Kunjungan ini difokuskan untuk membedah manajemen pembukaan Kelas Internasional Program Studi Keperawatan, strategi promosi efektif, hingga penyiapan fasilitas laboratorium berstandar global.
Dekan FIKes UNISA Yogyakarta, Dr. Dewi Rokhanawati, S.SiT., M.PH., menyambut hangat inisiatif tersebut. Ia memaparkan bahwa Kelas Internasional Keperawatan UNISA Yogyakarta telah terbukti mencetak lulusan unggul yang berhasil lolos uji kompetensi berstandar nasional.
“Pertemuan ini adalah forum resiprokal. Kami juga berharap mendapatkan best practice dari Universitas Dehasen terkait pengelolaan perguruan tinggi sehingga tercipta kebermanfaatan bersama,” ujar Dewi.
Ketua Program Studi Keperawatan Universitas Dehasen, Dr. Tuti Rohani, S.SiT., M.Kes., mengapresiasi keterbukaan UNISA Yogyakarta.
“Kami berterima kasih telah diterima dengan baik. Harapannya, ilmu dan pengalaman dari pertemuan ini dapat bermuara pada kerja sama institusi yang konkret,” ucap Tuti.
Lawatan akademik ini ditutup dengan sesi diskusi teknis lintas unit yang melibatkan Program Studi Keperawatan, Biro Admisi, dan pengelola laboratorium UNISA Yogyakarta.
https://www.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2026/05/kelas-internasional.jpg658880adminhttps://www.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2020/12/logo_berita_unisa_bg.pngadmin2026-05-05 10:59:582026-05-05 11:00:01Mantapkan Kelas Internasional Keperawatan, Universitas Dehasen Bengkulu Studi Banding ke UNISA Yogyakarta
Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta resmi menerima amanah pengelolaan Masjid Al’Adn. Penyerahan tanggung jawab ini ditandai dengan penandatanganan dokumen hibah dari pihak ahli waris yang dilangsungkan di Ruang Rapat Wakil Rektor UNISA Yogyakarta, Senin (4/5/2026).
Pengelolaan Masjid
Masjid yang terletak di kawasan strategis Ringroad Barat, Nogotirto, Sleman tersebut dihibahkan dengan harapan dapat terus menebar manfaat. Wakil Rektor III UNISA Yogyakarta, Prof. Dr. Mufdlilah, S.Sit., M.Sc., menyampaikan apresiasi mendalam kepada ketiga putri ahli waris.
“Alhamdulillah, kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan ini. Semoga Allah memberikan kemudahan bagi kami dalam mengemban amanah, dan menjadikannya amal jariyah yang tak terputus bagi keluarga besar ahli waris,” tutur Mufdlilah. Ia turut mengajak pihak keluarga untuk terus berkolaborasi meramaikan kegiatan masjid.
Mewakili ahli waris, Dewi menegaskan bahwa penyerahan ini merupakan wujud nyata untuk meneruskan cita-cita mulia mendiang kedua orang tuanya.
“Kami menyerahkan pengelolaan ini kepada UNISA Yogyakarta dengan harapan masjid tetap hidup dan bermanfaat bagi warga sekitar. Kami yakin, di bawah tanggung jawab Persyarikatan Muhammadiyah, amanah ini dapat dijaga dengan baik,” jelasnya.
Acara serah terima ini ditutup dengan diskusi strategis bersama pengurus masjid guna merancang program keumatan terdekat, khususnya persiapan menyambut Hari Raya Idul Adha.
https://www.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2026/05/pengelolaan-masjid.jpg11252000adminhttps://www.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2020/12/logo_berita_unisa_bg.pngadmin2026-05-05 05:04:572026-05-06 08:01:59Perluas Syiar Islam, UNISA Yogyakarta Resmi Terima Hibah Pengelolaan Masjid Al’Adn
Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta kembali menghadirkan inovasi pembelajaran melalui pelaksanaan ujian project miniatur modalitas kedokteran nuklir yang diselenggarakan di UNISA Yogyakarta, 30 April 2026. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa semester 4 Program Studi Radiologi Program Diploma Tiga (kelas A dan B) sebagai bagian dari evaluasi pembelajaran berbasis proyek.
Miniatur Modalitas Kedokteran Nuklir
Ujian project ini menjadi salah satu komponen penilaian utama yang menekankan pada penguasaan materi sekaligus kemampuan kolaborasi tim. Melalui pendekatan Project Based Learning, mahasiswa didorong untuk mengintegrasikan teori dengan praktik secara kreatif dan aplikatif.
Sebanyak 10 kelompok mahasiswa menampilkan karya yang terbagi dalam beberapa komponen utama. Di antaranya adalah pembuatan miniatur modalitas kedokteran nuklir yang mencakup PET Scan, SPECT Scan, Gamma Camera, dan Cyclotron, serta perancangan desain ruang fasilitas kedokteran nuklir yang memenuhi standar keamanan radiasi. Selain itu, mahasiswa juga menyusun poster edukasi dan menghadirkan kuis interaktif sebagai sarana komunikasi ilmu kepada masyarakat.
Dosen pengampu mata kuliah, Anisa Nur Istiqomah, S.Tr.Rad., M.T., Muhammad Za’im, M.Sc., dan Amril Mukmin, M.Si., hadir langsung sebagai dewan penguji. Penilaian dilakukan melalui sesi presentasi, pemaparan detail project, serta tanya jawab kritis guna mengukur kedalaman pemahaman mahasiswa.
Salah satu dosen pengampu, Anisa Nur Istiqomah, S.Tr.Rad., M.T., menyampaikan bahwa project ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih komprehensif. “Project ini dirancang untuk menilai sejauh mana mahasiswa mampu memvisualisasikan teknologi nuklir yang kompleks ke dalam bentuk nyata. Kami berharap mahasiswa tidak hanya menguasai materi secara akademis, tetapi juga mampu menyampaikan ilmu tersebut kepada publik dengan cara yang kreatif,” ujarnya.
Melalui peragaan miniatur dan media edukasi yang disusun, mahasiswa diharapkan memiliki gambaran nyata mengenai operasional fasilitas kesehatan berbasis kedokteran nuklir di masa depan. Kegiatan ini sekaligus menjadi upaya strategis dalam menyiapkan lulusan yang kompeten, kolaboratif, dan siap menghadapi perkembangan teknologi di bidang radiologi.
Jelang Hari Raya Idul Adha, kepastian status halal daging kurban tentu jadi harga mati bagi umat Islam. Merespons kebutuhan krusial ini, Halal Center Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menggembleng 105 peserta dalam Pelatihan Juru Sembelih Halal (JULEHA) Berbasis Kompetensi, Kamis (30/4/2026).
Daging Kurban
Acara yang dipusatkan di Gedung Siti Moendjijah dan area Masjid Walidah Dahlan ini tak cuma sekadar teori di atas kertas. Ratusan peserta dari dalam dan luar Jogja langsung diajak turun lapangan mempraktikkan jurus menyembelih 5 ekor kambing dan sejumlah ayam sesuai syariat Islam yang benar.
Ketua Halal Center UNISA Yogyakarta, Agil Dhiemitra Aulia Dewi, menyebut pelatihan ini sangat vital untuk mencetak SDM jagal profesional di Rumah Potong Hewan (RPH), sekaligus mengawal kehalalan kurban warga.
“Ini momen pas jelang Idul Adha, demi memastikan ekosistem halal kita terjaga,” jelas Agil.
Sejalan dengan hal itu, Wakil Rektor III UNISA Yogyakarta, Prof. Dr. Mufdlilah, menegaskan sertifikasi JULEHA adalah wujud nyata dakwah.
“Juru sembelih adalah kunci utama jaminan kehalalan. Ilmu mulia ini harus segera diamalkan ke masyarakat luas,” tegasnya.
Lewat pelatihan yang sangat bermanfaat ini, para peserta diharapkan siap tempur menyajikan daging kurban yang 100% halal dan thoyyib!
Kasus kekerasan yang terjadi di salah satu daycare di Yogyakarta menyisakan dampak mendalam, terutama bagi anak-anak yang menjadi korban. Pemulihan tidak hanya menyangkut kondisi fisik, tetapi juga aspek psikologis yang kerap luput terlihat. Ketua Program Studi Psikologi Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Andhita Dyorita Khoiryasdien, menekankan pentingnya deteksi dini sebagai langkah awal pemulihan.
Korban Kekerasan
Menurut Andhita, orang tua perlu peka terhadap perubahan perilaku anak. Salah satu tanda yang paling umum adalah regresi, yakni kemunduran kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai anak. “Misalnya anak yang sudah bisa ke toilet sendiri tiba-tiba kembali ngompol, atau yang sebelumnya lancar berbicara menjadi kesulitan berkomunikasi,” ujarnya, Kamis (30/4/2026)..
Selain itu, gangguan tidur seperti mimpi buruk, teriak saat tidur, hingga kesulitan beristirahat juga patut diwaspadai. Anak juga bisa menunjukkan perilaku menarik diri dari lingkungan sosial, menjadi lebih agresif, atau memainkan tema kekerasan secara berulang dalam aktivitas bermainnya. Reaksi ketakutan berlebihan, terutama saat berpisah dengan orang tua atau pengasuh terdekatnya di rumah, juga menjadi indikator penting.
“Kalau tanda-tanda ini muncul, sebaiknya segera dibawa ke profesional,” kata Andhita.
Namun, jika gejala belum terlihat signifikan, orang tua tetap dapat berperan aktif dalam membantu pemulihan anak. Salah satu pendekatan yang dianjurkan adalah penggunaan media ekspresi non-verbal. Anak dapat diajak menggambar, bermain peran dengan boneka, atau bercerita melalui permainan.
“Anak-anak belum tentu bisa mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, jadi kita bantu lewat cara lain. Dari gambar, misalnya, kita bisa melihat indikasi emosi, seperti penggunaan warna gelap atau merah yang dominan,” jelasnya.
Langkah lain yang tak kalah penting adalah melakukan validasi emosi. Orang tua diimbau untuk tidak meremehkan ketakutan atau reaksi emosional anak. “Jangan bilang ‘jangan lebay’ atau ‘tidak apa-apa’. Sebaliknya, akui perasaan anak, misalnya dengan mengatakan ‘kamu takut ya, tidak nyaman ya, tidak apa-apa, ada ibu di sini’. Jadi pola pikir orang tua digeser, bukan kenapa anak ini jadi susah diatur, rewel, tapi menjadi apa yang sudah terjadi pada anak ini, kok begini,” ujarnya.
Sentuhan fisik seperti pelukan, usapan, dan kehadiran yang hangat juga berperan besar dalam mengembalikan rasa aman anak. Dalam teori kelekatan (attachment), kedekatan dengan figur yang memberikan rasa aman menjadi kunci regulasi emosi anak.
Selain itu, orang tua perlu membantu anak membangun kembali rasa kontrol atas dirinya. Pengalaman kekerasan seringkali membuat anak merasa tidak berdaya. Untuk itu, hal-hal sederhana seperti memberi pilihan, memilih pakaian atau makanan, dapat membantu memulihkan kepercayaan diri anak.
Dari sisi dampak, Andhita menjelaskan bahwa dalam jangka pendek, perubahan perilaku dan emosi menjadi gejala yang paling terlihat. Namun, dampak jangka panjang justru perlu diwaspadai karena dapat muncul bertahun-tahun kemudian dalam bentuk gangguan psikologis.
“Trauma itu bukan tentang melupakan kejadian, tapi bagaimana membangun kembali rasa aman. Anak perlu memahami bahwa yang terjadi dulu itu tidak benar, dan yang benar adalah perlakuan aman yang dia terima sekarang,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa proses pemulihan membutuhkan waktu panjang dan tidak bisa instan. Oleh karena itu, dukungan terhadap orang tua menjadi sama pentingnya. Unisa Yogyakarta, lanjut Andhita, membuka layanan pendampingan tidak hanya bagi anak, tetapi juga bagi orang tua. Hal ini penting mengingat banyak orang tua mengalami tekanan mental, rasa bersalah, hingga stres akibat kejadian tersebut.
“Kita tidak perlu saling menyalahkan. Orang tua juga butuh ruang aman. Jika mental mereka sudah jatuh, akan sulit mendampingi anak,” tegasnya.
Ia mengajak masyarakat untuk lebih empatik dan saling mendukung, terutama antar sesama orang tua. Menurutnya, pemulihan anak akan lebih optimal jika didukung oleh kondisi mental orang tua yang juga sehat. “Sekarang bukan waktunya menyalahkan diri, tapi bagaimana orang tua pulih dan siap mendampingi anak agar bisa kembali percaya diri dan merasa berdaya,” pungkasnya.
https://www.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2026/04/kekerasan-1.jpg663880adminhttps://www.unisayogya.ac.id/wp-content/uploads/2020/12/logo_berita_unisa_bg.pngadmin2026-04-30 15:37:422026-04-30 15:37:49Pemulihan Psikologis Anak Korban Kekerasan Daycare Butuh Deteksi Dini dan Peran Aktif Orang Tua