Dosen Psikologi UNISA Yogyakarta Menjadi Dosen Tamu di UKM

, , ,
Dosen tamu

Ratna Yunita Setiyani Subardjo, S.Psi., M.Psi., PhD., Psikolog, dosen Psikologi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA Yogyakarta), kembali ke almamaternya, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), sebagai dosen tamu. Kali ini ia hadir untuk mengisi kuliah di Program Studi Psikologi dan Program Studi Kriminologi, dibawah PSITRA Fakulti Sains Sosial dan Kemanusiaan UNiversiti Kebangsaan Malaysia, untuk menyatukan dua disiplin ilmu dalam memahami kesehatan mental secara lebih utuh. Kuliah tamu diberikan dua kali, di Selasa 28 April dan Kamis 30 April 2026 di Universiti Kebangsaan Malaysia.

Dosen Tamu

Nita panggilan akrabnya, merupakan alumni Program PhD Psychology UKM yang diselesaikan di bawah supervisi Dr. Daniella Maryam Mohamed Mokhtar, Prof. Dr. Mohammad Rahim Kamaluddin, dan PM Dr. Nur Saadah Mohamad Aun. Saat masih berstatus mahasiswa, ia juga dipercaya menjadi student ambassador UKM SHAPE UKM Malaysia, yang aktif mempromosikan program “Ayo Studi ke Malaysia” khususnya di UKM, dan pernah ditugaskan untuk mempromosikan ke beberapa sekolah di Indonesia pada tahun 2024. Kembalinya Ratna ke UKM Malaysia sebagai pengajar menjadi simbol kolaborasi akademik yang berkelanjutan.

Di Program Psikologi Psikologi UKM, Ratna mengisi sesi Physiology of Behavior bertajuk “WHEN THE BRAIN HURTS: DEPRESSION, BIPOLAR, SCHIZOPHRENIA & AUTISM.” Ia mengajak mahasiswa menelaah gangguan mental dari sisi neurofisiologis, mulai dari perubahan neurotransmitter hingga perbedaan struktur otak yang memengaruhi cara seseorang memproses dunia.

Kita sering berkata ‘sakit hatiku’, ‘kepalaku terasa penuh’, ‘aku tidak bisa berpikir jernih’. Namun jarang kita membicarakan apa yang sesungguhnya terjadi di otak ketika kondisi itu muncul, ujar Nita. Menurutnya, pemahaman ilmiah ini penting agar gangguan mental dilihat sebagai fenomena biologis sekaligus psikososial, bukan sekadar kelemahan individu semata.

Ratna menekankan bahwa memahami kerja otak tidak berarti mereduksi manusia menjadi kumpulan neuron. Pendekatan neurosains justru membuka ruang untuk mengganti tudingan moral dengan empati dan penanganan profesional. “Ketika kita memahami ada mekanisme biologis di balik penderitaan psikologis, respons yang muncul seharusnya bantuan, bukan penghakiman,” jelasnya.

Sesi di Program Studi Kriminologi UKM Malaysia berfokus pada tema “When Life Becomes a Case: The Psychology of Suicide and the Criminal Justice Response.” Ratna mengajak mahasiswa melihat bunuh diri bukan hanya sebagai berkas perkara dan statistik, tetapi sebagai tragedi kemanusiaan yang berakar pada rasa sakit psikologis dan konteks sosial yang kompleks.

Diskusi menyoroti risiko pendekatan hukum yang kaku tanpa pemahaman psikologis. Mahasiswa diajak menganalisis interaksi faktor psikologis, sosial, dan biologis yang mendorong seseorang pada keputusan mengakhiri hidup. “Ketika kehidupan menjadi sebuah kasus, kita sering lupa bahwa yang dihadapi adalah manusia dengan luka batin mendalam,” kata Nita.

Dialog berlangsung interaktif dan reflektif. Di Psikologi, mahasiswa membahas implikasi neurosains bagi intervensi psikososial. Di Kriminologi, mereka mengangkat tanggung jawab negara, peran intervensi dini, serta batas antara hukuman dan rehabilitasi bagi individu terdampak. Pendekatan interdisipliner ini dinilai memperkuat wawasan akademik mahasiswa UKM.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya dari Program Studi Psikologi UNISA Yogyakarta memperluas jejaring internasional sekaligus memperkuat kontribusi akademik Indonesia di Asia Tenggara. Kolaborasi dengan UKM Malaysia diharapkan melahirkan riset dan program yang tidak hanya menjelaskan fenomena, tetapi juga menyembuhkan dan melindungi masyarakat.

Dengan semangat kolaboratif, Nita menutup sesi dengan harapan agar pertukaran pengetahuan ini menjadi jembatan yang terus hidup. “Ilmu pengetahuan memiliki tanggung jawab sosial. Ia harus menjadi alat untuk memahami, menyembuhkan, dan melindungi mereka yang paling rentan,” ujarnya.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *