Atlet perempuan

Dukung Performa Atlet Perempuan, Tiga Prodi UNISA Yogyakarta Gelar Studium Generale “Women in Sport Science”

Guna merespons kebutuhan spesifik atlet perempuan dalam dunia olahraga modern, tiga program studi (Prodi) di Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta berkolaborasi menggelar studium generale bertajuk “Women in Sport Science: Kolaborasi Profesi Kesehatan untuk Performa Atlet Perempuan”. Acara lintas disiplin ini dilangsungkan di Hall Baroroh Baried, pada Rabu (20/05/2026).

Atlet Perempuan

Kolaborasi strategis ini diinisiasi oleh Prodi S1 Gizi, S1 Fisioterapi, dan S1 Kedokteran UNISA Yogyakarta. Pendekatan multidisiplin dalam sport science dinilai kian krusial, mengingat atlet perempuan memiliki karakteristik fisiologis, hormonal, dan psikososial yang berbeda dari atlet laki-laki. Oleh karena itu, pembinaan performa menuntut pendekatan yang lebih spesifik dan komprehensif. Menariknya, inisiatif akademik ini juga selaras dengan Asta Cita Pemerintah Republik Indonesia poin ke-4, yakni penguatan pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, berdaya saing, dan berkarakter.

Untuk membedah isu tersebut dari berbagai kepakaran, acara ini menghadirkan tiga narasumber kompeten: Dr. Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih, S.Gz., RD., MPH. (Ketua Indonesia Sport Nutritionist Association/ISNA), Dr. Lailatuz Zaidah, M.Or. (Ketua Prodi Magister Fisioterapi UNISA Yogyakarta), serta dr. Reza Setyono Ashari, M.Biomed. (Dosen S1 Kedokteran UNISA Yogyakarta).

Sekretaris Prodi Gizi UNISA Yogyakarta, Dittasari Putriana, S.Gz., M.Gz., dalam sambutannya menegaskan bahwa pemahaman lintas profesi merupakan kunci keberhasilan pembinaan atlet.

“Dengan adanya studium generale ini, kami berharap mahasiswa memperoleh pemahaman komprehensif terkait gizi, fisiologi, dan fisioterapi. Mahasiswa harus mampu memahami pentingnya kolaborasi lintas profesi kesehatan dalam mendukung performa sekaligus kesehatan atlet perempuan,” ujar Dita.

Acara ini mendapat sambutan antusias dan dihadiri oleh total 271 peserta, yang terdiri dari 121 mahasiswa semester 6 Prodi S1 Gizi, 100 mahasiswa semester 6 Prodi S1 Fisioterapi, dan 50 mahasiswa Prodi S1 Kedokteran UNISA Yogyakarta.

Mahasiswa internasional

Mahasiswa Internasional Asal India Sebut UNISA Yogyakarta Jadi Rumah Kedua

Suasana bangga mewarnai pelaksanaan Sumpah Profesi Ners, Bidan, Fisioterapis, Tenaga Teknologi Laboratorium Medik, dan Radiografer Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta yang digelar di Convention Hall Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta, Kamis (21/5/2026).

Dalam kegiatan tersebut, perhatian peserta tertuju pada sambutan perwakilan lulusan profesi Ners yang disampaikan Muhammad Arman, mahasiswa internasional asal India. Di hadapan pimpinan universitas, dosen, organisasi profesi, orang tua, dan para lulusan, Arman menyampaikan rasa bangga dan apresiasinya terhadap pengalaman belajar di UNISA Yogyakarta.

Mahasiswa Internasional

Arman mengungkapkan bahwa dirinya datang ke Indonesia dengan membawa mimpi besar dan harapan keluarga untuk menjadi tenaga kesehatan profesional. Menurutnya, perjalanan pendidikan di UNISA Yogyakarta menjadi pengalaman yang sangat berkesan karena ia merasakan suasana kampus yang hangat dan penuh kekeluargaan.

“Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta bukan hanya tempat menuntut ilmu, tetapi juga tempat yang menghadirkan rasa nyaman, rasa diterima, dan rasa kekeluargaan,” ujar Arman dalam sambutannya.

Ia menilai lingkungan UNISA Yogyakarta sangat terbuka bagi mahasiswa internasional. Di tengah perbedaan bahasa, budaya, agama, suku, dan negara, ia mengaku tidak pernah merasa dibedakan. Justru, ia merasakan kepedulian dan dukungan besar dari lingkungan kampus.

Menurut Arman, pengalaman belajar di UNISA Yogyakarta tidak hanya membentuk kemampuan akademik dan keterampilan klinik, tetapi juga mengajarkan nilai empati, kemanusiaan, serta jiwa pelayanan sebagai tenaga kesehatan.

“Kami belajar bahwa pasien bukan sekadar nama di catatan medis. Pasien adalah manusia yang membutuhkan perhatian, penguatan, dan harapan,” katanya.

Ia juga menceritakan berbagai tantangan yang dihadapi selama menjalani pendidikan profesi, mulai dari jadwal praktik yang padat, tugas akademik, hingga ujian yang menguji ketahanan mental. Namun, pengalaman tersebut justru membentuk mahasiswa menjadi lebih kuat dan siap menghadapi dunia kerja nyata.

Pada kesempatan itu, Arman turut menyampaikan rasa terima kasih kepada dosen, pembimbing klinik, tenaga kependidikan, dan orang tua yang telah mendukung perjalanan pendidikan para mahasiswa.

“Kami mengucapkan ‘Dhanyavaad’ dan ‘Aap sab ka bahut bahut shukriya’,  terima kasih yang sebesar-besarnya atas ilmu, arahan, motivasi, dan doa yang selalu diberikan kepada kami,” ungkapnya.

Arman juga mengingatkan bahwa sumpah profesi yang diucapkan bukan sekadar rangkaian kata, melainkan janji moral yang akan melekat sepanjang hidup sebagai tenaga kesehatan.

“Kehadiran tenaga kesehatan bukan hanya sebagai petugas medis, tetapi juga sebagai manusia yang membawa ketenangan,” tuturnya.

Di akhir sambutannya, Arman berharap UNISA Yogyakarta terus berkembang menjadi institusi pendidikan yang melahirkan tenaga kesehatan profesional, berakhlak, dan mampu memberi manfaat bagi masyarakat dunia.

Sumpah profesi

188 Lulusan Tenaga Kesehatan UNISA Yogyakarta Ikuti Sumpah Profesi, Siap Mengabdi dengan Etika dan Profesionalisme

Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menggelar Sumpah Profesi bagi lulusan Ners, Bidan, Fisioterapis, Tenaga Teknologi Laboratorium Medik, dan Radiografer di Convention Hall Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta, Kamis (21/5/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi 188 lulusan tenaga kesehatan yang siap memasuki dunia profesional dan mengabdikan diri bagi masyarakat.

Dalam laporan pendidikan yang disampaikan Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UNISA Yogyakarta, Dr. Dewi Rokhanawati, S.Si.T., MPH., disebutkan bahwa peserta sumpah profesi terdiri dari 83 lulusan Profesi Ners, 71 lulusan Profesi Bidan, 28 lulusan Fisioterapis, 5 lulusan D4 Teknologi Laboratorium Medik, dan 1 lulusan D3 Radiologi.  Sebanyak 177 lulusan atau 94 persen di antaranya meraih predikat pujian. Selain itu, capaian rata-rata Uji Kompetensi Nasional (UKOMNAS) mencapai 92,89 persen.

Sumpah Profesi

Dr. Dewi Rokhanawati, S.Si.T., MPH., menyampaikan bahwa sumpah profesi bukan sekadar seremoni akademik, tetapi tonggak penting perjalanan lulusan sebagai tenaga kesehatan profesional. Ia menegaskan bahwa para lulusan harus siap menghadapi perubahan dunia kesehatan yang bergerak sangat cepat, mulai dari transformasi digital, artificial intelligence (AI), telemedicine, hingga pelayanan kesehatan berbasis data.

“Saat ini masyarakat tidak hanya membutuhkan tenaga kesehatan yang pintar, tetapi juga tenaga kesehatan yang berintegritas, mampu bekerja dalam tim interprofesional, menjunjung etika profesi, memiliki kemampuan komunikasi yang baik serta empati yang tinggi,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa lulusan UNISA Yogyakarta diharapkan mampu menjadi agen perubahan di tengah masyarakat melalui dedikasi dan pengabdian di dunia kesehatan. Selain itu, UNISA Yogyakarta terus berkomitmen mengembangkan kualitas pendidikan dengan membuka program magister hingga pengembangan program doktoral dan profesi baru di bidang kesehatan.

Sementara itu, Rektor UNISA Yogyakarta, Dr. Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat., menyampaikan rasa syukur dan bangga atas keberhasilan para lulusan menyelesaikan pendidikan profesi. Dalam sambutannya, Rektor menekankan bahwa dunia kesehatan saat ini membutuhkan tenaga kesehatan yang tidak hanya kompeten, tetapi juga adaptif, tangguh, serta mampu terus belajar mengikuti perkembangan zaman.

“Tenaga kesehatan yang mampu berkolaborasi, berkomunikasi dengan empati, berpikir kritis, dan mampu bekerja dalam tekanan dengan tetap menjaga profesionalisme akan menentukan seberapa jauh dapat bertahan dan bertumbuh,” ujarnya.

Rektor juga mendorong para lulusan untuk berani mengambil peluang kerja di tingkat internasional. Menurutnya, kebutuhan tenaga kesehatan di berbagai negara terus meningkat, sehingga menjadi kesempatan besar bagi lulusan UNISA Yogyakarta untuk berkiprah di dunia global melalui fasilitas UNISA Abroad Career Empowerment (U-ACE).

“Ke mana pun langkah kalian pergi, tetap jaga amanah, martabat, dan almamater tercinta,” pesannya kepada para lulusan.

Pada kesempatan tersebut, Sekretaris DPW PPNI DIY, Sri Rejeki Arum Wahyuni, SKM., MM., menegaskan bahwa sumpah profesi merupakan janji penting yang diucapkan kepada Tuhan dan negara. Ia juga mengingatkan bahwa setiap tenaga kesehatan yang akan praktik wajib memiliki Surat Tanda Registrasi (STR).

“Pegang teguh kode etik profesi. Jangan hanya menjadi tenaga kesehatan yang terampil, tetapi juga beretika,” ujarnya.

Ia turut mendorong seluruh lulusan untuk aktif bergabung dengan organisasi profesi di mana pun nantinya bertugas sebagai bentuk penguatan profesionalisme dan jejaring pengembangan karier.

Suasana haru juga terasa saat sambutan perwakilan peserta sumpah profesi disampaikan oleh mahasiswa internasional asal India, Muhammad Arman. Ia mengungkapkan apresiasinya terhadap UNISA Yogyakarta yang dinilai tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga rumah kedua yang menghadirkan rasa nyaman dan kekeluargaan.

“Di tengah perbedaan bahasa, budaya, agama, suku, dan negara, kami tidak pernah merasa dibedakan. Kami justru merasakan kepedulian, penghormatan, dan dukungan yang begitu besar dari lingkungan kampus,” ungkapnya.

Menurutnya, pengalaman belajar di UNISA Yogyakarta tidak hanya membentuk kemampuan akademik dan keterampilan klinik, tetapi juga menanamkan nilai empati, kemanusiaan, dan pelayanan kepada pasien. Ia menyebut UNISA Yogyakarta sebagai kampus yang membuka ruang kebermanfaatan secara global dan mengajarkan nilai kemanusiaan untuk seluruh semesta.

Kegiatan sumpah profesi ditutup dengan prosesi pengucapan sumpah yang dipandu rohaniwan serta doa bersama sebagai simbol dimulainya pengabdian para lulusan sebagai tenaga kesehatan profesional yang siap memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.

Milad 109 `aisyiyah

Milad 109 ‘Aisyiyah Perkuat Dakwah Kemanusiaan, Launching 116 Posbakum Gratis dan TK ABA Semesta

Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah secara resmi menggelar resepsi peringatan Milad 109 `Aisyiyah di Convention Hall Masjid Walidah Dahlan Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, pada Selasa (19/5/2026). Perhelatan akbar ini menjadi tonggak sejarah penting bagi organisasi perempuan Muhammadiyah tersebut dalam memperluas kiprahnya di tengah masyarakat.

Milad 109 `Aisyiyah

Mengusung tema besar “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian”, acara ini tidak sekadar menjadi perayaan seremonial. PP Aisyiyah turut melakukan aksi nyata dengan melaunching kembali Pos Bantuan Hukum (Posbankum) sebanyak 116.

“InsyaAllah akan kita kukuhkan kembali, kita launching kembali sebagai bentuk layanan kemanusiaan Pimpinan Pusat Aisyiyah kepada perempuan-perempuan yang mempunyai masalah hukum. Melalui Posbakum yang ada tanpa dipungut biaya sedikit pun,” ujar Ketua Umum PP ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah.

Selain itu, PP Aisyiyah juga melakukan soft launching TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) Semesta. Salmah menyebut hadirnya TK ABA Semesta merupakan kado dari Unisa Yogyakarta. “Terima kasih sebesar-besarnya kepada Unisa Yogyakarta yang telah banyak berkhidmat kepada Pimpinan Pusat Aisyiyah,” ucap Salmah.

Salmah juga menegaskan bahwa milad kali ini adalah momentum refleksi sekaligus peneguhan komitmen. Menurutnya, tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian” secara gamblang mencerminkan arah gerakan ‘Aisyiyah yang sejak awal selalu menjadikan nilai kemanusiaan dan perdamaian sebagai jantung dari setiap dakwahnya.

“Sejak berdirinya Aisyiyah telah menunjukkan kiprah signifikan dalam bidang sosial, kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan  perempuan. Aisyiyah tidak  hanya  menjadi  pelopor gerakan  sosial  berbasis  agama,  tetapi  juga  menjadi  wadah  konsolidasi  sosial di tengah masyarakat.  Sampai saat ini Aisyiyah konsisten dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan kesejahteraan perempuan serta anak-anak melalui pengelolaan lembaga pendidikan, kesehatan, sosial ekonomi dan media cetak maupun online,” kata Salmah.

Apresiasi mendalam turut disampaikan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir. Dalam pidatonya, ia menyebut usia 109 tahun adalah bukti kematangan sebuah organisasi. “Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan tahniah (ucapan selamat). Kami yakin dengan usia satu abad lebih sembilan tahun ini, ‘Aisyiyah akan semakin unggul, berkemajuan, dan terus memperkuat kontribusinya bagi bangsa,” ujar Haedar.

Menurut Haedar, sejak awal berdiri ‘Aisyiyah hadir untuk melawan dua hambatan besar bagi perempuan, yakni tafsir keagamaan konservatif dan budaya yang menempatkan perempuan hanya di ranah domestik.

“Hari ini miladnya ‘Aisyiyah ke-109 sebagai organisasi perempuan Islam modern pertama di Indonesia yang mendobrak dua hal. Pertama, pandangan agama yang konservatif yang menghalangi perempuan untuk berada dan berperan di ruang publik. Kedua, budaya yang tidak menghendaki perempuan berperan secara publik dan lebih ke domestik,” ujar Haedar.

Ia mengatakan, gerakan ‘Aisyiyah terus berkembang menjadi gerakan besar yang tidak hanya bergerak pada tataran pemikiran, tetapi juga aksi nyata di masyarakat. Salah satu tonggak pentingnya adalah pendirian Froebel yang menjadi embrio taman kanak-kanak.

“Aisyiyah bukan hanya gerakan pemikiran, tapi gerakan yang membumi dengan bikin Froebel sebagai embrio taman kanak-kanak. ‘Aisyiyah adalah perintis taman kanak-kanak di organisasi Islam, sehingga lahirlah TK pelopor,” katanya.

Kini, lanjut Haedar, ‘Aisyiyah juga telah memiliki berbagai amal usaha pendidikan hingga perguruan tinggi. Dalam Milad ke-109 ini, ‘Aisyiyah mengusung tema memperkokoh peran dakwah kemanusiaan untuk mewujudkan perdamaian.

Haedar menegaskan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah akan terus konsisten menjalankan program-program kemanusiaan di berbagai bidang, mulai dari kebencanaan, sosial, lingkungan, hingga advokasi hukum dan tanggap darurat internasional. “Pesan kemanusiaan dan kedamaian akan selalu lekat dengan ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah,” ucapnya.

Di sisi lain, Haedar menyoroti situasi global yang dinilainya semakin memprihatinkan karena perang masih menjadi pilihan sejumlah negara besar. “Di level global kita menghadapi tantangan besar ketika perang menjadi pilihan oleh sebagian negara, bahkan negara adidaya. Itu menunjukkan kita sudah tidak lagi berada dalam falsafah hidup modern yang menjunjung tinggi kemanusiaan,” katanya.

Haedar bahkan menyebut kondisi tersebut sebagai “prahara global” atau global catastrophe karena sulit dihentikan ketika pelakunya merupakan negara-negara yang memiliki dominasi dan hak veto di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Karena itu, ia mengajak seluruh bangsa di dunia untuk terus menyuarakan penghentian perang demi kemanusiaan dan perdamaian global.

Selain fokus pada isu kemanusiaan, Haedar menegaskan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah akan terus mengembangkan program pendidikan strategis dan unggul, termasuk menghadirkan TK ABA Semesta yang diproyeksikan memiliki standar global.

Meski demikian, Muhammadiyah tetap berkomitmen melayani seluruh lapisan masyarakat, termasuk masyarakat menengah ke bawah hingga wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). “Kita tidak ingin menjadi gerakan yang borjuis. Muhammadiyah melayani semua lapisan masyarakat, dari tingkat atas, menengah, sampai ke bawah,” ujarnya.

Menurut Haedar, merawat seluruh lapisan masyarakat menjadi penting untuk menjaga persatuan dan potensi bangsa. “Kita rugi kalau kelas bawah atau rakyat jelata terus berlawanan dengan mereka yang ada di atas. Tapi kita juga menuntut kesadaran mereka yang ada di atas untuk selalu peduli pada mereka yang ada di bawah,” tutupnya.

Rektor Unisa Yogyakarta, Warsiti menilai bahwa substansi tema tahun ini sangat relevan dengan tantangan zaman. Ia berharap spirit milad mampu menggerakkan denyut dakwah hingga ke akar rumput.

“Semoga ‘Aisyiyah semakin kokoh sebagai gerakan perempuan Islam berkemajuan yang terus konsisten menghadirkan manfaat luas bagi masyarakat dan nilai-nilai kemanusiaan,” ungkap Warsiti.

Sekolah rakyat

UNISA Yogyakarta Hadirkan Appreciative Inquiry Coaching Untuk Bangkitkan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Rakyat

Di tengah meningkatnya tantangan krisi motivasi belajar pada kalangan remaja, khususnya anak-anak dari kelompok marjinal, Program Studi S1 Psikologi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta menghadirkan langkah nyata melalui program Appreciative Inquairy Coaching (AIC) di Sekolah Rakyat Menengah Atas 19 Bantul.

Sekolah Rakyat

Kegiatan ini merupakan implementasi Mata Kuliah Psikologi Pendidikan yang digagas oleh Dr.Komarudin,M.Psi.,Psikolog, dengan melibatkan mahasiswa S1 Psikologi UNISA secara langsung dalam pengabdian berbasis ilmu pengetahuan kepada masyarakat. Program tersebut tidak hanya menjadi ruang praktik akademik, namun juga sarana membangun kebermaknaan pendidikan di tengah realitas sosial yang kompleks.

“ilmu psikologi tidak boleh berhenti sebagai diskusi teoritis di ruang kelas. Mahasiswa harus hadir menjadi bagian dari solusi sosial, terutama bagi anak-anak yang membutuhkan dukungan motivasi dan harapan masa depan, “ujarnya.

Program ini mendapat sambutan positif dari pihak Sekolah Rakyat Menengah Atas 19 Bantul. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Puti Alifia Artalani, M.Pd., mengungkapkan bahwa banyak siswa di sekolah rakyat sebenarnya memiliki potensi besar, namun belum sepenuhnya menyadari makna pentind pendidikan bagi masa depan mereka.

“sebagian siswa belajar hanya karena tuntutan keluarga, bukan karena kesadaran pribadi. Motivasi mereka terlihat masih labil; karena itu program AIC dari UNISA menjadi pendekatan relevan untuk membantu mereka menemukan kembali semangat belajarnya,’jelasnya

Pendekatan AIC sendiri dikenal sebagai metode pengembangan diri yang berfokus pada kekuatan dan potensi individu, bukan pada kelemahan dan kekurangan. Melalui tahapan 5 D, Define, Discover, Dream, Design, dan Destiny, siswa diajak mengenali pengalaman positif, membangun impian, hingga merancang masa depan yang ingin mereka capai.

Metode ini memberikan dampak nyata bagi para peserta. Salah satunya dirasakan oleh Fino, siswa peserta coaching yang mengaku pelatihan tersebut membantunya menata ulang pola pikir dana rah hidupnya.

“Saya jadi sadar kalua mimpi besar tidak cukup hanya dipikirkan, saya harus mulai membangun diri, belajar lebih serius, dan mencari pengalaman baru supaya bisa mencapai tujuan yang saya impikan,”ungkapnya.

Namun, pelaksanaan program yang hanya dilakukan sehari ini masih perlu diuji validitas dan dampaknya karena merubah sebuah perilaku belajar itu butuh proses yang tidak singkat. AIC yang berangkat dari filosofi positif education sebagai pemantik siswa untuk menemukan potensi diri, sehingga motivasi belajarnya pun akan ikut meningkat.

Melalui kolaborasi antara dosen dan mahasiswa S1 Psikologi UNISA dengan pihak sekolah, program ini menunjukkan bahwa keterbatasan latar belakang sosial bukan penghalang untuk memiliki mimpi besar dan masa depan yang lebih baik. Pendidikan diposisikan bukan sekedar kewajiban formal, melainkan jalan untuk membangun kemandirian, harga diri, dan kesejahteraan hidup.

Ke depan, program ini diharapkan dapat terus berlanjut sebagai gerakan pengabdian bidang pendidikan berbasis psikologi positif, sekaligus menjadi inspirasi perubahan sosial dapat dimulai dari keberanian melihat potensi di balik keterbatasan.