan pribadi (termasuk tolak angin atau vitamin).
  • Jaket atau selimut tipis jika masjid ber-AC dingin.

Kunci utama i’tikaf adalah meminimalisir distraksi. Jadi, tahan godaan untuk scrolling media sosial. Selamat berburu Lailatul Qadar!

Penulis: Adi Sasmito, S.I.Kom (Humas UNISA Yogyakarta)

Kampus

Kampus tidak boleh hanya menjadi pabrik pencetak sarjana tanpa ruh spiritual. Mengambil momentum di bulan suci Ramadan, Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menggelar program bertajuk Refreshing Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi seluruh Dosen dan Tenaga Kependidikan (Tendik).

Kampus UNISA Yogyakarta

Berlangsung selama dua hari, Kamis hingga Jumat (12-13/3/2026), agenda ini dipusatkan di Hall Baroroh Baried dan Ruang Sidang Gedung Siti Moendjijah. Mengusung tema “Internalisasi Ideologi Muhammadiyah sebagai Nilai-nilai Budaya Unggul”, acara ini menjadi ajang muhasabah sekaligus pembinaan ideologi.

Rektor UNISA Yogyakarta, Dr. Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat., menegaskan bahwa kampus adalah bagian dari amal usaha persyarikatan yang mengemban misi dakwah.

“Kegiatan ini bukan sekadar acara seremonial tahunan di bulan Ramadan. AIK ini merupakan ruh yang menghidupkan setiap gerak institusi ini,” tegas Warsiti.

Peringatan senada disampaikan oleh Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UNISA Yogyakarta, Dr. Siti Noordjannah Djohantini, M.M., M.Si. Ia menyoroti ancaman liberalisasi dan sekularisasi di dunia pendidikan tinggi saat ini.

“Dosen dan tendik sebagai motor penggerak utama perlu memiliki kesadaran bahwa aktivitas akademik, selain tugas profesional, juga merupakan bagian dari ibadah dan perjuangan,” tuturnya.

Untuk memastikan materi tersampaikan maksimal, acara ini dibagi menjadi dua sesi. Hari pertama dikhususkan bagi jajaran dosen, disusul seluruh tendik pada hari kedua. Tak tanggung-tanggung, UNISA Yogyakarta menghadirkan 12 narasumber ahli yang merupakan pimpinan langsung dari PP Muhammadiyah dan PP ‘Aisyiyah.

THR

Bulan suci Ramadan 1447 H sering kali menjadi tantangan berat bagi ketahanan finansial masyarakat Tunjangan Hari Raya (THR). Alih-alih berhemat karena puasa, pengeluaran justru makin tak terkendali. Mulai dari ajakan buka bersama di berbagai tempat, kalap berburu takjil, hingga persiapan beli baju baru.

THR

Fenomena klasik ini membuat THR yang dibagikan jelang Lebaran sering kali lenyap tak bersisa. Padahal, tujuan utama THR adalah untuk mengamankan kebutuhan perayaan Idul Fitri, bukan dihabiskan secara impulsif.

Lalu, bagaimana cara memutus siklus kantong jebol ini? Biar dompet sahabat UNISA Yogyakarta tetap tebal dan aman hingga lebaran usai, terapkan jurus cerdas mengatur keuangan berikut ini:

  • Terapkan Aturan 50-30-20 Begitu THR Cair

Jangan biarkan uang mengendap di satu rekening. Langsung alokasikan 50% untuk kebutuhan pokok Lebaran (kue, hidangan, baju), 30% untuk kewajiban (zakat fitrah, sedekah, angpao keluarga), dan amankan 20% langsung ke tabungan atau investasi.

  • Ngerem Jadwal Bukber

Buka puasa bersama teman lama memang seru, tapi jadikan ini sebagai prioritas, bukan rutinitas. Batasi maksimal 2-3 kali saja selama Ramadan. Selebihnya, masak sendiri di rumah atau di kosan jauh lebih hemat!

  • Belanja Kebutuhan Lebaran Lebih Awal

Hindari penyakit panic buying pada H-3 Lebaran. Belilah tiket mudik, hampers, atau pakaian sejak awal atau pertengahan Ramadan untuk menghindari lonjakan harga yang gila-gilaan.

Jangan sampai setelah lebaran sahabat UNISA Yogyakarta malah pusing gali lubang tutup lubang. Yuk, lebih bijak kelola dana agar Ramadan tenang, lebaran pun senang!

Sumber : Finpedia

Penulis : Adi Sasmito, S.I.Kom (Humas UNISA Yogyakarta)

Bangun Laboratorium

Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta berencana bangun laboratorium stem cell pada pertengahan tahun 2026. Fasilitas ini disiapkan untuk mendukung pengembangan regenerative medicine atau pengobatan regeneratif yang disebut sebagai salah satu masa depan dunia medis. Diharap juga lahirnya laboraturium ini mendukung akses kesehatan kepada semua lapisan masyarakat.

Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Urusan Internasional Unisa Yogyakarta, Ali Imron saat pembukaan media gathering UNISA Yogyakarta, mengatakan pembangunan gedung laboratorium tersebut saat ini masih berlangsung dan ditargetkan mulai beroperasi sekitar Juli–Agustus 2026.

“Sekarang gedungnya sedang dibangun, dan InsyaAllah sekitar Juli kita bisa running untuk pembukaan laboratorium stem cell di Unisa Yogyakarta,” kata Ali Imron, saat agenda Media Gathering, di Sleman, Senin (9/3/2026).

Menurutnya, keberadaan laboratorium ini akan menjadi lompatan penting bagi Unisa Yogyakarta dalam pengembangan ilmu kedokteran dan sains kesehatan, khususnya yang berkaitan dengan pengobatan regeneratif.

Bangun Laboratorium Stem Cell

Ia menjelaskan, stem cell merupakan bagian penting dari perkembangan future medicine. Pendekatan ini berfokus pada upaya memperbaiki atau mengganti sel-sel tubuh yang rusak dengan sel baru sebagai metode terapi.

Future medicine salah satunya adalah regenerative medicine. Artinya, kalau kita tidak menuju ke sana, kita akan ketinggalan,” ujarnya.

Imron menuturkan bahwa sesuai regulasi di Indonesia, penggunaan terapi berbasis stem cell harus didukung oleh proses penelitian dan pengembangan di laboratorium. Karena itu, laboratorium yang akan dibangun di Unisa difungsikan sebagai fasilitas penelitian sebelum terapi dilakukan pada pasien.

Laboratorium tersebut nantinya dapat dimanfaatkan oleh berbagai program studi di bidang kesehatan di lingkungan Unisa Yogyakarta, serta mendukung pengembangan riset ilmiah yang berkaitan dengan bioteknologi dan ilmu kesehatan lainnya.

Saat ini, kata Imron, jumlah laboratorium stem cell di Indonesia masih sangat terbatas, yakni sekitar delapan fasilitas di seluruh Indonesia. “Ini fasilitas pendukung untuk penelitian. Oleh prodi-prodi kesehatan bisa dipakai,” katanya.

Selain untuk pengembangan ilmu pengetahuan, keberadaan laboratorium ini juga diharapkan dapat meningkatkan akses masyarakat terhadap teknologi kesehatan yang selama ini masih mahal karena bergantung pada produk impor. Ia mencontohkan, beberapa terapi turunan stem cell untuk penyakit tertentu, seperti diabetes mellitus, masih menggunakan produk impor dengan biaya yang sangat tinggi. “Sekali injeksi bisa sampai sekitar Rp225 juta. Prinsip kita di Unisa Yogyakarta, teknologi kesehatan tidak boleh hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu saja,” ujarnya.

Imron berharap semakin banyak laboratorium stem cell yang dibangun di Indonesia, maka biaya terapi berbasis teknologi regeneratif dapat semakin terjangkau oleh masyarakat luas. “Semakin banyak laboratorium dibangun, aksesibilitas masyarakat akan semakin tinggi dan harga bisa ditekan sehingga lebih banyak orang bisa menikmati manfaatnya,” jelasnya.

Selain pengembangan fasilitas laboratorium, Unisa Yogyakarta juga membuka Program Magister Fisioterapi mulai tahun akademik ini. Program tersebut memiliki konsentrasi pada regenerative fisioterapi, yang selaras dengan pengembangan riset stem cell di kampus tersebut.

Jaga hati

Bulan suci Ramadan 1447 H tengah kita jalani, seringkali fokus umat muslim hanya tertuju pada persiapan menu sahur praktis atau berburu takjil berbuka bukan jaga hati. Padahal, ada esensi yang jauh lebih krusial di balik ibadah puasa: menahan hawa nafsu dan menjaga kebersihan hati.

Nabi Muhammad SAW pernah mengingatkan bahwa betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapat apa-apa selain rasa lapar dan dahaga. Mengapa hal ini bisa terjadi? Penyebab utamanya adalah gagalnya kita menjaga hati dan lisan dari perkara yang sia-sia di lingkungan sehari-hari, baik itu di kampus, kantor, rumah, maupun di kerasnya dunia maya alias media sosial.

Jaga Hati

Agar ibadah puasa Sahabat UNISA Yogyakarta tahun ini lebih khusyuk, diterima, dan tak sekadar menahan lapar, coba terapkan beberapa trik detoks hati berikut ini:

  • Puasa Sosmed dari Gibah: Jempol sering kali lebih tajam dari lidah. Hindari ikut campur komentar julid, bergosip, atau menyebarkan hoaks. Gunakan media sosial murni untuk mencari informasi bermanfaat dan berbagi kebaikan.
  • Manajemen Emosi di Tengah Padatnya Aktivitas: Terjebak macet jelang buka puasa atau tumpukan deadline di kampus maupun kantor memang bikin spaneng. Alih-alih mengeluh, tarik napas panjang dan perbanyak istighfar. Ingat, marah hanya akan menguras energi dan menggerus pahala puasa.
  • Perbanyak Me Time Spiritual: Alihkan waktu scrolling HP Sahabat UNISA Yogyakarta dengan memperbanyak tilawah Al-Qur’an, dzikir, atau mendengarkan kajian singkat yang menyejukkan hati.
  • Lapangkan Dada untuk Memaafkan: Bersihkan hati dari rasa iri, dengki, dan dendam masa lalu. Hati yang lapang akan membuat ibadah terasa jauh lebih ringan dan damai.

Jangan biarkan rasa haus dan lapar Sahabat UNISA Yogyakarta terbuang percuma. Jadikan Ramadan ini sebagai momentum melatih kesabaran tingkat tinggi demi meraih ketakwaan yang seutuhnya!

Sumber: Dakwah Digital, MQ

Penulis: Adi Sasmito, S.I.Kom (Humas UNISA Yogyakarta)