FST UNISA Yogyakarta Kembangkan Inovasi Bioteknologi Maggot BSF
Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menghadirkan inovasi bioteknologi berbasis Maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai solusi pengelolaan sampah organik yang ramah lingkungan. Inovasi tersebut menjadi salah satu karya unggulan yang dipamerkan dalam rangka Milad ke-35 UNISA Yogyakarta dengan mengusung konsep Sistem Bioconversion Maggot BSF: Manifestasi Green Campus, Circular Economy, dan Sustainable Development Goals (SDGs).
Maggot
Inovasi ini dirancang sebagai sistem pengelolaan limbah organik terpadu yang memanfaatkan kemampuan larva Black Soldier Fly (Hermetia illucens) untuk mengurai sampah organik secara cepat, higienis, dan efisien. Bahan baku yang digunakan berasal dari limbah dapur Sentra Produksi Pangan Gizi (SPPG) UNISA Yogyakarta serta kotoran ayam petelur yang selama ini dihasilkan dari unit peternakan kampus.
Melalui proses biokonversi, limbah organik tidak lagi menjadi beban lingkungan, tetapi diubah menjadi biomassa maggot berkadar protein tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif bagi ayam petelur maupun komoditas ternak lainnya. Sementara residu hasil penguraian atau kasgot (frass) dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang kaya unsur hara untuk mendukung penghijauan dan ketahanan pangan di lingkungan kampus.
Ketua Tim Inovasi Fakultas Sains dan Teknologi UNISA Yogyakarta, Arief Bimantara, menjelaskan bahwa konsep ini tidak hanya menawarkan solusi pengelolaan sampah, tetapi juga membangun ekosistem berkelanjutan di lingkungan universitas.
“Melalui teknologi biokonversi maggot BSF, kami ingin menunjukkan bahwa limbah organik memiliki nilai ekonomi yang tinggi apabila dikelola dengan pendekatan bioteknologi. Konsep ini menghadirkan sistem yang saling terhubung, mulai dari pengolahan sampah, produksi pakan alternatif, hingga menghasilkan pupuk organik. Inilah implementasi nyata ekonomi sirkular yang kami harapkan dapat menjadi model pengelolaan lingkungan di perguruan tinggi,” ujarnya.
Fasilitas yang dirancang FST UNISA mengadopsi sistem closed-loop atau siklus tertutup. Sampah organik dari aktivitas kampus diproses menjadi pakan maggot, maggot dimanfaatkan sebagai sumber protein bagi ayam petelur, sedangkan sisa hasil biokonversinya kembali dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Dengan demikian, hampir seluruh limbah organik dapat dimanfaatkan kembali sehingga mampu mengurangi volume sampah secara signifikan.
Secara ilmiah, larva BSF dikenal memiliki kemampuan mengonsumsi bahan organik dengan laju yang sangat tinggi. Dalam siklus hidup larva selama sekitar 14–21 hari, maggot mampu mereduksi hingga sekitar 80 persen volume sampah organik sekaligus menghasilkan biomassa berprotein tinggi yang bernilai ekonomi.
Sebagai media edukasi sekaligus perencanaan implementasi, tim FST menghadirkan maket fasilitas pengelolaan sampah organik berbasis maggot BSF yang menggambarkan alur operasional secara menyeluruh. Fasilitas tersebut dirancang memiliki lima zona utama, yaitu area penerimaan sampah organik, area persiapan dan pencacahan bahan, area budidaya dan biokonversi maggot, area pembiakan lalat BSF, serta kantor pengelola yang juga berfungsi sebagai pusat monitoring dan edukasi.
Selain mendukung program Green Campus, inovasi ini juga diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional universitas melalui pengurangan biaya pembuangan sampah dan biaya pembelian pakan ternak. Di sisi akademik, fasilitas ini akan menjadi laboratorium pembelajaran bagi dosen dan mahasiswa dalam pengembangan riset bioteknologi, rekayasa lingkungan, hingga manajemen ekonomi sirkular.
Pengembangan sistem biokonversi maggot BSF ini juga sejalan dengan komitmen UNISA Yogyakarta dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan mengenai konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, penanganan perubahan iklim, serta perlindungan ekosistem daratan. Melalui inovasi tersebut, UNISA Yogyakarta menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya menghasilkan riset, tetapi juga menghadirkan solusi nyata terhadap persoalan lingkungan melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi.







































Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!