ekonomi

Glorifikasi kemandirian ekonomi nasional yang sejak awal digaungkan dan menjadi harapan masyarakat Indonesia, saat ini justru berpotensi menghadapi paradoks yang semakin terkuak kepermukaan. Narasi nasionalisme ramai riuh digaungkan ditengah podium, namun pada tataran praktis kebijakan acapkali paradigma globalisme pragmatis justru menjadi acuan esksekusi.

Dalam tataran normatif, pemerintah giat mendorong kemandirian ekonomi nasional yang meliputi kampanye penggunaan produk dalam negeri, hilirisasi industri, hingga penguatan ekonomi rakyat. Namun lagi dan lagi, dalam prakteknya kebijakan yang dihadirkan justru berpeluang membuka kran impor besar, bahkan untuk program yang dikaitkan dengan ekonomi kerakyatan di tingkat desa.

Ekonomi

Dilihat secara makro, kondisi ekonomi Indonesia secara umum dianggap masih cukup stabil. Bahwa benar terdapat fluktuasi situasi dalam periode tertentu, namun pertumbuhan ekonomi masih dalam tren yang positif pada tingkatan 5 %. Konsumsi di tingkat domestik masih cukup terjaga dan sektor manufaktur masih menunjukkan daya yang cukup baik.

Dalam sektor yang lebih spesifik, misalnya dalam industri otomotif nasional, sektor ini memiliki daya kapasitas produksi yang besar (lebih dari 1 juta unit per tahun) dan mampu menyerap ratusan ribu tenaga kerja lokal yang mampu menggerakkan roda ekonomi ikutan secara masif. Potensi ini, jika dirunut secara logis dianggap mampu memenuhi kebutuhan pengembangan ekonomi nasional yang digaungkan oleh pemerintah.

Namun dengan potensi dan logika tersebut, ternyata masih belum cukup meyakinkan pemerintah untuk mendukung gerakan ekonomi kerakyatan. Salah satu program unggulan pemerintah di level desa, yang khusus menggerakkan ekonomi desa melalui sistem koperasi justru saat ini sedang dikaitkan dengan rencana impor puluhan hingga ratusan ribu kendaraan operasional dari India. Pilihan tersebut didasari oleh alasan yang cukup klasik. Harga murah dan spesifikasi khusus yang belum mampu diproduksi oleh produsen dalam negeri menjadi dasar. Jika dijabarkan secara teknokratis, alasan tersebut bisa saja masuk akal, namun secara politik-ekonomi kebijakan, situasi tersebut mengindikasikan potensi ketidakberpihakan. Saat negara membutuhkan barang dalam jumlah masif, pemerintah menganggap industri lokal-nasional bukanlah pilihan yang pantas untuk dilirik.

Keberpihakan Menjadi Fondasi Utama

Kita pahami bersama bahwa hampir tidak ada negara yang sepenuhnya autarkis (mandiri), namun semangat ekonomi nasional tidak boleh hanya riuh di podium, ini butuh keberpihakan secara strategis. Kebijakan, program dan proyek negara harus menjadi panggung utama untuk membangun kekuatan industri dalam negeri. Negara dengan segala sumber daya yang dimiliki adalah konsumen / pembeli terbesar dalam sistem ekonomi dalam negeri. Negara mampu memperbaiki ekonomi hingga memajukannya dengan keberpihakan yang dilakukan. Setiap rupiah yang dibelanjakan dan keberpihakannya menentukan siapa yang dipilih untuk tumbuh, apakah industri nasional atau industri negara lain ? jika proyek ekonomi level desa saja sudah tidak berpihak pada industri nasional dalam negeri, lantas program dan proyek mana yang akan mengakodomasinya ?

Seringkali kita rasakan bahwa kebijakan yang diambil oleh pemerintah seringkali membuat masyarakat harus lebih jauh mencerna secara mendalam. Kemandirian, nasionalisme dan berdikari sering digaungkan, namun dalam pelaksanaan, tender, dan pemenangnya adalah mereka yang mampu menciptakan produk dengan harga murah dan masif. Industri kita mungkin saja siap, namun skenario impor seringkali menjadi favorit utama untuk dipilih.

Negara akhirnya terjebak dalam pragmatisme jangka pendek. Impor dianggap solusi cepat untuk memenuhi target program, sementara pembangunan industri domestik dipandang sebagai agenda jangka panjang yang bisa ditunda. Padahal setiap keputusan impor besar hari ini adalah kesempatan industrialisasi yang hilang untuk lima hingga sepuluh tahun ke depan. Jika pola seperti ini terus dibiarkan, maka cita-cita akan kemandirian dan nasionalisme masih harus bersabar untuk turun dari podium. Negara justru akan beresiko masuk dalam jebakan negara pasar besar tetapi tingkat produksi tidak tumbuh. Situasi ini menciptakan pola konsumsi yang tinggi, namun nilai ekonomi besar yang masuk ke industri justru pergi ke produsen negara luar.

Harapan kita bersama, pemerintah harus berani secara nyata merubah paradigma pengadaan barang dan jasa publik. Ubah paradigdma dari sekedar teknis belanja menjadi strategic industrial policy. Pengadaan untuk program ekonomi tingkat desa dalam bingkai usaha koperasi dapat dirancang secara bertahap melalui kontrak produksi dalam negeri. Jika memang belum mampu secara masif, dapat dilakukan secara bertahap. Pola ini justru lebih elegan dan menunjukkan keberpihakan nyata terhadap ekonomi nasional. Pola seperti ini yang umumnya dilakukan oleh negara maju dengan tekun sampai berada pada titik keberhasilan yang berkelanjutan. Hal lain yang tidak kalah penting adalah soal transparansi. Publik punya hak untuk mengetahui untuk rugi perbandingan pengadaan dengan pendekatan industri lokal dan kebijakan impor. Tanpa transparansi, nasionalisme ekonomi akan selalu kalah oleh logika teknis yang tidak pernah diuji secara terbuka.

Pada akhirnya, Masyarakat juga menyadari bahwa nasionalisme tidak hanya soal seberapa keras dan lantang ia diteriakkan, namun seberapa berpihak pemerintah melaksanakannya melalui kebijakan nyata. Nasionalisme tidak boleh sekedar menjadi dekorasi dan kosmetik politik. Ia harus berdiri sebagai landasan filosifis, logika, dan eksekusi nyata. Di masa depan, Sejarah akan menunjukkan, bahwa bangsa yang besar tidak dibangun melalui jargon dan slogan, melainkan oleh keputusan kebijakan yang berpihak pada negara itu sendiri.

Gerry Katon Mahendra, S.IP., M.I.P. – Dosen Administrasi Publik UNISA Yogyakarta

Makna puasa

Dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadan, Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan Dialog Ruang Ketiga bertajuk Puasa dalam Perspektif Agama-Agama di Lantai 2 Masjid Walidah Dahlan bahas makna puasa, Kamis (26/2/2026). Kegiatan ini menghadirkan empat narasumber dari latar belakang agama yang berbeda serta diikuti oleh mahasiswa Unisa Yogyakarta dari berbagai keyakinan.

Makna Puasa

Empat narasumber yang hadir dalam dialog tersebut yaitu Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Urusan Internasional Unisa Yogyakarta, Moh. Ali Imron, sebagai perwakilan agama Islam. Kemudian, Leonard Chrysostomos Epafras, dari Kristen, lalu Ontran Sumantri Riyanto dari Katolik, serta AKBP (Purn) I Nengah Lotama, dari agama Hindu. Kegiatan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keterbukaan, dengan antusiasme mahasiswa yang mengikuti jalannya diskusi hingga selesai.

Dialog Ruang Ketiga ini bertujuan untuk membangun pemahaman bersama mengenai makna puasa dari berbagai perspektif agama. Melalui kegiatan ini, peserta diajak melihat bahwa meskipun setiap agama memiliki tata cara yang berbeda, nilai yang diajarkan memiliki kesamaan, yaitu menumbuhkan empati, memperkuat spiritualitas, serta mempererat persaudaraan.

Dalam pemaparannya, I Nengah Lotama menjelaskan bahwa dalam ajaran Hindu, puasa dimaknai sebagai proses pencarian jati diri. Puasa tidak hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, tetapi menjadi sarana untuk mengendalikan diri dan melakukan introspeksi. “Melalui puasa seseorang diajak untuk menata kembali sikap dan perilakunya agar dapat menjadi pribadi yang lebih baik di masa mendatang,” ujarnya.

Sementara itu, Leonard Chrysostomos Epafras menyampaikan bahwa dalam agama Kristen, puasa lebih bersifat personal dan tidak terlalu terikat oleh aturan yang kaku. Puasa menjadi ruang bagi setiap individu untuk membangun kedekatan dengan Tuhan, salah satunya dengan menahan diri dari kebiasaan tertentu atau hal-hal yang dianggap dapat mengganggu pertumbuhan spiritual.

Pandangan yang tidak jauh berbeda juga disampaikan oleh Ontran Sumantri Riyanto. Ia menjelaskan bahwa dalam agama Katolik, praktik puasa dan pantang dilakukan secara lebih terstruktur. “Umat Katolik dianjurkan untuk berpuasa pada usia 18 sampai 60 tahun, sedangkan pantang dianjurkan mulai usia 14 tahun,” jelasnya.

Menurutnya, puasa dan pantang bertujuan melatih disiplin diri. Selain itu juga puasa juga mengajak umat untuk hidup lebih sederhana dan peduli terhadap sesama.

Dari perspektif Islam, Ali Imron menuturkan bahwa puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi umat muslim yang mampu menjalankannya. Namun, Islam juga memberikan berbagai keringanan. Anak-anak yang belum mampu tidak diwajibkan berpuasa, begitu pula dengan orang lanjut usia, orang sakit, atau mereka yang sedang dalam perjalanan. Bagi yang tidak mampu secara fisik, terdapat ketentuan seperti fidyah sebagai bentuk pengganti. Ia menegaskan bahwa pada dasarnya ajaran Islam tidak memberatkan, melainkan memberikan kemudahan agar umat dapat menjalankan ibadah sesuai dengan kemampuannya.

Melalui pemaparan dari keempat narasumber tersebut, terlihat bahwa meskipun terdapat perbedaan dalam praktik dan aturan, makna puasa pada setiap agama memiliki tujuan yang sejalan. Puasa menjadi latihan untuk menahan diri, mengendalikan hawa nafsu, mendekatkan diri kepada Tuhan, serta menjadi momentum untuk memperbaiki kualitas diri.

Diskusi berlangsung interaktif dengan beberapa mahasiswa yang turut mengajukan pertanyaan dan berbagi pandangan. Kegiatan kemudian ditutup dengan buka puasa bersama sebagai bentuk kebersamaan dan simbol harmoni di tengah keberagaman. (Wahyu Hafiz Sakti)

Khatam Al-Qur`an

Momen bulan suci selalu menjadi ajang berlomba-lomba meraup pahala, salah satu target utama umat muslim tentu saja ingin bisa khatam Al-Qur’an 30 juz. Sayangnya, semangat yang menggebu di awal sering kali kendor di pertengahan bulan karena merasa berat membaca berlembar-lembar ayat sekaligus.

Khatam Al-Qur`an

Namun jangan khawatir, ada trik jitu yang bisa Anda terapkan di rumah maupun di sela waktu kerja setiap harinya. Rahasianya adalah menerapkan metode One Day One Juz (ODOJ) dengan sistem cicil.

Satu juz dalam mushaf Al-Qur’an standar rata-rata terdiri dari 20 halaman (10 lembar). Membacanya dalam satu waktu duduk mungkin menyita durasi panjang. Trik cerdasnya, cukup bagi 20 halaman tersebut ke dalam 5 waktu salat fardu.

Berikut simulasi pembagiannya agar terasa super ringan:

  • Subuh: Baca 2 lembar (4 halaman) sebelum atau sesudah salat.
  • Dzuhur: Baca 2 lembar (4 halaman) di sela jam istirahat siang.
  • Ashar: Baca 2 lembar (4 halaman) setelah salat Ashar.
  • Maghrib: Baca 2 lembar (4 halaman) sembari menunggu waktu Isya.
  • Isya/Tarawih: Baca 2 lembar (4 halaman) sebagai penutup hari.

Dengan rumus cicil 2 lembar per waktu salat ini, target 1 juz per hari dijamin tercapai mulus tanpa terasa membebani. Kuncinya hanya satu: konsistensi!

Sumber : Detik, Muslim.or.id

Penulis : Adi Sasmito, S.I.Kom (Humas UNISA Yogyakarta)

Tugas akhir

Tugas akhir tidak selalu harus berupa laporan penelitian yang disusun bab demi bab. Di Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, karya kreatif juga dapat menjadi bentuk tugas akhir. Hal ini dibuktikan oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi, Delia Putri, yang berhasil meluncurkan buku keduanya berjudul Di Kehidupan Lain, Cintai Aku dengan Benar, Ayah! sebagai salah satu persyaratan kelulusan Seminar Hasil.

Tugas Akhir

Wakil Rektor I Unisa Yogyakarta, Sulistyaningsih menyampaikan apresiasi dan kekagumannya terhadap karya yang dihasilkan. “Beberapa bagian dalam buku ini mampu menyentuh pengalaman emosional pembaca secara mendalam,” ujar Sulistyaningsih, dalam acara Creative Talk, Book Launching & Diseminasi Di Kehidupan Lain, Cintai Aku dengan Benar, Ayah!, yang digelar di Perpustakaan Unisa Yogyakarta, Rabu (25/2/2026).

Sementara itu, Dekan Fakultas Ekonomi, Ilmu Sosial, dan Humaniora (FEISHum), Annisa Warastri berharap buku ini dapat menjadi media refleksi bagi generasi muda, khususnya dalam menyuarakan isu kesehatan mental dan relasi keluarga yang saat ini banyak dialami oleh anak muda. “Buku ini dapat menjadi salah satu pilihan dalam penyelesaian tugas akhir. Bentuk tugas akhir di Program Studi Ilmu Komunikasi sangat beragam, dan semoga karya ini dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya,” ujarnya.

Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi, Hari Akbar menambahkan bahwa mahasiswa tidak harus terpaku pada tugas akhir konvensional. Selain buku, mahasiswa dapat menghasilkan karya lain seperti film dengan standar nasional maupun karya musik, selama memenuhi kaidah akademik dan kontribusi keilmuan.

Peluncuran buku ini menjadi contoh nyata bahwa karya kreatif dapat menjadi media komunikasi yang efektif sekaligus bentuk implementasi kompetensi mahasiswa di bidang Ilmu Komunikasi. Melalui tulisan dalam bentuk buku, mahasiswa tidak hanya menyampaikan pesan personal, tetapi juga memberikan dampak sosial bagi pembacanya.

Pemimpin Redaksi Penerbit Gradien Mediatama, Tri Prasetyo menyampaikan bahwa Indonesia termasuk salah satu negara dengan tingkat fatherless yang cukup tinggi. Ia berharap karya seperti ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya peran ayah dalam keluarga.

Dalam kesempatan tersebut, Delia Putri sebagai penulis juga menyampaikan harapannya kepada para pembaca.“Saya berharap buku ini bisa menjadi alasan untuk memaafkan ayah, sekaligus menjadi teman dan penguat bagi siapapun yang membacanya,” ungkapnya. Selepas acara launching, acara dilanjutkan dengan diskusi buku bersama penulis. Para peserta yang hadir pun antusias mengikuti jalannya diskusi.(Wahyu Hafiza Sakti)

Profesi ners

Program Studi Pendidikan Profesi Ners Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta kembali menyelenggarakan kegiatan Panum (Kepaniteraan Umum) Pendidikan Profesi Ners XXI TA 2025/2026 Genap pada. Kegiatan ini dilaksanakan di mulai dari Rabu (25/02/2026) hingga Jum’at 17/04/2026) bertempat di Hall Siti Baroroh Barried UNISA Yogyakarta. Kegiatan pembukaan ini diikuti oleh sebanyak 181 mahasiswa Co-Ners Angkatan XXI yang sudah resmi lulus sebagai Sarjana Keperawatan.

Profesi Ners

Kegiatan Panum ini bertujuan untuk memberikan pembekalan awal kepada mahasiswa sebagai persiapan sebelum menjalani praktik profesi keperawatan di Rumah Sakit dan lahan praktik lainnya selama kurang lebih 10 bulan. Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UNISA Yogyakarta Dr. Dewi Rokhanawati, S.SiT., M.P.H menekankan, melalui kegiatan Panum ini mahasiswa diharapkan memiliki kesiapan baik dari aspek pengetahuan, keterampilan, maupun sikap profesional dalam menjalani pendidikan profesi ners.

Rangkaian kegiatan Panum meliputi Pembukaan Panum, penguatan karakter, pembekalan Etika Profesi, pembekalan Bantuan Hidup Dasar (BHD), Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), Service Excellent, serta bijak berkomunikasi melalui Sosial Media. Selain itu, mahasiswa juga mendapatkan pembekalan terkait stase yang akan ditempuh, penugasan selama praktik profesi, serta pelaksanaan uji keterampilan (uji skill).

Kegiatan Panum akan ditutup dengan pelaksanaan Janji Pra-Ners (17/04/2026) sebagai bentuk komitmen mahasiswa dalam menjalani praktik profesi keperawatan secara profesional, beretika, dan bertanggung jawab. Pesan Ketua Program Studi Dr. Sarwinanti, S.Kep.,Ns. M.Kep., Sp.Kep.Mat. diharapkan seluruh mahasiswa Co-Ners Angkatan XXI siap melaksanakan praktik dengan optimal serta mampu memberikan pelayanan keperawatan yang berkualitas kepada masyarakat.