Pos

Unggul

Universitas `Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta kembali membuktikan kualitas Unggul nya sebagai barometer pendidikan tinggi kesehatan di lingkungan Muhammadiyah. Pada Rabu (14/01/2026), kampus ini menjadi tuan rumah acara Open Day yang dihadiri oleh empat institusi pendidikan tinggi sekaligus di Gedung Siti Moendjijah.

Keempat kampus yang tergabung dalam keluarga besar Perguruan Tinggi Muhammadiyah `Aisyiyah (PTMA) tersebut adalah Universitas Muhammadiyah Gresik, Akademi Kesehatan Muhammadiyah Temanggung, Universitas Muhammadiyah Karanganyar, dan Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya. Kedatangan mereka bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan studi banding untuk mendapatkan resep rahasia tata kelola kampus yang baik.

Pertahankan Posisi Unggul

Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKes) UNISA Yogyakarta, Dr. Dewi Rokhanawati, S.SiT., M.PH, menyambut hangat rombongan tersebut. Dalam sambutannya, Dewi menegaskan bahwa UNISA selalu membuka pintu lebar-lebar untuk berdiskusi dan berbagi strategi, terutama dalam menghadapi tantangan regulasi pendidikan yang kian ketat. Salah satu topik panas yang dibahas adalah strategi mempertahankan status Akreditasi Unggul.

“Menghadapi tantangan Renstra tahun ini, UNISA Yogyakarta bekerja maksimal dengan effort besar melalui penguatan internal. Status UNGGUL harus dipertahankan dengan sangat kuat, karena indikator Akreditasi Perguruan Tinggi (APT) kini jauh lebih rumit dibanding LAMPTKes,” ungkap Dewi blak-blakan.

Agenda Open Day ini tidak hanya berisi seremonial di ruang sidang. Rombongan dari empat kampus tersebut langsung bergerak melakukan observasi lapangan sesuai kebutuhan masing-masing institusi.

Mereka menyebar untuk melihat langsung operasional di berbagai unit strategis UNISA Yogyakarta, mulai dari manajemen Perpustakaan modern, tata kelola Biro Kemahasiswaan, hingga melihat kurikulum dan fasilitas di Program Studi Kebidanan dan Keperawatan Anestesiologi.

Melalui kegiatan ini, diharapkan tercipta sinergi yang kuat antar PTMA. Tidak hanya sekadar transfer ilmu, pertemuan ini menjadi momentum mempererat kerja sama agar kampus-kampus Muhammadiyah bisa maju bersama menghadapi persaingan global.

Pneumonia

Pneumonia atau radang paru-paru masih menjadi momok menakutkan bagi anak-anak di seluruh dunia. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2023 mencatat fakta kelam: sekitar 700.000 balita meninggal setiap tahun akibat penyakit ini. Yang mengejutkan, Indonesia menduduki peringkat keempat global penyumbang kematian balita akibat pneumonia.

Pemerintah Indonesia tidak tinggal diam. Melalui Kementerian Kesehatan, target bertekad untuk menekan angka kematian dan meningkatkan vaksinasi PCV hingga 90%. Namun, pertarungan pembunuh senyap ini di lapangan ternyata memiliki dinamika tersendiri, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

DIY Jitu Deteksi

DIY mencatat prestasi unik. Pada tahun 2024, provinsi ini menjadi juara nasional dalam hal penemuan kasus pneumonia balita dengan persentase mencapai 86%. Namun, tingginya angka penemuan ini juga mengungkap fakta lain: pneumonia menjadi pembunuh balita nomor dua di DIY setelah tifus.

Sayangnya, upaya cepat penemuan kasus belum sepenuhnya diimbangi dengan kualitas pengobatan yang sempurna. Cakupan tata laksana standar di DIY baru menyentuh angka 86%, masih di bawah target nasional 95%. Artinya, meskipun jago mendeteksi, DIY masih harus berjuang keras untuk memastikan setiap balita yang sakit mendapatkan penanganan sesuai standar emas.

MTBS: Senjata Andalan Puskesmas

Di garda terdepan, Puskesmas mengandalkan metode Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Ini adalah protokol ‘sakti’ bagi tenaga kesehatan untuk mendeteksi penyakit mematikan seperti pneumonia, malaria, hingga demam berdarah secara cepat, bahkan di tengah keterbatasan alat.

Studi analisis kebijakan oleh Mahasiswa Magister Kebidanan UNISA di Puskesmas Gamping I membuktikan keampuhan metode ini. Penerapan MTBS yang konsisten di sana tidak hanya meningkatkan deteksi dini, tetapi juga mengantarkan puskesmas tersebut meraih Juara Provinsi Inovasi Tumbuh Kembang Balita.

Tantangan dan Transformasi Digital

Meski efektif, penerapan MTBS di lapangan masih menghadapi kendala Deteksi Pasif tugasnya cenderung menunggu pasien datang. Akibatnya, risiko missing cases atau kasus yang tidak terdeteksi masih tinggi, terutama jika orang tua kurang peka terhadap gejala awal.

Kini, transformasi digital menjadi solusi mutlak. Digitalisasi MTBS terbukti mampu memangkas waktu pelayanan dari 25 menit menjadi hanya 10 menit. Integrasi sistem digital dengan kecerdasan buatan (AI) juga memungkinkan pemantauan data secara real-time , sehingga tidak ada lagi balita yang luput dari pantauan.

Ke depan, perang melawan pneumonia tidak bisa hanya bergantung pada dokter. Kolaborasi antara teknologi canggih, kader posyandu yang dilatih, serta orang tua yang waspada, adalah benteng pertahanan terbaik untuk menyelamatkan nyawa generasi penerus bangsa.

Oleh :

Izza Fitrotun Nisa Mahasiswa : UNISA Yogyakarta

Alya Nursyifa Perwata : Mahasiswa UNISA Yogyakarta

Dr. Sulistyaningsih, M.H.Kes., Dosen Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta

Mahasiswa

Persaingan dunia kerja yang semakin ketat menuntut mahasiswa tidak hanya jago di bidang akademik, tetapi juga luwes dalam berkomunikasi. Menjawab tantangan tersebut, Biro Humas dan Protokol (BHP) Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menggelar Pelatihan Keprotokolan dan Master of Ceremony (MC).

Bertempat di Ruang Sidang Gedung Siti Moendjijah, Jumat (09/01/2026), acara ini sukses menyedot perhatian mahasiswa. Sebanyak 35 peserta terpilih digembleng secara intensif untuk mengasah kemampuan public speaking dan tata kelola acara.

Wakil Rektor IV UNISA Yogyakarta, Dr. M. Ali Imron, M.Fis., dalam sambutannya menegaskan bahwa realitas dunia kerja saat ini sangat dinamis. Menurutnya, kesuksesan karir seseorang seringkali tidak hanya ditentukan oleh linearitas jurusan kuliah, melainkan soft skill yang mereka miliki.

“Di sini kita mulai membuka gerbang pintu untuk mendapatkan soft skill. Hari ini kalian akan banyak belajar tentang keprotokolan dan teknik menjadi MC yang bisa mengubah jiwa serta perilaku kalian menjadi lebih profesional,” ujar Imron di hadapan para peserta.

Ia menambahkan, pelatihan ini dirancang khusus agar mahasiswa UNISA siap tampil percaya diri saat menghadapi acara berskala nasional maupun internasional.

Mahasiswa

Tidak tanggung-tanggung, BHP UNISA Yogyakarta menghadirkan dua narasumber ahli untuk membedah materi secara mendalam. Sinta Maharani, S.Sos., MIKom., hadir mengupas menyeluruh seluk-beluk protokol penerimaan tamu, mulai dari tata tempat hingga tata penghormatan yang krusial dalam acara resmi.

Sementara itu, untuk pembawa acara, Bdn. Salsya Naulia Chamid, S.Keb., membagikan trik jitu menjadi MC yang adaptif dan komunikatif. Para peserta tidak hanya mendengarkan teori, namun juga diajak memahami bagaimana membawakan suasana acara agar tetap hidup dan khidmat.

Dengan adanya pelatihan ini, UNISA Yogyakarta berharap dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki personal branding yang kuat melalui kemampuan komunikasi publik yang mumpuni.

Baitul Arqam

Menjelang momen kelulusan, mahasiswa tingkat akhir Universitas `Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta tidak hanya disibukkan dengan revisi skripsi. Sebelum resmi menyandang gelar sarjana pada bulan April mendatang, mereka wajib melewati satu fase krusial: Baitul Arqam Purna (BAP).

Kegiatan pengkaderan pamungkas ini digelar oleh Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI) UNISA Yogyakarta secara maraton. Tak tanggung-tanggung, acara ini dilaksanakan dalam 7 gelombang, mulai dari 12 Januari hingga 14 Februari 2026. Mengusung konsep hybrid (daring dan luring), BAP tahun ini mengangkat tema besar “Meningkatkan Kapasitas Kader, Menghadirkan Kemanfaatan Untuk Semua”.

Ketua LPPI UNISA Yogyakarta, Dr. M. Nurdin Zuhdi, menegaskan bahwa BAP bukan sekadar formalitas administratif jelang wisuda. Lebih dari itu, forum ini adalah kawah candradimuka terakhir bagi mahasiswa untuk memperkuat fondasi ideologi sebelum terjun ke dunia profesional.

Tujuan utamanya jelas: memastikan setiap lulusan UNISA Yogyakarta memiliki pemahaman ideologi yang kokoh sesuai dengan pemahaman Muhammadiyah.

“Kegiatan ini untuk meningkatkan pemahaman terkait dengan ideologi Muhammadiyah. Kami ingin lulusan UNISA tidak hanya kompeten secara akademik, tapi juga matang secara spiritual dan siap menjadi kader yang bermanfaat,” tutur Nurdin di sela-sela acara pembukaan, Senin (12/01/2026).

Keseriusan UNISA Yogyakarta dalam membekali calon wisudawan terlihat dari deretan narasumber yang dihadirkan. Sebanyak 20 pembicara kompeten siap memberikan wawasan baru. Mereka datang dari berbagai latar belakang, mulai dari unsur internal UNISA, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, PP ‘Aisyiyah, hingga akademisi dan profesional dari luar Muhammadiyah.

Para narasumber ini akan mengupas tuntas bagaimana nilai-nilai Islam Berkemajuan dapat diimplementasikan dalam dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat. Dengan bekal ini, para calon wisudawan April 2026 diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang membawa solusi bagi permasalahan umat.

unisa yogyakarta

Reputasi Universitas `Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta dalam tata kelola perguruan tinggi kembali menarik perhatian. Kali ini, tamu jauh dari Pulau Kalimantan, Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), datang khusus untuk melakukan studi banding dan penandatanganan kerja sama strategis, Jumat (09/01/2026).

Kunjungan ini bukan sekedar silaturahmi biasa. Fokus utama pertemuan ini adalah strategi bedah pengelolaan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM). UMKT menilai UNISA Yogyakarta memiliki resep jitu dalam manajemen penelitian yang krusial untuk mendongkrak status akreditasi kampus.

Ketua LPPM UMKT, Paula Mariana Kustiawan, S.Hut., M.Sc., Ph.D , tidak menampik bahwa kedatangannya membawa misi besar. Ia secara terang-terangan menyebut ingin berguru kepada UNISA Yogyakarta mengenai langkah-langkah konkret persiapan menuju Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT) Unggul.

“Jadi kedatangan kami ke sini memang niatnya untuk berguru ke UNISA Yogyakarta. Kami ingin tahu bagaimana tata kelola yang sudah diterapkan di sini. Selain belajar, kami juga datang membawa dokumen Memorandum of Agreement (MoA) untuk bersinergi dalam meningkatkan kualitas penelitian dan pengabdian dosen UMKT,” ungkap Paula dengan antusias.

Menanggapi semangat kolaborasi tersebut, Koordinator Penelitian LPPM UNISA Yogyakarta, Dinar Mindrati Fardhani, SP, M.Biotech., Ph.D , menyambut hangat rombongan UMKT. Menurutnya, sesama Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) sudah selayaknya saling bahu-membahu.

“Kami sangat terbuka sekali. Kita sama-sama dari keluarga besar PTMA, pastinya sangat senang bisa saling bersinergi. UNISA pun sebenarnya masih terus belajar. Semoga diskusi kita hari ini menghasilkan poin-poin penting yang bisa langsung dikerjasamakan demi kemajuan penelitian kedua kampus,” ujar Dinar.