UNISA Yogyakarta Perkuat Diferensiasi Misi dan Peta Pengembangan
Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menyelenggarakan Workshop Diferensiasi Misi dan Peta Pengembangan UNISA Yogyakarta, di Ruang Rapat Lantai 3 Gedung Siti Walidah, Kampus Terpadu UNISA Yogyakarta, Sabtu (11/7). Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam rangkaian penyusunan Rencana Strategis (Renstra) UNISA Yogyakarta periode 2026–2030 pada Tahap Berkembang Fase II.
Peta Pengembangan
Workshop menghadirkan Prof. Agus Setyo Muntohar, S.T., M.Eng.Sc., Ph.D.(Eng), Anggota Dewan Eksekutif Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), sebagai narasumber. Kegiatan ini diikuti oleh jajaran pimpinan dan pengelola UNISA Yogyakarta sebagai upaya menyelaraskan arah, prioritas, dan strategi pengembangan universitas dalam lima tahun mendatang.
Rektor UNISA Yogyakarta, Dr. Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat., dalam sambutannya menyampaikan bahwa penyusunan Renstra UNISA Yogyakarta telah dimulai sejak enam bulan lalu. Workshop ini diharapkan dapat memberikan penguatan sekaligus perspektif strategis bagi universitas dalam merumuskan arah pengembangan institusi.
“Renstra bukan hanya dokumen administratif, melainkan arah untuk menyamakan langkah, menentukan prioritas, dan menjadi panduan pengembangan UNISA Yogyakarta hingga lima tahun yang akan datang. Melalui workshop ini, kami berharap mendapatkan arahan dan insight untuk memperkuat diferensiasi misi sehingga ciri khas dan keunggulan UNISA Yogyakarta semakin menonjol,” ujar Warsiti.
Menurutnya, diferensiasi misi menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa pengembangan universitas tidak hanya berorientasi pada pencapaian indikator, tetapi juga mampu mempertegas identitas, keunggulan, dan kontribusi khas UNISA Yogyakarta bagi masyarakat.
Dalam paparannya, Prof. Agus Setyo Muntohar menekankan bahwa proses akreditasi perguruan tinggi tidak dapat dipisahkan dari implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI). Proses tersebut mengikuti siklus Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan (PPEPP) yang harus terus hidup dan berjalan secara berkelanjutan di seluruh lini institusi.
“Dokumen yang hanya diam di rak bukanlah penjaminan mutu. Mutu terjadi pada fase evaluasi dan pengendalian. Siklus SPMI harus hidup dan terus berputar,” tegas Prof. Agus.
Ia menjelaskan bahwa diferensiasi misi harus didukung oleh rencana pengembangan yang jelas, terukur, dan berkelanjutan. Hasil akhir dari diferensiasi misi bukan sekadar rumusan identitas institusi, melainkan pengakuan terhadap keunggulan yang dimiliki perguruan tinggi.
Dalam konteks Instrumen Akreditasi Perguruan Tinggi (APT) 4.1, Prof. Agus juga memaparkan sejumlah dokumen strategis yang perlu dipersiapkan perguruan tinggi, meliputi standar pendidikan tinggi sesuai Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025; Sistem Penjaminan Mutu Internal berbasis manajemen risiko; penetapan diferensiasi misi beserta Renstra pencapaian dan peta jalan pengembangan; Renstra pengelolaan sumber daya manusia; Renstra keuangan; Renstra manajemen sarana, prasarana, dan aset; peta jalan pengembangan sistem informasi; peta jalan pengembangan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat termasuk pengembangan sumber daya manusia; serta pelaksanaan dan evaluasi kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE).
Workshop ini menjadi momentum bagi UNISA Yogyakarta untuk memastikan bahwa Renstra 2026–2030 tidak berhenti sebagai dokumen perencanaan, tetapi menjadi instrumen strategis yang terintegrasi dengan sistem penjaminan mutu, pengelolaan sumber daya, pengembangan akademik, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta transformasi institusi.








































Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!