Pos

Penghargaan

Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta kembali meraih penghargaan dibidang  komunikasi strategis. Kepala Biro Humas dan Protokol UNISA Yogyakarta, Sinta Maharani, S.Sos., M.I.Kom, meraih penghargaan INSAN PR INDONESIA 2026padaSubkategori Kepala Biro Humasdalam ajang11th PR INDONESIA Awards 2026.

Penghargaan INSAN PR

Penganugerahan PR INDONESIA Awards 2026 berlangsung pada 13 Februari 2026 di Yogyakarta. Penghargaan ini diraih setelah melalui proses penjurian ketat yang dilaksanakan pada 17–18 Desember 2025.

Dewan juri yang terdiri dari praktisi serta pakar komunikasi nasional menilai kompetensi kepemimpinan, konsistensi, serta strategi komunikasi yang dijalankan institusi dalam membangun reputasi dan menjaga kepercayaan publik. Tahun ini, ajang PR INDONESIA Awards diikuti oleh 534 entri dari berbagai kategori kompetisi, dengan total pemenang yang diumumkan berjumlah 269.

Bagi UNISA Yogyakarta, capaian ini bukan sekadar trofi, melainkan pengakuan atas konsistensi institusi perguruan tinggi dalam menjadikan komunikasi sebagai bagian tak terpisahkan dari tata kelola organisasi.

Sinta Maharani menyampaikan bahwa penghargaan ini menjadi motivasi untuk terus memperkuat peran humas sebagai penghubung strategis antara institusi dan publik.

“Penghargaan ini saya persembahkan untuk UNISA Yogyakarta dan seluruh tim yang selama ini bekerja bersama dalam menjaga kepercayaan publik. Bagi kami, komunikasi bukan sekadar publikasi, tetapi bagian dari tata kelola, pelayanan, dan tanggung jawab institusi kepada masyarakat,” ungkap Sinta.

Ia menambahkan, keberhasilan tersebut juga mencerminkan komitmen UNISA Yogyakarta untuk menghadirkan komunikasi yang adaptif, akurat, dan berdampak.

“Di tengah dinamika informasi yang begitu cepat, humas perguruan tinggi dituntut untuk hadir bukan hanya sebagai penyampai kabar baik, tetapi juga sebagai pengelola reputasi, pendengar publik, dan penguat nilai institusi. Semoga capaian ini menjadi semangat untuk terus bertumbuh dan memberi manfaat,”tambahnya.

Melalui penghargaan ini, UNISA Yogyakarta menegaskan komitmennya dalam membangun komunikasi yang profesional, terpercaya, serta selaras dengan visi kampus sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul dan berkemajuan.

ekonomi

Kebijakan dan program pemerintah MBG, selayaknya rutin mendapatkan monitoring dan evaluasi berkala agar esensi dan tujuan dari kebijakan tersebut dapat tercapai maksimal. Tak terkecuali dalam konteks program Makan Bergizi Gratis (MBG), monitoring dan evaluasi berkala harus dilaksanakan agar dapat memaksimalkan tujuan program tersebut. Pembahasan yang menarik akhir-akhir ini adalah terkait dengan rencana pelaksanaan program MBG selama bulan Ramadan. Rencana ini mendapatkan respon beragam dari beberapa pihak, tentu ada yang setuju dan tidak setuju. Pembahasan menjadi menarik karena seperti kita ketahui bersama bahwa selama bulan Ramadan, umat muslim yang berpuasa memiliki pola makan yang unik dan berbeda. Sahur saat sebelum waktu subuh, berpuasa selama satu hari penuh, dan dilanjutkan dengan berbuka puasa saat waktu maghrib tiba. Pola konsumsi makan yang berubah salam bulan tersebut tentu menimbulkan pertanyaan, apakah pelaksanaan MBG selama bulan Ramadan masih relevan ? mengingat terdapat perbedaan waktu dan pola konsumsi. Apabila tidak dikalkulasi dengan baik, dikhawatirkan program MBG selama Ramadan menjadi tidak optimal dan dampak penyerapan anggaran yang tidak tepat sasaran.

Jika merujuk pada niat tujuan awal program MBG adalah upaya meningkatkan dan menjamin asupan gizi masyarakat (anak dan kelompok rentan) terpenuhi dengan baik. Secara teknis kemudian diwujudkan dengan pemberian menu makanan yang standar gizinya sudah diatur oleh masing-masing Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Namun pelaksanaan program MBG selama bulan Ramadan tentu berpotensi menghadapi tantangan yang cukup fundamental. Relevansi distribusi akan lebih maksimal apabila menu matang yang disajikan, dikirimkan saat menjelang waktu sahur atau berbuka puasa. Hal tersebut secara teknis memungkinkan, namun akan memberikan dampak signifikan terhadap jaminan kualitas makanan, penyediaan logistik, dan anggaran yang meningkat. Hal ini tentu semakin membebani anggaran harian / bulanan pelaksanaan MBG (inefisiensi anggaran). Pun sebaliknya, jika diganti dengan menu kering kemasan yang dianggap lebih tahan lama dikhawatirkan justru esensi pemenuhan gizi yang tidak maksimal dan tidak tepat sasaran. Kita ketahui bersama, pemenuhan gizi yang baik dan maksimal akan lebih tepat terwujud melalui bahan realfood yang segar dan dimasak sesuai waktu konsumsi penerima MBG.

Masyarakat Indonesia memiliki budaya dan tradisi yang kuat selama bulan Ramadan. Buka puasa bersama, berbagi takjil, dan bantuan bahan/makanan kepada berbagai kelompok masyarakat sudah menjadi konstruksi sosial yang mengakar kuat. Baik melalui masjid, organisasi Masyarakat, maupun swadaya. Kegiatan ini rutin dilakukan selama bulan Ramdan dan relatif cepat dan tepat sasaran. Aktivasi program MBG selama Ramadan justru memunculkan kekhawatiran menciptakan program yang tumpah tindih. Oleh karena itu, realokasi anggaran dan program MBG selama Ramadan harapannya tidak dimaknai sebagai uapaya pengurangan perlindungan sosial bagi anak dan kelompok rentan, melainkan upaya rasionalisasi kebijakan demi menciptakan efektivitas dan efisiensi anggaran serta tetap memberikan ruang bagi mekanisme penyediaan bantuan informal dari masyarakat yang sudah mengakar kuat selama bulan Ramadan.

Relokasi Anggaran MBG untuk Penguatan Struktural selama Ramadan

MBG memiliki tujuan dan manfaat yang tentu dapat dirasakan oleh para penerima maanfaat, namun selama bulan Ramadan masih terdapat urgensi lain menyangkut hajat hidup publik yang juga penting untuk diperhatikan.

Pertama, stabilisasi harga kebutuhan pokok selama Ramadan. Realokasi sementara anggaran MBG dapat digunakan untuk subsidi harga, operasi pasar, dan penguatan distribusi bahan pokok terutama di daerah yang rawan terjadi inflasi. Intervensi menggunakan anggaran tersebut diharapkan dapat menjaga bahkan meningkatkan daya beli Masyarakat selama bulan Ramadan dan Idul Fitri. Stabilitas harga kebutuhan pokok juga diharapkan dapat berperan dalam upaya menjaga stabilitas ekonomi negara selama periode puncak konsumsi masyarakat.

Kedua, penguatan jaminan kesehatan melalui skema Bantuan Premi Iuran (BPI) BPJS Kesehatan. Setelah kebijakan penonaktifkan beberapa waktu lalu, realokasi anggaran MBG selama bulan Ramadan dapat kembali digunakan untuk hal urgen di bidang Kesehatan. Dengan dukungan anggaran yang lebih kuat, pemerintah dapat memastikan perlindungan finansial dan kesehatan masyarakat, menciptakan stabilitas sosial, dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Dampak dari kebijakan ini dirasa jauh melampaui bantuan lain yang bersifat sementara.

Ketiga, yang tidak kalah pentingnya adalah realokasi anggaran dapat dimanfaatkan untuk persiapan dan penguatan infrastruktur mudik 2026. Kondisi jalan arteri, jalan tol, Pelabuhan, bandara, stasiun dll wajib dalam kondisi yang prima saat arus mudik berlangsung. Penciptaan kondisi yang prima tersebut tentu membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Realokasi anggaran MBG ke perbaikan dan peningkatan kualitas infrastruktur mudik merupakan investasai yang manfaatnya akan dirasakan oleh ratusan juta Masyarakat Indonesia. Infrastruktur yang baik juga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi ikutan yang tentu bermanfaat untuk ekonomi negara.

Jika usulan tersebut dirasa rasional, maka realokasi angaran sepatutnya tetap mengedepankan asas transparansi dan akuntabilitas. Pemerintah tetap harus memliki mekanisme pelaporan yang jelas, pemisahan pos anggaran yang valid, dan indikator kinerja yang terukur. Selanjutnya, jika usulan tersebut dinilai rasional realokasi program MBG juga tetap membutuhkan analisis mitigasi sosial yang tepat. Anak dan kelompok rentan yang tidak terjangkau tradisi berbagi saat Ramadan atau yang belum memiliki akses kesehatan yang memadai wajib didata diidentifikasi secara valid. Pemberian bantuan tunai berkolaborasi dengan Lembaga Zakat terpercaya dapat menjadi solusi jangka pendek sebelum nantinya program MBG dimulai kembali setelah Ramadan. Tidak terkecuali juga para pelaksana teknis MBG di level SPPG, mitigasi kebutuhan dan pemenuhan hak juga harus diatur dan dipastikan ketersediaannya agar kesejahteraan tetap terjaga.

Upaya rasionalitas realokasi program MBG selama Ramadan merupakan usul, saran, aspirasi agar seluruh elemen masyarakat mendapatkan manfaat maksimal dari setiap anggaran negara yang dibelanjakan. Saran tersebut bukan untuk menghapus bantuan sosial, melainkan upaya optimalisasi fiscal berbasis konteks dan urgensi. Dengan menentukan skala prioritas dan timbang-timbang cakupan manfaat yang lebih luas, opsi tersebut dapat diambil sebagai bentuk kehadiran negara untuk seluruh elemen Masyarakat di Indonesia.

Oleh : Gerry Katon Mahendra, S.IP., M.I.P. – Dosen Administrasi Publik UNISA Yogyakarta

Ramadhan 1447 H

Aroma bulan suci Ramadhan 1447 H mulai tercium. Tak ingin melewatkan momen emas ini begitu saja, Universitas `Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menggelar kegiatan bertajuk Kajian Jelang Ramadhan di Masjid Walidah Dahlan, Kamis (12/02/2026).

Kajian Ramadhan 1447 H

Mengusung tema besar “Ramadhan Sebagai Ruang Transformatif”, acara ini menjadi ajang isi ulang energi rohani bagi seluruh civitas akademika sebelum memasuki bulan puasa. Ratusan karyawan UNISA tampak memadati masjid kampus, menyimak tausiyah dengan khidmat.

Rektor UNISA Yogyakarta, Dr. Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat, dalam sambutannya menekankan bahwa persiapan fisik saja tidak cukup. Kesiapan mental dan spiritual justru menjadi kunci agar ibadah puasa berdampak nyata pada perubahan perilaku.

“Kita mengikuti kajian ini agar semakin siap memasuki bulan suci. Niatnya harus tulus, tekadnya harus kuat. Ramadhan besok harus jadi titik balik untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya,” tutur Warsiti penuh semangat.

Kajian terasa makin istimewa dengan kehadiran narasumber karismatik, Dr. K.H. Tafsir, M.Ag, yang juga Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah.

Dalam paparannya, Kiai Tafsir tidak hanya bicara soal pahala. Beliau mengupas tuntas sisi ilmiah dan syari’ah tentang bagaimana Muhammadiyah menentukan awal Ramadhan menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal. Penjelasan ini memberikan pencerahan bagi jamaah mengenai kepastian waktu ibadah.

Lebih dalam lagi, Tafsir mengajak jamaah merenungi makna puasa sebagai madrasah ruhani. “Puasa itu menahan, dan dari menahan itulah lahir transformasi diri menuju kesalehan,” pesannya.

Kegiatan ini ditutup dengan doa bersama, menandai kesiapan keluarga besar UNISA Yogyakarta menyambut Ramadhan 1447 H dengan ilmu dan iman yang kokoh.

`aisyiyah

Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta menggelar agenda Silaturahmi dengan tajuk Hari Ber’Aisyiyah bersama Badan Pembina Harian (BPH) Unisa Yogyakarta di Masjid Walidah Dahlan, Jumat (13/2/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penguatan nilai ideologis Muhammadiyah-‘Aisyiyah sekaligus refleksi peran sivitas akademika dalam memajukan kampus.

Ketua BPH Unisa Yogyakarta, Siti Noordjannah, menegaskan bahwa Hari Ber’Aisyiyah dimaknai sebagai upaya terus-menerus memperkuat dakwah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah melalui kiprah di Unisa Yogyakarta, siapa pun dan di mana pun berada.

Hari ber `Aisyiyah

“Hari Ber’Aisyiyah ingin terus memaknai kehidupan kita dalam ber-Unisa, dalam rangka menguatkan dakwah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Kita tidak hanya hadir, tetapi juga menapaki dan membuat sejarah yang kelak bisa ditengok dan dibaca kader serta masyarakat, hari ini maupun masa depan,” ujarnya.

Ia menambahkan, kontribusi setiap individu di Unisa harus dirajut menjadi kekuatan kolektif. “Kontribusi masing-masing harus dijahit dengan nilai-nilai ideologis Muhammadiyah yang berjuang untuk Islam rahmatan lil ‘alamin. Kalau tidak dirawat dan dijahit dengan baik,” tegasnya.

Menurut Noordjannah, di Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah tidak dikenal istilah pensiun dalam pengabdian. Ia juga mengajak seluruh pegawai untuk tidak menyerahkan masa depan Unisa hanya pada tokoh-tokoh masa lalu, tetapi bersama-sama memikirkan langkah ke depan. “Ke depan seperti apa dan sekarang harus melakukan apa, itu menjadi tanggung jawab kita semua. Harapannya, kontribusi Unisa Jogja bisa memancar ke seantero Indonesia,” katanya.

Silaturahmi ini juga menjadi bagian dari persiapan menyambut Ramadan. Momentum tersebut diharapkan menjadi hari meneguhkan komitmen bersama untuk memperkuat amal jariyah dan meningkatkan kualitas institusi.

Rektor Unisa Yogyakarta, Warsiti, dalam sambutannya menyampaikan bahwa silaturahmi bukan sekadar pertemuan formal, melainkan sarana memperpanjang umur dan memperluas rezeki. “Mari kita merasakan bekerja di Unisa bukan sebagai beban, tetapi sebagai makna. Kita bergembira dan berkhidmat di Unisa Jogja, tanpa melupakan tujuan besar yang kita emban,” ujarnya.

Warsiti mengingatkan bahwa tantangan ke depan tidak akan semakin ringan. Karena itu, diperlukan kebersamaan dan ikhtiar kolektif untuk menjaga dan menguatkan Unisa sebagai perguruan tinggi berbasis nilai Islam berkemajuan.

“Ke depan tantangan akan semakin kompleks. Namun dengan kebersamaan dan saling menguatkan, kita bisa menjaga Unisa. Tugas kita juga memastikan bahwa aktivitas dan tanggung jawab tidak mengurangi kualitas ibadah kita,” tambahnya.

Dalam silaturahmi ini Dekan Fakultas Kedokteran Unisa Yogyakarta, Joko Murdiyanto, juga berbagi pengalamannya selama mengabdi di Unisa Yogyakarta. Ia menyampaikan bahwa cita-cita Unisa tidak berhenti pada capaian saat ini. Ia mendorong seluruh sivitas akademika untuk mengantarkan Unisa menjadi perguruan tinggi yang tidak hanya diakui di tingkat nasional, tetapi juga internasional.

“Hidup kita tidak hanya sampai di sini. Kita harus semaksimal mungkin mengantarkan Unisa menjadi perguruan tinggi yang unggul, dengan layanan yang responsif dan berkualitas sebagai tolok ukur,” ujarnya.

bidan

Perguruan tinggi tidak boleh menjadi menara gading. Semangat inilah yang dibuktikan oleh mahasiswa Program Studi Profesi Bidan Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta. Selama satu bulan penuh, mulai 5 Januari hingga 7 Februari 2026, mereka terjun langsung ke tengah masyarakat Padukuhan Karang Tengah, Nogotirto, Gamping, Sleman.

Mahasiswa Bidan

Melalui program Praktik Kebidanan Komunitas, para calon bidan profesional ini melakukan penelitian membenahi kualitas kesehatan warga. Tak tanggung-tanggung, mereka menyasar seluruh siklus kehidupan, mulai dari bayi hingga lansia.

Koordinator kegiatan, Ellyda Rizki Wijhati, S.ST.,M.Keb., mengungkapkan bahwa mahasiswa mengawali kegiatan dengan mendata 609 Kepala Keluarga (KK). Dari data tersebut, dipilih 140 KK untuk mendapatkan pendampingan intensif one-on-one.

“Fokus kami menyeluruh. Untuk bayi dan balita, mahasiswa melakukan skrining tumbuh kembang menggunakan KPSP kepada 99 anak. Hasilnya menggembirakan, 100 persen tumbuh kembang mereka sesuai usia,” ujar Ellyda.

Selain balita, mahasiswa juga memantau ketat ibu hamil risiko tinggi. Tiga bumil yang mengalami Kekurangan Energi Kronik (KEK) dan risiko perdarahan mendapatkan intervensi khusus agar persalinan nanti berjalan aman.

Salah satu terobosan penting dalam praktik kali ini adalah edukasi kesehatan reproduksi. Mahasiswa berhasil mengajak 36 Pasangan Usia Subur (PUS) untuk melakukan pemeriksaan HPV DNA di Puskesmas Gamping II. Langkah ini krusial sebagai deteksi dini kanker serviks yang menjadi pembunuh nomor satu wanita di Indonesia.

Tak hanya orang dewasa, 68 remaja putri juga dilatih melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) untuk mencegah kanker payudara, serta edukasi mengenai nyeri haid (dismenore).

Di sektor penyakit tidak menular, mahasiswa menggelar cek kesehatan gratis yang diikuti antusias oleh warga. Sebanyak 88,2 persen dari 229 warga yang dikaji berhasil diskrining terkait risiko hipertensi dan diabetes melitus.

Kegiatan yang didukung penuh oleh Puskesmas Gamping II ini membuktikan bahwa lulusan UNISA Yogyakarta tidak hanya jago kandang di klinik, tapi juga tangguh di lapangan. Mereka mampu berbaur, mulai dari urusan medis hingga aktif di kegiatan pengajian warga, menegaskan profil lulusan yang kompeten dan berjiwa sosial.