Unisa Yogyakarta Dorong Hasil Riset Tak Berhenti pada Publikasi
Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta terus mendorong hasil penelitian dosen dan peneliti agar tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi dapat dimanfaatkan secara langsung untuk menjawab berbagai persoalan di masyarakat. Berbagai hasil luaran penelitian telah diwujudkan secara nyata.
Publikasi
Kepala Biro Humas dan Protokol Unisa Yogyakarta, Sinta Maharani mengatakan perguruan tinggi yang memiliki fokus pengembangan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan, pemberdayaan masyarakat, dan inovasi berbasis riset tersebut memiliki komitmen untuk menghasilkan penelitian yang memberikan dampak nyata. Menurutnya, hal tersebut sejalan dengan visi Unisa Yogyakarta sebagai universitas yang unggul, berwawasan kesehatan, serta berlandaskan nilai-nilai Islam berkemajuan.
“Unisa Yogyakarta secara konsisten mendorong dosen dan peneliti menghasilkan penelitian yang tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menjawab berbagai persoalan nyata yang dihadapi masyarakat,” ujar Sinta, Rabu (2/9/2026).
Sinta mengatakan produktivitas riset di Unisa Yogyakarta dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perkembangan signifikan. Sejumlah penelitian bahkan telah menghasilkan inovasi yang berpotensi meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Beberapa di antaranya yakni Inclusion App, aplikasi rehabilitasi berbasis komunitas yang dikembangkan untuk meningkatkan akses layanan bagi penyandang disabilitas dan kelompok rentan. Ada pula Smart Sensor Bracelet (SErBet) berbasis Internet of Medical Things (IoMT) untuk mendukung deteksi dini risiko stunting serta my SADARI sebagai media edukasi deteksi dini kanker payudara.
Selain inovasi berbasis aplikasi dan teknologi, Unisa juga mengembangkan sejumlah alat kesehatan ergonomis, seperti GOE-KB, Small Baby Carrier (SBC), VR-MAFETAL, KursiMU, dan Matras Proning. Berbagai inovasi tersebut dikembangkan berdasarkan kebutuhan masyarakat maupun tenaga kesehatan. Karena itu, menurut Sinta, hasil riset Unisa Yogyakarta tidak semata diarahkan untuk menghasilkan publikasi akademik, tetapi juga solusi yang dapat diterapkan.
“Seluruh inovasi tersebut merupakan bukti bahwa riset di Unisa Yogyakarta tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi diarahkan menjadi solusi yang dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat,” katanya.
Meski produktivitas penelitian terus berkembang, Sinta menyebut tantangan Unisa Yogyakarta saat ini bukan lagi sekadar menghasilkan penelitian. Tantangan berikutnya adalah memastikan hasil riset tersebut dapat dikenal, dipahami, dan dimanfaatkan masyarakat secara luas.
Selama ini, sebagian hasil penelitian masih banyak disampaikan melalui artikel ilmiah, prosiding, maupun seminar akademik. Bentuk publikasi tersebut memiliki audiens yang relatif terbatas pada kalangan akademisi.
Padahal, masyarakat sebagai pengguna akhir membutuhkan informasi mengenai hasil penelitian dengan bahasa yang lebih sederhana, kontekstual, dan mudah dipahami. “Karena itu, hasil penelitian perlu dikomunikasikan dengan cara yang lebih dekat dengan masyarakat agar manfaat dan penerapannya dapat dipahami oleh pengguna,” ujar Sinta.
Resona Saintek bangun ekosistem komunikasi sains
Sinta menjelaskan komunikasi sains menjadi bagian penting dalam membangun jembatan antara laboratorium dan masyarakat, peneliti dan pengguna inovasi, serta ilmu pengetahuan dan kebutuhan nyata di lapangan. Bagi Unisa Yogyakarta, Program Resona Saintek menjadi langkah strategis untuk membangun ekosistem komunikasi sains yang berkelanjutan. Mengusung tema “Riset Tepat, Masyarakat Sehat”, program ini diposisikan sebagai penghubung antara aktivitas penelitian dengan komunikasi publik.
Pelaksanaannya akan melibatkan berbagai unsur di lingkungan kampus dan di luar kampus, mulai dari Biro Humas dan Protokol, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), fakultas, dosen, mahasiswa, media, pemerintah, komunitas, hingga masyarakat.
“Melalui komunikasi yang efektif, masyarakat tidak hanya mengetahui bahwa Unisa Yogyakarta menghasilkan penelitian, tetapi juga memahami manfaat penelitian tersebut serta terdorong untuk mengadopsinya dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Program Resona Saintek juga akan menjadi titik awal pembentukan Science Communication Network (SCN) Unisa Yogyakarta, yakni jejaring komunikasi sains yang dirancang untuk memperkuat diseminasi hasil penelitian kepada publik. SCN nantinya bertugas mengidentifikasi hasil penelitian yang memiliki potensi untuk dikomunikasikan kepada masyarakat, menyusun strategi diseminasi, memproduksi konten berbasis science storytelling, serta memperluas publikasi hasil riset melalui berbagai media digital dan media massa.
Selain itu, SCN akan menginisiasi program One Research One Story. Kebijakan internal ini mendorong setiap hasil penelitian menghasilkan setidaknya satu produk komunikasi publik sebagai bagian dari proses hilirisasi riset.
Dengan pendekatan tersebut, hasil penelitian diharapkan tidak hanya berakhir dalam bentuk artikel jurnal atau forum akademik, tetapi memiliki produk komunikasi yang dapat menjangkau masyarakat dengan bahasa dan format yang lebih mudah dipahami.
“Resona Saintek tidak berhenti pada pelaksanaan kampanye selama masa pendanaan, tetapi menjadi fondasi pengembangan komunikasi sains yang terintegrasi dan berkelanjutan di lingkungan Unisa Yogyakarta,” ujar Sinta.
Menurutnya, keberadaan ekosistem tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi komunikasi sains sebagai bagian dari proses penelitian. Dengan demikian, manfaat inovasi yang dihasilkan kampus dapat semakin luas dirasakan masyarakat.







































Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!