Ombudsman

Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan kunjungan audiensi ke Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta pada Rabu (4/3/2026). Kegiatan berlangsung di Ruang Meeting Pimpinan Lantai 2 Gedung Siti Walidah UNISA Yogyakarta.

Kunjungan Ombudsman

Audiensi ini merupakan bagian dari upaya memperkuat sinergi kelembagaan antara Ombudsman RI DIY dan institusi pendidikan tinggi dalam mendorong pengawasan serta peningkatan kualitas pelayanan publik.

Hadir dalam kunjungan tersebut Kepala Perwakilan Ombudsman RI DIY, Muflihul Hadi, didampingi Kepala Keasistenan Pencegahan,  Chasidin dan Humas, Fajar Hendy Lesmana. Sementara dari UNISA Yogyakarta, audiensi diterima oleh Wakil Rektor II Dr. Yuli Isnaeni, Wakil Rektor III Prof. Mufdlilah, Wakil Rektor IV Dr. Moh. Ali Imron, serta jajaran  Biro Humas, Biro Kerja Sama dan Kesekretariatan.

Dalam sambutannya, Dr. Moh. Ali Imron memperkenalkan profil UNISA Yogyakarta yang saat ini memiliki empat fakultas dengan lebih dari 8.000 mahasiswa yang berasal dari 34 provinsi di Indonesia serta telah meraih akreditasi unggul. Ia menyampaikan apresiasi atas kehadiran Ombudsman RI DIY sebagai bagian dari penguatan tata kelola dan budaya pelayanan publik di lingkungan kampus.

Sementara itu, Muflihul Hadi menjelaskan bahwa Ombudsman RI DIY secara aktif melakukan silaturahmi ke berbagai kampus di Yogyakarta. Menurutnya, masih banyak masyarakat, termasuk kalangan mahasiswa, yang belum memahami secara komprehensif peran dan fungsi Ombudsman dalam pengawasan pelayanan publik.

“Kami memiliki sejumlah program yang dapat diakses oleh mahasiswa dan civitas akademika, seperti program magang, Sahabat Ombudsman untuk pelajar dan mahasiswa, hingga kolaborasi KKN Bersama Ombudsman yang berfokus pada edukasi dan audit pelayanan publik di desa,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan bahwa Ombudsman membuka ruang kolaborasi dalam program Praktisi Mengajar, khususnya pada bidang Administrasi Publik, serta dukungan terhadap riset mahasiswa yang berkaitan dengan isu pelayanan publik.

Dalam sesi diskusi, Prof. Mufdlilah menekankan pentingnya membangun atmosfer keterbukaan dan transparansi di kampus. Ia menyoroti fenomena keluhan mahasiswa yang kerap disampaikan melalui media sosial, dan menanyakan mekanisme perlindungan serta standar operasional prosedur (SOP) apabila terjadi krisis atau pengaduan pelayanan.

Menanggapi hal tersebut, Ombudsman RI DIY menjelaskan bahwa setiap pengaduan perlu difasilitasi melalui kanal resmi dan mekanisme yang jelas. Edukasi preventif terkait literasi pengaduan serta pemahaman terhadap Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik menjadi langkah penting dalam membangun budaya pelayanan yang akuntabel.

Dr. Yuli Isnaeni juga menanyakan kemungkinan program literasi preventif dan pendampingan terkait sistem pengaduan di lingkungan kampus. Sementara itu, Kepala Biro Humas dan Protokol, Sinta Maharani, mengajukan pertanyaan mengenai peluang review pelayanan publik di UNISA Yogyakarta serta kemungkinan penerbitan sertifikat. Ombudsman menjelaskan bahwa pihaknya dapat melakukan review dan pendampingan, namun tidak menerbitkan sertifikat.

Isu inklusivitas pelayanan turut menjadi perhatian, khususnya terkait perlindungan mahasiswa asing dan mahasiswa dengan disabilitas. Ombudsman mendorong agar prinsip pelayanan publik yang inklusif (ramah disabilitas, lansia, anak, dan ibu menyusui) dapat diimplementasikan secara bertahap sesuai kebutuhan dan kemampuan anggaran institusi.

Audiensi ini menghasilkan rencana tindak lanjut berupa penjajakan nota kesepahaman (MoU) antara UNISA Yogyakarta dan Ombudsman RI DIY, yang akan difasilitasi oleh Biro Kerja Sama dan Urusan Internasional. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkuat literasi pelayanan publik, membuka ruang magang dan praktisi mengajar, serta membangun sistem pengaduan yang lebih responsif dan transparan di lingkungan perguruan tinggi.

Melalui pertemuan ini, UNISA Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas tata kelola dan pelayanan publik sebagai bagian dari implementasi nilai-nilai keterbukaan, profesionalitas, dan keberpihakan pada kepentingan mahasiswa serta masyarakat luas.

Ombudsman
Ombudsman
Produktif kerja

Bulan suci Ramadan tentu membawa perubahan rutinitas bagi umat Islam, tak terkecuali bagi para pekerja atau karyawan agar produktif kerja. Salah satu tantangan terbesarnya adalah menerapkan manajemen waktu saat Ramadan yang tepat agar tubuh tidak lemas seharian.

Produktif Kerja

Perubahan siklus akibat kewajiban bangun sahur sering kali membuat kita didera rasa kantuk yang luar biasa di siang hari, khususnya saat sedang menatap layar laptop di kantor. Mengapa hal ini bisa terjadi? Pemotongan durasi istirahat di malam hari serta menurunnya kadar gula darah menjadi biang kerok utama yang bisa merusak fokus dan produktivitas kerja sahabat UNISA Yogyakarta.

Lantas, bagaimana cara mengatur jam tidur agar tidak mengantuk saat bekerja? Coba terapkan strategi berikut:

  • Tidur Lebih Awal: Hindari scrolling media sosial tanpa arah. Usahakan langsung tidur setelah salat Tarawih agar tubuh mendapat jatah istirahat minimal 4-5 jam sebelum sahur.
  • Sempatkan Power Nap: Manfaatkan waktu istirahat siang di kantor untuk memejamkan mata sejenak selama 15-20 menit. Ini sangat ampuh mengembalikan energi.
  • Hindari Kafein Saat Sahur: Kurangi minum kopi atau teh saat sahur karena sifat diuretiknya justru memicu dehidrasi dan lemas di siang hari.

Dengan kedisiplinan mengatur jam tidur, sahabat UNISA Yogyakarta bisa tetap segar dan fokus mengeksekusi deadline tanpa harus menguap seharian. Selamat berpuasa dan tetap semangat!

Sumber: MSIG, Hello Sehat

Penulis: Adi Sasmito, S.I.Kom (Humas UNISA Yogyakarta)

Mustajab untuk berdoa

Bulan suci Ramadan senantiasa dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia, selain menunaikan kewajiban berpuasa, bulan penuh berkah ini menjadi momen emas karena menyimpan banyak waktu mustajab untuk berdoa. Mengapa demikian? Sebab pada bulan Ramadan, Allah SWT membuka pintu rahmat lebar-lebar sehingga doa hamba-Nya lebih cepat terkabul.

Mustajab Untuk Berdoa

Lantas, kapan saja waktu terbaik tersebut dan bagaimana cara kita memaksimalkannya di mana pun kita berada? Agar ibadah makin nendang dan hajat lekas terwujud, sahabat UNISA Yogyakarta wajib tahu daftarnya!

Berikut 7 waktu paling mustajab untuk berdoa di bulan Ramadhan yang pantang untuk dilewatkan:

  1. Sepertiga Malam Terakhir (Waktu Sahur): Momen hening yang sangat dianjurkan untuk memohon ampunan dan hajat.
  2. Menjelang Berbuka Puasa: Waktu di mana rasa lapar dan dahaga memuncak, doa orang yang berpuasa dijamin tidak akan ditolak!
  3. Sepanjang Waktu Berpuasa: Dari terbit fajar hingga tenggelam matahari adalah waktu penuh kebaikan.
  4. Jeda Antara Adzan dan Iqamah: Kesempatan emas di setiap sela waktu salat wajib.
  5. Malam Lailatul Qadar: Malam spesial di 10 hari terakhir yang lebih mulia dari seribu bulan.
  6. Saat Sujud dalam Salat: Momen posisi terdekat seorang hamba dengan Tuhannya.
  7. Hari Jumat: Khususnya setelah waktu Ashar hingga menjelang Maghrib.

Nah, sahabat UNISA Yogyakarta, jangan sampai rugi! Yuk, maksimalkan tujuh waktu di atas dengan doa terbaikmu. Semoga segala harapan di Ramadan tahun ini segera diijabah oleh Allah SWT. Amin!

Sumber : Zakat.or.id, Jawapos

Penulis : Adi Sasmito,S.I.Kom (Humas UNISA Yogyakarta)

Kip kuliah

Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menggelar Temu Awal Audit Kinerja Program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah Tahun Anggaran 2025 pada Senin (2/3/2026) di Ruang Sidang Gedung Siti Moendjiyah UNISA Yogyakarta. Kegiatan audit berlangsung selama lima hari, mulai 2 hingga 6 Maret 2026.

KIP Kuliah

Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam memastikan pelaksanaan program KIP Kuliah berjalan sesuai prinsip tata kelola yang transparan, akuntabel, dan tepat sasaran, sekaligus mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Agama Islam, dan Kemuhammadiyahan–Ke’Aisyiyahan UNISA Yogyakarta, Prof. Dr. Mufdlilah, S.SiT., M.Sc., menyampaikan bahwa audit ini merupakan kunjungan yang sangat berharga bagi universitas dalam memperkuat tata kelola program KIP Kuliah.

“Kegiatan ini menunjukkan komitmen bersama dalam memastikan pengelolaan KIP Kuliah berjalan transparan dan akuntabel sehingga mampu mencapai sasaran yang tepat,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa program KIP Kuliah memiliki peran strategis dalam meningkatkan indeks pembangunan sumber daya manusia. Menurutnya, ketika program berjalan dengan baik, dampaknya tidak hanya pada akses pendidikan, tetapi juga pada peningkatan ekonomi masyarakat serta upaya pengentasan kemiskinan.

“KIP Kuliah menjadi penolong bagi masyarakat yang kurang mampu untuk mengakses pendidikan tinggi. Program ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk melanjutkan studi sekaligus mengembangkan potensi yang mereka miliki,” tambahnya.

UNISA Yogyakarta, lanjutnya, berkomitmen menjaga integritas dan akuntabilitas dalam pengelolaan program dengan menjalankan seluruh proses sesuai regulasi yang telah ditetapkan pemerintah. Audit ini juga diharapkan menjadi bagian dari upaya keberlanjutan dalam meningkatkan kualitas tata kelola program di masa mendatang.

Sementara itu, Auditor Ahli Utama Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Prof. Candra Irawan, menjelaskan bahwa tim auditor mendapat mandat untuk melaksanakan audit kinerja KIP Kuliah secara menyeluruh.

“Kami ditugaskan melakukan audit kinerja KIP Kuliah sebagai bentuk pemantauan yang lebih mendalam. Audit ini telah kami lakukan secara nasional sejak tahun 2022,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa selama proses audit, tim akan melakukan klarifikasi dan verifikasi data, termasuk wawancara langsung dengan mahasiswa penerima manfaat. Pemeriksaan difokuskan pada kegiatan yang telah selesai dilaksanakan sebagai bentuk pertanggungjawaban penggunaan anggaran negara.

“Karena ini menggunakan uang negara, maka seluruh pelaksanaan program perlu dipertanggungjawabkan secara jelas dan terukur,” tegasnya.

Melalui pelaksanaan audit ini, diharapkan pengelolaan KIP Kuliah di UNISA Yogyakarta semakin optimal serta mampu terus memperluas akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu, sekaligus mendukung pembangunan sumber daya manusia yang berkelanjutan.

Tradisi ramadan

Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menggelar acara menarik bertajuk Dialog Ruang Ketiga di Masjid Walidah Dahlan, Jumat (27/02/2026), mengusung tema “Puasa Dalam Pengalaman Bangsa-Bangsa”, acara ini membedah ragam budaya dan tradisi Ramadan dari berbagai belahan dunia melalui perspektif mahasiswa internasional.

Tradisi Ramadan

Wakil Rektor IV UNISA Yogyakarta, Dr. M. Ali Imron, M.Fis, mengatakan kegiatan ini digelar sebagai ruang diskusi santai untuk mempererat keberagaman budaya mahasiswa luar negeri yang menempuh pendidikan di UNISA Yogyakarta.

Menurutnya, perbedaan negara, bahasa, hingga tradisi puasa menjadi pengalaman menarik yang dapat memperkuat kolaborasi internasional sekaligus memperluas wawasan mahasiswa tentang praktik Ramadan di berbagai belahan dunia.

“Kami sangat terbuka bagi mahasiswa internasional. Melalui dialog ini, civitas akademika dapat saling mengenal budaya puasa dari berbagai negara,” ujar Imron.

Kegiatan ini menghadirkan enam mahasiswa asing, yakni Musa Zakari dari Nigeria, Nahlah Nabil S. Ahmed asal Yaman, Sulemana A. Majeed dari Ghana, Huzifa Mohamed Ali asal Sudan, Mohammed Arman dari India, serta M. Abdul Salam Dirbal dari Libya.

Sulemana menceritakan bahwa di Ghana, warga kerap menunggu waktu berbuka dengan bermain musik tradisional. Sementara itu, Nahlah dan Ali menyoroti kuliner khas Ramadan di Yaman dan Sudan yang hanya muncul saat sahur dan berbuka.

Acara yang berlangsung hangat ini diakhiri dengan diskusi interaktif antara pembicara dan mahasiswa yang memadati masjid, menciptakan harmoni budaya di tengah suasana Ramadan yang syahdu.