AKPER KESDAM Bukit Barisan Padang Kunjungi STIKES ‘Aisyiyah

Sebanyak 71 mahasiswa dan dosen Akademi Keperawatan KESDAM I Bukit Barisan Padang    mengunjungi STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta, Senin ( 16/7).

 Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dalam sambutanya, mengatakan bahwa  STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta dalam sejarahnya pernah sebagai Akademi Keperawatan, namun seiring perkembangan jaman berkonversi menjadi STIKES ‘Aisyiyah, di mana didalamnya memiliki empat program studi salah satunya yaitu Ilmu Keperawatan S1.  Selain itu Umu mengucapkan terima kasih atas kepercayaan AKPER KESDAM memilih STIKES ‘Aisyiyah sebagai salah satu tempat rujukan/tempat berbagi/sharing.

Dharmawan Chan,SKM selaku Direktur AKPER KESDAM mengatakan bahwa tujuan dari kunjungan ini adalah untuk melihat beberapa fasilitas di STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta. Harapannya dari kunjungan ini bisa mendapatkan sesuatu yang bermanfaat untuk AKPER KESDAM.

Dalam kunjungan ini, Ketua Prodi Ilmu Keperawatan, Ery Khusnal, MNS, memaparkan sekilas mengenai Keperawatan S1 antara lain mengenai kurikulum, fasilitas, prestasi dan sebagainya.  Selain audiensi, AKPER KESDAM juga mengunjungi beberapa fasilitas antara lain perpustakaan, laboratorium, kelas tutorial dan sebagainya.

Kunjungan Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah Sumsel di STIKES 'Aisyiyah

Dalam rangka ingin mengetahui tentang pengelolaan sistem administrasi, Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Sumatra Selatan   mengunjungi STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta, Kamis ( 12/7).

Wakil Ketua bidang umum keuangan dan kerjasama STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta, Syaifudin, M.Kes mengatakan bahwa  kunjungan ini merupakan bemtuk penghargaan untuk STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta  sebagai tempat berbagi/sharing. lebih lanjut Syaifudin menjelaskan beberapa hal antara lain mengenai sistem administrasi akademik, sistem kuangan dan penggajian pegawai, rekruitmen dosen, sistem penjaminan mutu dan sistem pengontrolan terhadap kinerja pegawai.

Dalam kunjungan ini personil PWA Sumatra selatan merupakan anggota dari Badan Pelaksana Harian (BPH) Akademi Kebidanan Palembang. Ketua BPH Akademi Kebidanan Palembang menjelaskan bahwa Akbid dan Akper Palembang akan melebur menjadi satu dan akan menjadi STIKES. Oleh karena itu ingin mempelajari beberapa hal mengenai administrasi STIKES.

STIKES ‘Aisyiyah Utus Delegasi ke Taiwan dan Jepang

Sebanyak sebelas mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ‘Aisyiyah (STIKES) Yogyakarta mengikuti Complimentary Therapy Workshop  di National Taipei University of Nursing Taiwan R.O.C. Mereka dijadwalkan mengikuti workshop selama 10 hari (29 Juli-8 agustus 2012). Sebelas mahasiswa tersebut terdiri dari mahasiswa keperawatan dan kebidanan.

Ketua STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta, Warsiti,M.Kep.,Sp.Mat  menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan salah satu realisasi kerjasama antara STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta dan National Taipei University of Nursing Health Science (NTUNHS) Taiwan R.O.C yang telah disepakati tahun 2011 lalu.

Mahasiswa  mengikuti workshop ini  tujuannya untuk memperluas wawasan terkait perawatan di negara maju. Beberapa kegiatan yang diikuti antara lain mengikuti perkuliahan/kelas tentang keperawatan, kunjungan ke beberapa sektor kesehatan di Taiwan, culture tour dan final presentation.

Selain mengirim mahasiswa ke Taiwan, STIKES ‘Aisyiyah juga mengutus dua mahasiswa untuk mengikuti summer school di University of Tokushima Japan. Di jepang para mahasiswa mempelajari budaya Jepang (dalam kelas dan visit company) serta diberi kesempatan untuk tinggal (home stay) dengan keluarga di Osaka Jepang.

Warsiti mengharapkan, mahasiswa yang menjadi delegasi ke Taiwan dan Jepang ini mampu menjalin networking dengan mahasiswa dari negara lain. Sehingga dapat bertukar mengenai gambaran, pengalaman dari negara lain baik budaya dan bidang kesehatan.  Selain itu ketika kembali ke STIKES ‘Aisyiyah, mampu memberikan warna positif bagi teman-teman lainnya.

“Sebagai perawat dan bidan tidak hanya melakukan hal-hal yang sifatnya rutinitas saja namun di landasi asuhan keperawatan dengan kemampuan berpikir kritis,” tuturnya menutup pertemuan dengan mahasiswa.

Tenaga Kesehatan Perlu Berkarakter

Dirjen Pendidikan Dasar Kemendikbud, Suyanto, menjelaskan tenaga kesehatan perlu berkarakter dan humanistis yang bisa memanusiakan manuasia dan juga berjiwa profesional.

Menurut Suyanto, karakter tersebut didukung dengan sifat-sifat seperti empati, ramah, bersih, perhatian, simpati, pemaaf, jujur, disiplin, santun, percaya diri, bertaqwa dan melayani dengan hati.

”Tenaga kesehatan yang humanistik dan profesional adalah mereka yang dapat memberikan pelayanan prima dan kepuasan terhadap pasien” kata Suyanto dalam seminar di STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta, Sabtu (14/7).

Seminar ini mengangkat tema “Membangun Networking menuju Pendidikan Tinggi Kesehatan yang Humanistik”.

Suyanto lebih jauh mengatakan karakteristik orang yang profesional itu harus memiliki landasan pengetahuan yang kuat. Mereka juga harus berdasarkan atas kompetensi individual, memiliki sistem seleksi dan sertifikasi.

Ditambahkannya, ciri lain adalah adanya kerjasama dan kompetensi sehat antar sejawat, adanya kesadaran profesional yang tinggi, memiliki kode etik, memiliki sistem sanksi profesi, adanya militansi individual dan memiliki organisasi profesi.

Ketua Panitia Seminar, Mamnuah, menjelaskan seminar ini bertujuan antara lain untuk mendiskusikan strategi membangun networking  untuk menciptakan pendidikan yang humanistik.

Di samping itu, katanya, juga untuk bertukar informasi hasil penelitian dan pengalaman ilmiah. Ada 30 makalah hasil penelitian di bidang kebidanan, keperawatan dan fisioterapi yang dipresentasikan dalam kegiatan ini.

Ketua STIKES ‘Aisyiyah, Warsiti, mengatakan untuk menjadi perguruan tinggi yang unggul, sebuah perguruan tinggi harus memiliki  kelebihan yang tidak dimiliki perguruan tinggi yang lain.

“Selain itu, juga harus saling kompetitif, karena untuk menjadi perguruan tinggi yang unggul tidak lepas dari menjalin kerjasama dalam hal pendidikan, penelitian, dan pengembangan SDM,” tuturnya.

Sedangkan Koordinator Kopertis Wilayah V DI Yogyakarta, Bambang Supriyadi, mengatakan usaha mengembangkan institusi pendidikan tinggi bukan hanya berbicara bagaimana proses pembelajaran di kampus.

Kata dia, usaha ini juga perlu dibarengi dengan membangun networking yang tidak hanya lingkup nasional , melainkan juga internasional. (sumber:Republika)