Dari Jualan Ayam hingga Astra: Kisah Resiliensi Haira Salva Dhea, Alumni Psikologi UNISA Yogyakarta
Bagi sebagian orang, resiliensi adalah kemampuan untuk bangkit dari kesulitan. Namun bagi Haira Salva Dhea, S.Psi., alumni Program Studi Psikologi Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta angkatan 2020, resiliensi bukan sekadar konsep yang dipelajari di bangku kuliah. Resiliensi adalah dirinya sendiri.
“Aku adalah resiliensi itu sendiri,” ungkap Haira ketika menceritakan perjalanan hidup yang membawanya hingga menjadi bagian dari salah satu perusahaan terbesar di Indonesia, PT Astra International Tbk.
Resiliensi
Sebagai anak perempuan pertama dalam keluarga, Haira tumbuh dengan tanggung jawab yang tidak ringan. Berbagai keterbatasan dan pengorbanan mewarnai perjalanan hidupnya sejak dini. Situasi yang paling menguji mentalnya terjadi ketika sang ibu terserang stroke di tengah masa-masa kuliahnya.
Kondisi tersebut mengubah kehidupan keluarganya secara drastis. Di saat harus fokus menyelesaikan studi, Haira juga dihadapkan pada kenyataan bahwa kondisi ekonomi keluarga sedang tidak baik-baik saja.
“Waktu itu orang tua sempat menyarankan saya untuk cuti kuliah, bahkan berhenti. Tapi saya memilih bertahan,” kenangnya.
Keputusan tersebut bukan tanpa konsekuensi. Untuk tetap bisa melanjutkan pendidikan, Haira harus berjuang mencari berbagai sumber penghasilan. Ia membantu usaha keluarga dengan berjualan ayam potong. Bahkan, setiap kali hendak kembali ke Yogyakarta, ia harus terlebih dahulu menjual ayam agar memiliki uang untuk membeli tiket perjalanan dan memenuhi kebutuhan kos.
Perjuangannya tidak berhenti di situ. Selama menjalani kuliah di Yogyakarta, Haira juga mengambil berbagai pekerjaan sampingan. Mulai dari menjadi host live hingga membuka jasa lash lift, semua dijalani demi memenuhi kebutuhan hidup dari bulan ke bulan.
“Dari situ saya belajar arti bertahan. Kesempatan tidak selalu datang dalam bentuk yang kita inginkan, tetapi kita harus tetap bergerak,” ujarnya.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi, Haira tidak membiarkan prestasi akademiknya menurun. Justru sebaliknya, ia berhasil menyelesaikan studi hanya dalam waktu 3,5 tahun dengan predikat cumlaude. Tidak hanya itu, karya ilmiahnya juga berhasil lolos publikasi pada jurnal terindeks SINTA 3, sebuah pencapaian yang membanggakan bagi mahasiswa sarjana.
Menurut Haira, kesuksesan tidak lahir dari kondisi yang ideal, melainkan dari kemampuan seseorang untuk tetap melangkah meski keadaan tidak mendukung.
Kerja keras dan kegigihan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Setelah lulus dari UNISA Yogyakarta, Haira tidak membutuhkan waktu lama untuk memasuki dunia kerja. Ia berhasil diterima sebagai pegawai di PT Astra International Tbk., salah satu perusahaan terbesar di Indonesia.
Bagi Haira, pencapaian tersebut bukanlah hasil keberuntungan semata. Ia meyakini bahwa peluang harus diupayakan dan diperjuangkan.
“Kesempatan itu tidak datang sendiri, tetapi harus dijemput. Menunggu bukanlah pilihan,” tegasnya.
Pengalaman hidup yang penuh tantangan membuat Haira memiliki pandangan yang kuat tentang masa muda. Menurutnya, generasi muda harus berani tampil berbeda dan tidak takut menghadapi risiko.
“Jadilah muda, beda, dan berbahaya. Karena kita muda, kita harus berani berbeda dan tidak takut menghadapi risiko,” pesannya.
Kisah Haira menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih mimpi. Dengan ketekunan, keberanian, dan semangat pantang menyerah, ia mampu mengubah berbagai kesulitan menjadi pijakan menuju masa depan yang lebih baik. Perjalanannya menunjukkan bahwa resiliensi bukan hanya tentang bertahan menghadapi badai, tetapi juga tentang terus melangkah hingga menemukan jalan menuju kesuksesan.







































Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!