Pos

Bootcamp

Suasana sejuk lereng Gunung Merapi pada Senin pagi (8/12) menjadi latar dimulainya Bootcamp Tim Penyusun Rencana Strategis (RENSTRA) Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta 2026–2030. Kegiatan yang digelar di Kalyana Resort, Kaliurang, ini diikuti oleh seluruh unsur pimpinan universitas, pimpinan fakultas, serta tim pengembang institusi yang selama dua hari ke depan akan merumuskan arah strategis UNISA Yogya untuk lima tahun mendatang.

Bootcamp

Sejak pukul 08.00 WIB, peserta telah memasuki ruang pertemuan utama untuk memulai rangkaian agenda yang disusun secara intensif. Rektor UNISA Yogyakarta, Dr. Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat., hadir membuka kegiatan sekaligus memberikan arahan strategis terkait pentingnya penyusunan RENSTRA fase berkembang 2026–2030.

Dalam sambutannya, Rektor menegaskan bahwa periode perencanaan ini memiliki makna penting bagi UNISA Yogyakarta, terutama setelah capaian akreditasi Unggul.

“Tanggung jawab kita bersama adalah menyiapkan peta jalan UNISA Yogyakarta untuk lima tahun ke depan. Karena itu, saya berharap seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan ini secara penuh selama dua hari. Kita berada di sini untuk menyusun Indikator Kinerja Utama (IKU) dan Indikator Kinerja Tambahan (IKT) yang akan menjadi dasar pengambilan keputusan strategis universitas,” ujarnya.

Dr. Warsiti juga mengingatkan bahwa dokumen RENSTRA yang disusun dalam bootcamp ini memiliki batas waktu penting untuk dapat segera dibahas bersama Badan Pembina Harian (BPH).

“Pada pertengahan Januari 2026, rencana strategis ini akan kita plenokan bersama BPH. Maka, dua hari ini harus kita optimalkan untuk memastikan setiap aspek tersusun dengan baik.”

Lebih lanjut, Rektor menekankan bahwa keunggulan khas Aisyiyah yang bernafaskan nilai-nilai inklusif akan menjadi ruh utama dalam arah strategis berikutnya.

“Kita harus menggali dan menegaskan kembali keunggulan Aisyiyah. Kekhasan inklusif yang menjadi identitas kita harus diwujudkan dalam program dan indikator strategis. Karena itu, mari fokus pada kegiatan ini. Tugas-tugas lain dapat kita sisihkan sejenak,” tegasnya.

Kegiatan Bootcamp Penyusunan RENSTRA 2026–2030 dijadwalkan berlangsung selama dua hari dengan berbagai sesi pembahasan yang melibatkan analisis capaian, pemetaan tantangan, dan penyusunan indikator kinerja utama serta indikator kinerja turunan. Dengan semangat kolaboratif dan komitmen penuh, forum ini diharapkan menghasilkan dokumen RENSTRA yang visioner, relevan, dan mampu mengarahkan UNISA Yogyakarta menuju fase perkembangan baru yang lebih progresif.

Kegiatan pun resmi dimulai dengan harapan besar bahwa hasil perumusan ini menjadi fondasi kuat bagi masa depan UNISA Yogyakarta sebagai perguruan tinggi yang unggul, inklusif, dan berdaya saing.

Sumatra

Rentetan bencana alam yang meluluhlantakkan sebagian wilayah Pulau Sumatra memantik rasa solidaritas yang kuat dari Alumni UNISA Yogyakarta. Keluarga Alumni Pendidikan Kesehatan ‘Aisyiyah (KAPA) Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta langsung bergerak cepat merespons panggilan kemanusiaan tersebut dengan menggalang dana bantuan.

Mengusung visi “Amanah, Peduli Sesama, dan Berkemajuan”, persatuan keluarga alumni ini membuktikan bahwa jarak bukan penghalang untuk berbagi. KAPA sendiri bukan hanya sekedar kumpulan para alumni, wadah ini memiliki akar sejarah panjang sejak berdirinya Sekolah Bidan ‘Aisyiyah Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta pada 1963, hingga kini bertransformasi megah menjadi UNISA Yogyakarta.

Ketua KAPA UNISA Yogyakarta, Dr. Ismarwati, S.ST., S.KM., M.PH., menyampaikan rasa syukurnya atas antusiasme para alumni. Gerakan bertajuk “KAPA Unisa Yogyakarta Peduli” ini sukses menghimpun donasi tahap awal sebesar Rp 13.141.321.

“Ini adalah wujud nyata kepedulian kami. Ribuan alumni yang tersebar di berbagai daerah bersatu untuk meringankan beban saudara kita,” ujar Ismarwati.

Salurkan Lewat Lazismu dan Alumni di Lokasi

Tak mau menunda, donasi tersebut langsung disalurkan agar segera bisa dimanfaatkan oleh para korban. Penyerahan secara simbolis dilakukan melalui Lazismu UNISA Yogyakarta dan diterima langsung oleh ketuanya, Hilmi Zadah Faidullah, S.St., M.Sc., Ph.D.

Strategi distribusi bantuan pun dilakukan dengan cerdas. Selain lewat lembaga resmi, KAPA juga menyalurkan bantuan langsung kepada jaringan alumni yang berdomisili di wilayah terdampak parah, seperti Aceh Timur dan Bireuen. Langkah taktis ini diambil untuk memastikan bantuan sampai lebih cepat dan tepat sasaran ke titik-titik yang paling membutuhkan.

Donasi Masih Dibuka

Meski bantuan tahap awal sudah disalurkan, KAPA UNISA Yogyakarta menegaskan bahwa penggalangan dana masih terus dibuka. Bagi alumni maupun masyarakat luas yang ingin berpartisipasi, donasi dapat disalurkan melalui rekening BSI 7174158899 a.n. Agustina Rahmawati (Bendahara KAPA).

“Seluruh keluarga besar alumni KAPA Unisa Yogyakarta mendoakan agar saudara-saudara kita di Sumatra diberikan kekuatan, kesabaran, serta segera bangkit dan pulih kembali dari musibah ini,” tutup Ismarwati penuh harap.

Rakornas

Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta turut ambil bagian dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) dan Workshop Forum Humas Perguruan Tinggi Muhammadiyah–‘Aisyiyah (PTMA) yang digelar pada 5–7 Desember 2025 di Grand Rohan, Yogyakarta. Pada kegiatan perdana tingkat nasional ini, UNISA Yogyakarta mengirimkan tiga delegasi dari Biro Humas dan Protokol.

Kepala Biro Humas dan Protokol UNISA Yogyakarta, Sinta Maharani, S.Sos., M.I.Kom., menyampaikan bahwa Rakornas ini menjadi ruang penting bagi para praktisi humas PTMA untuk memperbarui wawasan dan meningkatkan jejaring kelembagaan. “Kegiatan ini merupakan momen strategis untuk update keilmuan sekaligus memperluas kolaborasi antarhumas PTMA se-Indonesia. Di era digital yang masif, humas memiliki peran penting dalam menggawangi reputasi kampus,” ujarnya.

Rakornas Humas

Rakornas Forum Humas PTMA pertama ini menjadi tonggak awal bagi penguatan peran humas di lingkungan perguruan tinggi, khususnya dalam menghadapi dinamika komunikasi publik dan persaingan perguruan tinggi pada era digital. Berdasarkan data panitia, kegiatan ini dihadiri 123 peserta dari 74 PTMAdi seluruh Indonesia.

Hadir membuka kegiatan, Wakil Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Muh. Mudzakkir, S.Sos., M.A., Ph.D.,yang menekankan pentingnya kesepemahaman antarhumas PTMA dalam menjalankan agenda besar persyarikatan. “Mari bersama-sama membangun kesepemahaman tentang arah forum humas ini sebagai salah satu asosiasi di bawah Majelis Diktilitbang untuk memajukan PTMA,” pesannya.

Sebagai bentuk penguatan kelembagaan, Rakornas juga menggelar prosesi penyerahan Surat Keputusan (SK) Forum Humas PTMA oleh Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah kepada Ketua Forum Humas PTMA. Penyerahan simbolis ini menjadi momentum legitimasi formal bagi struktur kepengurusan dalam menjalankan amanah organisasi.

Forum ini juga mendapat dukungan langsung dari Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UAD, Prof. Dr. Irwan Akib, M.Pd. Ia menegaskan pentingnya peran humas dalam memperkuat branding perguruan tinggi. “Peran humas sangat krusial, yaitu harus mampu membranding perguruan tinggi. Mari bersama-sama mengemas informasi dan keunggulan kampus agar masyarakat dan stakeholder semakin tertarik dengan PTMA,” ujarnya.

Selama tiga hari, peserta Rakornas mengikuti serangkaian pembahasan strategis, meliputi: strategi pengelolaan kehumasan di PTMA, tantangan perguruan tinggi swasta dalam persaingan dengan PTN-BH, penguatan hubungan antarlembaga, manajemen media sosial dan media relations, best practice kehumasan di lingkungan PTMA, risalah Islam berkemajuan serta penguatan capaian key performance index.

Keikutsertaan UNISA Yogyakarta dalam kegiatan ini diharapkan semakin memperkuat kapasitas Biro Humas dan Protokol dalam mendukung visi kampus sebagai perguruan tinggi berwawasan kesehatan pilihan dn unggul berdasarkan nilai islam berkemajuan, sekaligus memperluas sinergi dengan jejaring humas PTMA di seluruh Indonesia.

sleman pintar

Angin segar kembali berhembus bagi anak-anak muda di Kabupaten Sleman yang bermimpi kuliah namun terganjal biaya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman menegaskan komitmennya untuk menyekolahkan warganya melalui program unggulan Beasiswa Sleman Pintar.

Program sosialisasi ini digelar meriah di Pendopo Parasamya Kabupaten Sleman, Jumat (28/11/2025). Acara ini dibawakan langsung oleh Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, Plt. Kepala Dinas Sosial Sleman, Sigit Indarto, serta jajaran Rektor dari berbagai kampus mitra.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Danang Maharsa menyampaikan pesan menyentuh. Ia menyadari bahwa masalah ekonomi sering kali mengubur mimpi anak-anak berprestasi.

“Masih banyak anak yang ingin melanjutkan pendidikan namun terkendala biaya. Oleh karena itu Pemkab Sleman hadir memberikan akses bagi mereka yang berkeinginan kuat tetapi terbatas kemampuan ekonominya,” ujar Danang tegas.

Sleman Pintar Sudah Ratusan Mahasiswa Terbantu

Program ini bukan janji manis semata. Plt. Kepala Dinas Sosial Sleman, Sigit Indarto, membeberkan data keberhasilan program yang sudah memasuki tahun keempat ini.

“Program ini sudah memasuki tahun keempat pelaksanaan. Penerima beasiswa Sleman Pintar tahun 2022 yang lulus sudah mencapai 92 orang. Kalau tahun ini, ada 206 penerima beasiswa,” ungkap Sigit bangga.

UNISA Yogyakarta Jadi Pilihan

Program kesuksesan ini tak lepas dari kolaborasi erat dengan perguruan tinggi, salah satunya Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta. Wakil Rektor IV UNISA Yogyakarta, Dr. M. Ali Imron, M.Fis., memberikan apresiasi yang tinggi.

Ia menyebut, UNISA telah hadir selama tiga tahun dan hasilnya sangat memuaskan. Data mencatat, kurang lebih 40 mahasiswa penerima beasiswa Sleman Pintar resmi menjadi mahasiswa baru UNISA Yogyakarta pada tahun 2025 ini.

“UNISA telah menyelenggarakan program Sleman Pintar bersama Pemda Sleman selama 3 tahun, dan evaluasinya sangat baik. Mudah-mudahan UNISA bisa terus berpartisipasi menyejahterakan masyarakat Sleman. Ayo ikut program Sleman Pintar di UNISA Yogyakarta,” ajak Ali Imron.

Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan lebih banyak lagi pemuda Sleman yang berani bermimpi tinggi dan memanfaatkan fasilitas beasiswa ini demi masa depan yang lebih cerah.

Bencana alam

Pulau Sumatra sedang dilanda bencana alam dan sedang tidak baik-baik saja. November 2025 menjadi bulan kelabu yang menyisakan duka mendalam. Rentetan bencana hidrometeorologi banjir bandang dan tanah longsor menghantam tiga provinsi sekaligus: Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh. ratusan nyawa melayang, ribuan rumah luluh lantak, dan mimpi tangis terdengar di mana-mana.

Data yang dihimpun per 29 November 2025 melukiskan potret mengerikan. Sumatra Utara menjadi wilayah dengan dampak paling mematikan, di mana 166 jiwa dilaporkan meninggal di dunia. Ratusan lainnya masih dinyatakan hilang tertimbun material longsor, terutama di kawasan Tapanuli, Sibolga, dan Tapanuli Tengah.

Tak kalah memilukan, Sumatra Barat mencatat angka kematian mencapai 90 jiwa. Puluhan jembatan putus dan infrastruktur vital hancur lebur. Sementara di ujung Indonesia, Aceh melaporkan 47 orang meninggal dunia dan 51 orang hilang, dengan ribuan warga Aceh Utara terpaksa angkat kaki mengungsi karena rumah mereka tenggelam.

Jeritan Perempuan dan Anak di Tenda Pengungsian

Bencana ini bukan sekadar angka statistik. Di balik data korban jiwa, ada kelompok paling rentan yang menderita dalam diam: perempuan, anak-anak, dan lansia.

Di tenda-tenda pengungsian yang sesak, kisah pilu menyeruak. Ibu-ibu kebingungan mencari pembalut, bayi-bayi menangis kekurangan susu, dan remaja putri harus menahan malu karena minimnya fasilitas mandi yang aman. Bagi perempuan, bencana adalah beban ganda: memastikan keluarga selamat di tengah kebutuhan dasar.

Sementara bagi anak-anak, trauma ini akan membekas lama. Mereka kehilangan sekolah, buku, pakaian, dan ruang bermain yang aman. Suara tangis mereka adalah alarm keras bagi kita semua.

Bencana Alam Teguran Keras dari Alam

Apakah ini sekadar musibah alamiah? atau sebuah teguran keras? Bencana di Sumatra adalah cerminan kembalinya hubungan manusia dengan bumi. Pembukaan hutan yang ugal-ugalan, pembangunan tanpa perhitungan risiko, hingga dampak perubahan iklim global memperparah keadaan.

Saat hujan turun lebih lebat tanpa aba-aba, alam seolah berteriak: “Ada yang salah!”

Momentum ini harus menjadi titik balik. Pengelolaan lingkungan wajib kembali ke prinsip penghentian. Penanganan bencana pun tak boleh lagi asal-asalan; harus berperspektif gender dan ramah anak. Ruang laktasi dan dukungan psikososial bukan lagi pelengkap, melainkan kebutuhan dasar.

Sumatra mengajarkan kita satu hal: Alam tidak pernah membenci manusia, ia hanya memberi tanda ketika keseimbangannya diganggu. Dan ketika alam menegur, ia tak hanya menggoyang tanah, tapi juga menggoyang hati nurani kita untuk segera berbenah.

Oleh: Dr.Islamiyatur Rokhmah.,S.Ag.,M.S.I

Ketua Pusat Studi Perempuan Keluarga dan Bencana (PSPKB) UNISA Yogyakarta