Cegah Bullying Berkedok Candaan Dengan Pohon Kejujuran
Maraknya kasus perundungan (bullying) yang kerap berkedok candaan di lingkungan sekolah memantik kepedulian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Kelompok 08 Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta. Merespons krisis tersebut, mereka menggelar program psikoedukasi bertajuk “Sahabat Tanpa Bullying” bagi siswa kelas 4 SD Negeri Srunggo, Selopamioro, Imogiri, Bantul, Kamis (13/8/2026).
Candaan
Kegiatan preventif ini bertujuan membekali anak-anak sejak dini mengenai batasan interaksi sosial demi mewujudkan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan nyaman.
Penanggung jawab program dari mahasiswa Prodi Psikologi UNISA Yogyakarta, Alika, didampingi rekannya dari Prodi Gizi, Zahra, menyoroti fenomena anak-anak yang sering melontarkan ejekan atau kontak fisik dengan dalih bergurau. Padahal, tindakan itu berpotensi meninggalkan trauma psikologis bagi korbannya.
“Melalui psikoedukasi ini, kami ingin mengajak siswa untuk lebih memahami batasan dalam bercanda, menghargai perasaan teman, serta berani mengatakan ‘tidak’ ketika mendapatkan perlakuan yang membuat mereka tidak nyaman,” tegas Alika.
Dalam sesi edukasi yang interaktif ini, mahasiswa membedah empat bentuk perundungan fisik, verbal, sosial, dan digital menggunakan bahasa sederhana dan contoh konkret sehari-hari. Siswa diajarkan dampak destruktif bullying seperti hilangnya rasa percaya diri hingga ketakutan bersekolah.
Lebih lanjut, siswa tidak hanya dilarang menjadi pelaku, tetapi juga dilatih untuk tidak menjadi penonton pasif. Mereka didorong menerapkan konsep “sahabat yang baik”, yakni berani membela teman dan segera melapor kepada guru atau orang tua jika melihat tindak kekerasan.
Antusiasme peserta memuncak pada sesi kuis dan pembuatan “Pohon Kejujuran”. Melalui aktivitas terapeutik ini, anak-anak diajak menuliskan pengalaman, curahan hati, atau pesan positif antikekerasan di selembar kertas untuk ditempelkan pada kerangka pohon buatan. Medium ini sukses menjadi ruang aman bagi siswa untuk mengekspresikan perasaannya secara terbuka.
Melalui program pemberdayaan ini, KKN Kelompok 08 UNISA Yogyakarta berharap nilai empati terus tumbuh, sehingga SD Negeri Srunggo benar-benar terbebas dari rantai perundungan dan menjadi tempat berlabuh yang membahagiakan bagi setiap anak.









































Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!