UNISA Yogyakarta Hadirkan Appreciative Inquiry Coaching Untuk Bangkitkan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Rakyat
Di tengah meningkatnya tantangan krisi motivasi belajar pada kalangan remaja, khususnya anak-anak dari kelompok marjinal, Program Studi S1 Psikologi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta menghadirkan langkah nyata melalui program Appreciative Inquairy Coaching (AIC) di Sekolah Rakyat Menengah Atas 19 Bantul.
Sekolah Rakyat
Kegiatan ini merupakan implementasi Mata Kuliah Psikologi Pendidikan yang digagas oleh Dr.Komarudin,M.Psi.,Psikolog, dengan melibatkan mahasiswa S1 Psikologi UNISA secara langsung dalam pengabdian berbasis ilmu pengetahuan kepada masyarakat. Program tersebut tidak hanya menjadi ruang praktik akademik, namun juga sarana membangun kebermaknaan pendidikan di tengah realitas sosial yang kompleks.
“ilmu psikologi tidak boleh berhenti sebagai diskusi teoritis di ruang kelas. Mahasiswa harus hadir menjadi bagian dari solusi sosial, terutama bagi anak-anak yang membutuhkan dukungan motivasi dan harapan masa depan, “ujarnya.
Program ini mendapat sambutan positif dari pihak Sekolah Rakyat Menengah Atas 19 Bantul. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Puti Alifia Artalani, M.Pd., mengungkapkan bahwa banyak siswa di sekolah rakyat sebenarnya memiliki potensi besar, namun belum sepenuhnya menyadari makna pentind pendidikan bagi masa depan mereka.
“sebagian siswa belajar hanya karena tuntutan keluarga, bukan karena kesadaran pribadi. Motivasi mereka terlihat masih labil; karena itu program AIC dari UNISA menjadi pendekatan relevan untuk membantu mereka menemukan kembali semangat belajarnya,’jelasnya
Pendekatan AIC sendiri dikenal sebagai metode pengembangan diri yang berfokus pada kekuatan dan potensi individu, bukan pada kelemahan dan kekurangan. Melalui tahapan 5 D, Define, Discover, Dream, Design, dan Destiny, siswa diajak mengenali pengalaman positif, membangun impian, hingga merancang masa depan yang ingin mereka capai.
Metode ini memberikan dampak nyata bagi para peserta. Salah satunya dirasakan oleh Fino, siswa peserta coaching yang mengaku pelatihan tersebut membantunya menata ulang pola pikir dana rah hidupnya.
“Saya jadi sadar kalua mimpi besar tidak cukup hanya dipikirkan, saya harus mulai membangun diri, belajar lebih serius, dan mencari pengalaman baru supaya bisa mencapai tujuan yang saya impikan,”ungkapnya.
Namun, pelaksanaan program yang hanya dilakukan sehari ini masih perlu diuji validitas dan dampaknya karena merubah sebuah perilaku belajar itu butuh proses yang tidak singkat. AIC yang berangkat dari filosofi positif education sebagai pemantik siswa untuk menemukan potensi diri, sehingga motivasi belajarnya pun akan ikut meningkat.
Melalui kolaborasi antara dosen dan mahasiswa S1 Psikologi UNISA dengan pihak sekolah, program ini menunjukkan bahwa keterbatasan latar belakang sosial bukan penghalang untuk memiliki mimpi besar dan masa depan yang lebih baik. Pendidikan diposisikan bukan sekedar kewajiban formal, melainkan jalan untuk membangun kemandirian, harga diri, dan kesejahteraan hidup.
Ke depan, program ini diharapkan dapat terus berlanjut sebagai gerakan pengabdian bidang pendidikan berbasis psikologi positif, sekaligus menjadi inspirasi perubahan sosial dapat dimulai dari keberanian melihat potensi di balik keterbatasan.













Leave a Reply
Want to join the discussionFeel free to contribute!